Impian dari Hutan Gunong Namak

Oleh: Yoelch Chaidir (Penyair dari Tanah Habang)

 

Dari habang gi ke Jogja.

Berbekal impian dan ilmu.

Bermula membaca dengan dieja.

Hidup takkan menjadi semu.

 

Adalah Suhaini Saleh yang masa kecil putra ke 10 dari 11 bersaudara (sampai dengan  usia 7 thn) dihabiskan di Gunong Namak Kecamatan Toboali Bangka Selatan.

Tiap hari nyago kebon dari ‘serangan’ kera sambil lihat kapal-kapal lewat dan pesawat jauh di angkasa sambil mengimpikan naik pesawat.

Sampai lulus SMP, perjalanan terjauh hanya sampai Simpang Kepoh.

Intinya, masa kecil sang profesor dihabiskan di pedalaman dengan keadaan yang masih tergolong primitif dan penuh perjuangan sambung sang profesor dengan nama kecil Bujang dan akrab di panggil MUSO oleh teman temannya ini mengawali perbincangan selepas salat Isya malam itu.

Sambil menikmati berbagai cemilan khas Jogjakarta dan teh hangat manis dan kopi setengah pahit yang dihidangkan sang istri tercinta dari seorang profesor yang tidak banyak di ketahui oleh anak-anak muda zaman now karena memang setelah menamatkan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sang profesor yang dengan pembawaan low profile hijrah dari kota kelahiran beliau di ujung selatan Pulau Bangka. Kami bercengkrama dengan santai di teras rumah beliau di sebuah kawasan yang masih asri di pinggiran kota Jogjakarta.

“Alhamdulillah, pekerjaan sebagai dosen, konsultan, penulis soal dan sebagainya memberi kesempatan saya bepergian ke seluruh ibukota provinsi di Indonesia, kecuali Ambon dan semuanya naik pesawat. IMPIAN YANG MENJADI KENYATAAN,” lanjut profesor Suhaini Saleh adek kandung dari Aswat Saleh (Almarhum)

Yang notabene lebih banyak dikenal di Bangka Selatan dikarenakan kakak beliau ini adalah seorang guru yang telah banyak menciptakan orang hebat di Bangka Selatan.

 

Lahir di Toboali 20 Januari 1954.

Pendidikan

1961 – SR IV

1967 – SMP 1 Toboali

1970 – SMEA Negeri Pangkalpinang

1974 – IKIP Yogyakarta

1983 – Sydney University

 

Pekerjaan

1979 – 2024 Dosen IKIP/UNY dan nyambi di banyak PTN dan PTS, konsultan, penulis soal, pengembang buku,dan penerjemah buku buku berbahasa Inggris yang masih digeluti beliau sambil menikmati masa-masa pensiun sebagai dosen.

Penulis sangat tertarik dengan kisah sang profesor yang bisa dijadikan motivasi untuk adik, anak dan cucu sebagai penyemangat untuk mencapai sukses dengan bermimpi setinggi langit dan berusaha sekuat mungkin bahwa ilmu pendidikan semakin kita cari maka otomatis kita semakin kurang setelah  mendapatkan hal hal baru.

Di akhir cerita malam itu sang profesor berpesan kepada penulis untuk diteruskan kepada anak cucu.

“Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya dan sampai ke manapun sebelum sibuk dengan pekerjaan dan urusan keluarga!”

Hiduplah dengan disiplin dan sederhana, sesuai dengan ketentuan Allah dan petunjuk Rasulullah SAW.

 

Yogyakarta, Mei 2024

Exit mobile version