Laporan : Medi Hestri
Bekaespedia.com, Tempilang, Bangka Barat – Langkah-langkah penuh wibawa itu membuka pagi yang sarat makna. Dua sosok berseragam khas PGRI, berkalung bunga merah-ungu, melangkah tenang di aula SMAN 1 Tempilang. Mereka disambut iringan tepuk tangan, senyum guru-guru yang berbaris rapi, serta gemulai penari tradisional dengan busana kuning keemasan sebuah simbol penghormatan dan kehangatan dari bumi pendidikan Bangka Barat.
Di ruang yang sederhana namun penuh semangat itu, Wakil Bupati Bangka Barat Yusderahnan resmi membuka serangkaian kegiatan peringatan ke-80 HUT PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) 2025, Selasa (11/11/2025). Acara ini diikuti seluruh pengurus cabang PGRI dari enam kecamatan se-Bangka Barat, menjadikan Tempilang sebagai pusat semangat guru tahun ini.
“Guru yang bermutu adalah kunci utama mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2025. Dengan kasih sayang, ketulusan, dan pengabdian, guru menjadi sumber inspirasi dan cahaya ilmu bagi anak bangsa.” ujar Wakil Bupati, Yus Derahman dalam sambutannya.
Upacara pembukaan yang sederhana namun penuh makna itu tak sekadar seremoni. Ia adalah panggung refleksi tentang arti profesi guru di tengah zaman yang bergerak cepat, di antara tuntutan teknologi dan kesabaran mendidik manusia.
Di halaman sekolah, ratusan guru berbaris dalam seragam batik PGRI hitam-putih. Wajah mereka mencerminkan dedikasi tanpa pamrih. Mereka bukan hanya pendidik, melainkan penjaga cahaya di tengah perubahan.
Dari kejauhan, sorotan kamera menangkap momen penuh harmoni: para guru perempuan mengenakan hijab hitam dan rok panjang, berdiri tegak dengan ekspresi khidmat, sementara di sisi lain para penari muda membawakan tarian sambut khas Melayu. Gerak tangan mereka yang anggun menggambarkan filosofi penghormatan terhadap ilmu dan kebijaksanaan.
Tahun ini, PGRI Kecamatan Tempilang menjadi tuan rumah kegiatan akbar yang mempertemukan para guru dari Mentok, Jebus, Parittiga, Kelapa, Simpang Teritip, hingga Tempilang sendiri. Ketua PD PGRI Bangka Barat, Budi Wahana, S.Ag, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang mendukung.
“Terima kasih kepada Pemkab Bangka Barat dan seluruh pengurus cabang. Kegiatan ini bukan sekadar lomba, tapi ruang untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat jiwa kolektif para guru,” ujarnya.
Di antara riuh tepuk tangan dan sorak semangat, bola kaki berpindah tangan sebuah simbol pembuka yang sederhana namun sarat makna. Penyerahan bola dari Ketua PC PGRI Tempilang kepada Wakil Bupati Bangka Barat, lalu diteruskan kepada wasit, menjadi tanda dimulainya kompetisi persahabatan: sepak bola, voli, paduan suara, dan inovasi pembelajaran (Inobel).
Lebih dari 530 guru turut serta, bukan sekadar untuk menang, tetapi untuk menyalakan semangat belajar sepanjang hayat.
Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Era Baru
Di antara warna-warni lomba, tersimpan filosofi pembangunan manusia: bahwa pendidikan bukan sekadar soal pengetahuan, melainkan tentang menumbuhkan karakter, cinta, dan kebijaksanaan. Di tengah masyarakat yang kini digempur oleh gawai dan algoritma, guru tetap berdiri sebagai penjaga nurani bangsa.
Wakil Bupati Yusderahman menegaskan pentingnya kolaborasi antara guru dan peserta didik yang berlandaskan kasih dan empati.
“Kita ingin pendidikan Bangka Barat tumbuh dari semangat hati, bukan sekadar angka di atas kertas,” katanya.
Adegan para penari muda berpakaian kuning emas diiringi alunan rebana dan keyboard, menjadi metafora paling indah dari acara ini. Gerakan mereka adalah doa bahwa ilmu pengetahuan dan kebudayaan sejatinya lahir dari akar yang sama: cinta kepada kehidupan.
Kehadiran mereka di depan para guru menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal mengajar di ruang kelas, tapi juga menumbuhkan estetika, empati, dan rasa hormat terhadap tradisi.
Ketika langit siang mulai cerah, halaman SMAN 1 Tempilang dipenuhi tawa, tepuk tangan, dan semangat kebersamaan. Para guru berbagi kisah, bercanda, dan saling menyemangati dalam suasana penuh kekeluargaan. Di antara mereka, tersimpan cita-cita yang sama: menjadikan Bangka Barat sebagai rumah bagi generasi yang cerdas dan berkarakter.
Dari Tempilang, gema peringatan HUT PGRI ke-80 ini menjadi lebih dari sekadar perayaan, ia adalah sumpah diam-diam para pendidik untuk terus menyalakan lentera ilmu, bahkan ketika dunia mulai redup.
Karena bagi guru, setiap langkah di halaman sekolah adalah doa yang berjalan, setiap murid adalah masa depan yang disemai dengan kasih.












