Oleh : Yanto, M.Pd (Guru, Motivator & Da’wah Indonesia)
Bekaespedia.com,- Di tengah hiruk-pikuk persiapan menyambut momen kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan, seringkali muncul perbincangan hangat tentang tanggal pasti terjadinya Hari Raya Idul Fitri. Beberapa kelompok menetapkannya berdasarkan hasil rukyat hilal, yang lain mengacu pada perhitungan astronomis, dan terkadang juga ada perbedaan dalam interpretasi aturan yang menjadi dasar penetapan tersebut. Namun, perlu kita pahami bersama bahwa meyakini tanggal pasti hari raya bukanlah rukun iman.
Perbedaan dalam menetapkan kapan Idul Fitri jatuh bukanlah hal baru yang muncul di zaman kita sekarang. Bahkan sejak masa para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, fenomena seperti ini sudah pernah terjadi. Para ulama sepanjang zaman telah sepakat bahwa hal ini termasuk dalam kategori masalah furū‘iyyah – yaitu persoalan cabang agama yang berkaitan dengan tata cara dan pelaksanaan ibadah – bukan masalah uṣūluddīn yang menyangkut dasar-dasar keyakinan agama yang tidak dapat dinegosiasikan.
Ayat suci Al-Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan kesatuan umat Islam. Sebuah prinsip yang sangat mendalam tercermin dalam kalimat yang sering kita dengar:
فَلَا يَجْعَلَنَّ خِلَافَنَا سَبَبًا لِلْفُرْقَةِ
“Jangan biarkan perbedaan kita menjadi sebab perpecahan”
Kenyataan menunjukkan bahwa terkadang perbedaan dalam penetapan hari raya justru memicu munculnya sikap fanatik yang tidak seharusnya ada. Beberapa orang bahkan sampai merendahkan pendapat ulama lain yang memiliki pandangan berbeda. Padahal, fanatik hingga merendahkan pendapat sesama ulama adalah hal yang haram, terutama karena ini bukan persoalan pokok agama yang menentukan keimanan seseorang.
Sebaliknya, perbedaan seharusnya menjadi sarana yang memperkuat tali silaturahim dan ukhuwah Islamiyah. Ia harus menjadi media untuk menumbuhkan sikap toleransi yang sejati – bukan hanya menerima perbedaan, tetapi juga menghargainya sebagai bagian dari kekayaan khazanah pemikiran agama kita. Ketika kita mampu melihat perbedaan sebagai anugerah dan bukan sebagai ancaman, maka setiap perbedaan akan menjadi batu loncatan untuk membangun persatuan umat yang lebih kokoh.
Hari raya sejatinya adalah waktu untuk merayakan persaudaraan, bukan menjadi ladang untuk permusuhan atau perebutan kebenaran semata. Di hari yang penuh berkah ini, mari kita fokus pada hal-hal yang mampu menyatukan hati dan pikiran kita semua. Jaga silaturahim dengan saudara-saudara kita, baik yang menetapkan hari raya pada tanggal yang sama maupun berbeda dengan kita. Hargai setiap pandangan yang ada, karena di balik setiap pendapat tersebut adalah usaha sungguh-sungguh untuk menghormati aturan agama yang kita yakini bersama.
Kita harus ingat bahwa kemenangan dan keberkahan Idul Fitri bukan tentang siapa yang benar menurut kita, tetapi tentang siapa yang paling menjaga ukhuwah dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada akhirnya, semua kita memiliki tujuan yang sama: mendapatkan ridha-Nya dan menjalankan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya. Persatuan umat bukanlah impian yang mustahil diraih, tetapi kenyataan yang bisa kita wujudkan jika kita mau meletakkan kesatuan di atas perbedaan yang tidak menyangkut dasar keyakinan.
Mari jadikan setiap Hari Raya sebagai momentum untuk mempererat tali persaudaraan, memperkuat ikatan ukhuwah, dan menunjukkan kepada dunia bahwa umat Islam adalah umat yang penuh kasih sayang, toleran, dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan. Karena persatuan adalah kunci kemajuan dan keberkahan bagi kita semua.
