Oleh Rusmin Sopian
(Pegiat literasi Toboali)
“Innalilahi Wainnailaihi Roji’un, telah meninggal dunia, ibu Kurniati Kepala SMAN 1 Riau Silip. Semoga diampuni segala dosa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amiiin”
Demikian tulis budayawan Babel Sukma Wijaya dalam grup Rembug Budaya Babel Kamis (24/4) pagi.
Penulis sungguh kaget saat membaca pesan di Grup percakapan WhatsApp Rembug Budaya Bangka Belitung yang dibagikan Sukma Wijaya.
Kopi masih meninggi. Rokok belum tersulut. Matahari mulai menaiki langit.
Penulis teringat pertemuan dengan Kurniati, saat menjadi tim penilai lomba menulis cerpen bahasa Bangka beberapa waktu lalu di Pangkalpinang.
Kepala SMAN 1 Riau Silip itu menjadi dewan juri untuk tingkat SMP bersama budayawan Ian Sancin dan guru penulis dari Bangka Tengah, Meilanto.
Penulis bersama redaktur sastra Babel Pos Budi Rahmat dan penulis muda Babel Habib menjadi tim penilai lomba cerpen bahasa Ibu yang diselenggarakan Kantor Bahasa Bangka Belitung tingkat Sekolah Dasar ( SD).
Itu adalah pertemuan pertama secara fisik dengan Kurniati, Srikandi Literasi Negeri Serumpun Sebalai.
Waktu itu Srikandi Literasi Negeri Serumpun Sebalai itu berkisah tentang rencana pelatihan menulis untuk para guru di Bangka Selatan.
“Terima kasih Bu Kepsek untuk dukungannya terhadap kebermajuan dunia literasi di Bangka Selatan,” ucap penulis yang menyapa Kurniati dengan sapaan Ibu Kepsek.
Namun namanya sudah amat familiar bagi penulis. Maklumlah karyanya berupa opini dan sastra sudah menghiasi rubrik sastra dan budaya media massa negeri ini dan luar Bangka Belitung.
Beragam buku telah dilahirkannya. Demikian pula dengan opini tentang dunia literasi dan pendidikan yang selalu menghiasi kolom-kolom opini media massa lokal dan nasional.
Tulisan terakhir dari Kurniati yang dimuat di ruang Tribuner Bangka Pos berjudul Menilik Asa Dalam Tulisan Guru yang dipublikasi tanggal 14 April yang lalu.
Selain menulis, Kurniati dikenal sebagai pegiat literasi Negeri Serumpun Sebalai. Bersama komunitas menulisnya, Srikandi Literasi ini selalu membagikan ilmu menulisnya kepada publik.
Tak heran bila pegiat literasi Angela Corine Kenedi menganggap Kurniati adalah orang yang selalu berbagi pengetahuan tentang literasi.
“Sosok ramah yang kalau bicara santun dan tidak pelit berbagi ilmu,” tulis Corine dalam grup percakapan WhatsApp Rembug budaya Babel, Kamis (24/4)
Kurniati dikenal pula sebagai pelahir para penulis. Pendidik ini dikenal sebagai pengajar dan motivator dalam kegiatan menulis di Bangka Belitung.
Pengakuan dari salah seorang muridnya saat masih di SMA Pemali dr. Faturrahman menyebutkan bahwa Bu Kur (panggilan untuk Kurniati) merupakan tokoh yang berdedikasi tinggi dalam bidang pendidikan, literasi, sastra Indonesia, dan pelestarian budaya.
“Beliau juga rajin menulis dan selalu mendorong siswa-siswinya untuk berani menulis,” tulis dr. Faturrahman dalam sebuah tulisan yang berjudul Obituari : Selamat Jalan Guru Kami, Bu Kurniati di sebuah media massa lokal.
Saat Kurniati mengadakan pelatihan menulis untuk para guru di Bangka Selatan Desember lalu, sempat menghubungi penulis melalui pesan WhatsApp.
Melalui pesan percakapan WhatsApp penulis kembali mengucapkan terima kasih untuk supportnya terhadap dunia literasi di Bangka Selatan.
Dan beberapa bulan lalu, Srikandi Literasi Negeri Serumpun Sebalai ini mengirimkan tiga buku hasil kegiatan pelatihan literasi untuk para guru di Bangka Selatan kepada penulis melalui pesan percakapan WhatsApp yang belum sempat penulis publikasikan.
Hari ini, disaat awan cerah memayungi semesta, penulis, kita, para pegiat literasi dan budaya negeri ini, kehilangan tokoh besar dunia literasi di Negeri Serumpun Sebalai. Srikandi Literasi Bangka Belitung yang amat peduli dengan kebermajuan dunia literasi negeri ini. Pendidik sejati.
Tidak ada lagi yang harus ditulis tentang Kurniati. Penulis kehilangan kata-kata, kalimat bahkan narasi.
Terima kasih Kurniati, Srikandi Literasi Negeri Serumpun Sebalai untuk jasa-jasamu memajukan dunia literasi di Bangka Belitung.
Karyamu akan abadi dalam peradaban daerah dan bangsa ini.
Negeri ini kehilangan tokoh besar dalam kebermajuan dunia literasi dan budaya.
Selamat jalan Srikandi Literasi Negeri Serumpun Sebalai.
Al Fatihah…












