Heirul Berhak Sekolah

Cerpen Spesial Hari Pendidikan Nasional

Karya: Meilanto

 

“Ibu, Ayah, Heirul mau melanjutkan sekolah,” ujar Heirul lemah saat membuka pembicaraan dengan ibunya saat makan siang di huma. Makan siang di huma terasa nikmat. Pondok kecil di tengah hamparan padi yang menghijau ditambah semilir angin membuat makan siang itu terasa lebih nikmat. Makan bersama walaupun dengan lauk seadanya adalah nikmat terbesar bagi keluarga Heirul. Heirul adalah anak semata wayang. la telah lulus SD beberapa waktu yang lalu. Ia bingung, melanjutkan sekolah atau membantu kedua orang tuanya menggarap sawah. Heirul sadar diri, melanjutkan ke SMP membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi biaya operasional dari rumah ke sekolah.

“Rul, ayah mengerti keadaanmu, Nak. Niat kamu untuk melanjutkan ke SMP sangat besar. Ayah dan Ibumu sudah sepakat akan meminjam uang kepada koperasi desa untuk biaya sekolahmu. Selebihnya nanti akan ayah dan ibu usahakan.”

“Ya Rul. Kamu tidak perlu khawatir, yang penting kamu bisa sekolah. Masalah biaya biar ayah dan ibu yang mengusahakannya.”

“Terima kasih, ayah, ibu. Heirul akan sekolah dan menggapai cita-cita menjadi seorang guru.”

Begitulah Heirul dan anak-anak di kampung. Terbatasnya sarana sekolah di kampung membuat anak-anak hanya bisa lulus SD. Tidak jarang anak-anak di kampung harus putus sekolah dan menjadi buruh di sawah. Heirul tipikal anak pekerja keras. Motivasi yang diberikan oleh bapak ibu guru di kelas telah menyihir dirinya menjadi seorang pemimpi yang mempunyai cita-cita mulia. Ya. la bermimpi menjadi seorang guru yang akan menggantikan guru-guru di kampungnya.

Hari-hari Heirul penuh semangat. Jenjang SMP ia lalui walau harus mengayuh sepeda sejauh 80 Km pergi dan pulang. Hal itu karena SMP baru dibangun di ibukota. Jika rasa lelah menghampirinya, ia teringat dengan kedua orang tuanya yang bekerja keras di sawah. Kedua orang tuanya menjadi motivator bagi Heirul untuk terus mengejar mimpinya.

Heirul menjadi langganan juara kelas dan juara umum di sekolahnya. Oleh karena itu, ia mendapatkan bea siswa dari sekolah. Heirul menjadi teladan bagi siswa lainnya. Keterbatasan bukan halangan untuk berprestasi.

“Heirul, besok ajak orang tuamu datang ke sekolah untuk menghadiri pengumuman kelulusan, ya!” ucap wali kelas saat menyerahkan surat undangan.

“Ya, bu terima kasih” Heirul mencium tangan wali kelas yang selalu memberikan motivasi.

“Kita harus naik apa ke ibukota?” Ayah Heirul bingung. Sarana transportasi hanya ada mobil truk yang mengangkut hasil bumi warga. Truk itu berangkat ke ibukota sebelum subuh.

“Ayah dan Ibu harus datang menghadiri pengumuman kelulusan Heirul. Ini moment yang langka dan ditunggu-tunggu oleh semua siswa.”

“Ya, Rul, Ayah dan Ibu akan datang. Kita numpang mobil truk Pak Kades saja. Tidak apa-apa kita berangkat sebelum subuh, bukannya begitu, Yah?” tanya ibu.

“Betul Rul, ayah dan ibu sudah sepakat untuk hadir walaupun harus naik truk. Ya, hitung-hitungnya juga liburan ke kota. Masak ke sawah terus.” Ayah dan ibu serta Heirul tertawa bahagia. Kehangatan yang tercipta di Tengah keluarga mereka sangat mahal nilainya.

“Tibalah saat yang ditunggu-tunggu, pengumuman juara umum SMP Negeri Maju Bersama.” Suara pembawa acara terdengar membahana. Rangkaian acara pengumuman kelulusan telah berlalu. “Kita mulai juara ketiga atas nama Mutmainah dari kelas 9 A,” tepuk tangan meriah dari warga sekolah membuat suasana pagi itu penuh dengan kegembiraan, Mutmainah dan kedua orang tuanya naik ke panggung.

“Juara kedua, jatuh kepada Valentino dari kelas 9A,” lagi dan lagi tepuk tangan meriah dari warga sekolah. “Dan inilah juara pertama SMP Negeri Maju Bersama atas nama Heirul dari kelas 9B,” tepuk tangan semakin meriah. Ayah dan ibu yang berada di samping Heirul memeluk Heirul. Air mata keharuan menyelimuti Heirul dan kedua orang tuanya.

“Mohon Heirul dan kedua orang tuanya naik ke panggung,” suara pembawa acara menyilakan Heirul dan keduanya orang tuanya ke atas panggung.

Penyerahan hadiah dilakukan oleh Kepala Sekolah. Ada tropi, bingkisan dan beasiswa dari pihak sekolah.

Senyum mengambang dari bibir Heirul dan kedua orang tuanya. Jepretan kamera dari para fotografer membuat suasana semakin meriah. Setelah penyerahan tropi dan hadiah para juara, kepala sekolah memberikan petuah kepada warga sekolah.

“Anak-anakku yang dirahmati Allah SWT, hari ini dan seterusnya kita bisa belajar dari sosok Heirul dan kedua orang tuanya. Kita sama-sama tahu, bahwa Heirul ini setiap hari mengayuh sepeda 80 Km. Ia berangkat dari kampung saat hari masih gelap. Itu dilakukan tanpa mengenal lelah. Saya sering mengecek kehadiran Heirul kepada wali kelasnya. Hampir tidak pernah ia absen. Dan semangat belajarnya menjadi teladan bagi kalian anak-anakku, bahwa keterbatasan sarana bukanlah menjadi halangan untuk tidak berprestasi. Justru itu menjadi pemicu dan pemacu untuk belajar lebuh giat. Itu telah dibuktikan oleh Heirul. Dan hari ini, dibuktikan dengan diraihnya nilai tertinggi. Selamat untuk Heirul dan kedua orang tuanya yang telah mendidik Heirul dengan sungguh luar biasa. Semoga kisah perjalanan Heirul ini bisa menginspirasi dan memotivasi seluruh warga SMP Negeri Maju Bersama dalam mengejar cita-cita. Siapapun berhak untuk sekolah,” tepuk tangan membahana dari warga sekolah sambil berdiri karena mendapatkan suntikan motivasi dan kepala sekolah, Heirul dan keluarganya. (BP/ KM)*

 

Catatan: Cerpen ini telah dibukukan dalam antologi Education for All oleh PT. LAN TULUNGAGUNG, Mei 2024.

Exit mobile version