Oleh: Kizberly Denova Maharani Mukti (Siswa SMPN 3 Pangkalanbaru)
Hujan rintik-rintik menyapa bumi ketika Adit dan ketiga sepupunya Farhan, Ayu, dan Zaki menginjakkan kaki di pinggiran hutan larangan. Konon, hutan itu dulunya adalah kawasan yang pernah dikuasai pada masa penjajahan Belanda, banyak penduduk pribumi yang menjadi korban pemaksaan oleh pihak Belanda. Hutan itu kemudian dianggap sebagai kawasan terlarang oleh masyarakat sekitar karena diyakini roh-roh para korban tersebut masih bergentayangan di dalamnya. Namun rasa ingin tahu yang besar membuat mereka mengabaikan larangan warga desa untuk memasuki hutan itu.
“Kita harus memperkuat mental ketika berada disini,” ucap Zaki sambil menyesuaikan tali ranselnya. Farhan tersenyum, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak karuan. la selalu suka petualangan, tapi hutan ini terasa berbeda lebih sunyi dan dingin seperti ada yang mengintai. Setelah dua jam perjalanan, mereka tiba di sebuah aliran sungai kecil yang jernih. Ayu duduk di batu besar sambil menghela nafas sedalam-dalamnya.
“Kita istirahat sebentar ya, kakiku mulai pegal,” ucap Ayu.
Saat itu Farhan melihat sesuatu yang aneh di seberang sungai, yang samar-samar tampak seperti sebuah rumah.
“Hei kalian lihat itu?” Tanyanya sambil menunjuk. “Bukankah itu sebuah rumah?” Mereka pun berjalan menuju ke rumah tersebut dengan penuh hati-hati. Sesampainya mereka di rumah tersebut, mereka memperhatikannya dengan seksama. Rumah tersebut tampak rapuh dan menimbulkan kesan yang menyeramkan.
“Ayo kita ke dalam, siapa tahu kita bisa menemukan barang barang menarik di sana!” Ucap Adit dengan penuh keberanian dan ketangguhan. Mereka pun memberanikan diri untuk ke dalam rumah tersebut. Di dalam rumah itu, terdapat banyak debu, jaring laba-laba, hewan-hewan seperti kecoa, dan masih banyak lagi. Tanpa sengaja Ayu melihat sebuah benda yang berkilau, samar-samar seperti benda antik. Kemudian Ayu berjalan mendekat dan mengambilnya dengan hati-hati.
“Hei kalian ke sini! Apa yang aku temukan, aku menemukan sebuah benda antik.” Ucap Ayu sambil menunjukkan benda antik tersebut. Adit, Zaki, dan Farhan pun menghampiri Ayu untuk melihat benda tersebut.
“Sepertinya benda antik ini tidak asing,” ucap Zaki dengan nada penasaran.
“Menurutku, ini adalah benda peninggalan sejarah Belanda,” ucap Adit meyakinkan Zaki. Ayu melihat benda itu dengan seksama, dan tampaknya ia sependapat dengan apa yang dikatakan Adit.
“Sebaliknya benda antik ini kita bawa saja, ayo kita lanjutkan penjelajahan hutan ini!” Ucap Adit sambil berjalan menuju pintu rumah untuk keluar. Mereka berempat pun melanjutkan perjalanannya ke hutan larangan tersebut.
Matahari perlahan mulai terbenam, sehingga cocok untuk mendirikan tenda sebagai tempat bermalam. Adit dan Zaki mencari kayu kering untuk membuat api unggun, mereka mencarinya tidak jauh dari tempat tenda mereka. Setelah tiga puluh menit mencari kayu kering, Adit dan Zaki telah memperoleh kayu yang cukup banyak. Adit tanpa sengaja mendengar suara wanita menjerit meminta tolong, la pun berhenti sejenak dan mencari tahu dari mana asal suara tersebut.
“Ada apa, Dit? Mengapa kamu berhenti?” Tanya Zaki dengan wajah penasaran.
“Apakah kau mendengar suara? Seperti suara wanita meminta tolong.” Ucap Adit sambil samar-samar masih mendengar suara aneh itu. Zaki berusaha mendengar suara aneh itu, namun tidak ada suara yang dapat Zaki dengar. Suasana terasa sunyi, seolah-olah tak ada suara yang dapat ia tangkap.
“Tidak ada suara apa pun, mana mungkin ada suara perempuan di sini? Di sini hanya ada kita berempat, tidak ada siapapun di sini selain kita, mungkin kau salah dengar.” Ucap Zaki meyakinkan Adit. Adit masih terdiam, berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah imajinasi. Namun kegelisahan di matanya tak bisa disembunyikan. Tanpa banyak bicara, mereka berdua melanjutkan perjalanannya menuju tenda
Sesampainya di tempat tenda mereka beristirahat, Adit dan Zaki meletakkan kayu-kayu kering dengan nafas terengah, lalu bersiap menyalakan api unggun yang akan menjadi penerang di gelapnya malam yang dingin dan sunyi. Setelah api unggun menyala dan kobarannya menari di tengah gelapnya malam, mereka duduk di sekelilingnya.
Hangatnya api perlahan mengusir dingin yang menggigit, sementara cahaya temaramnya memantulkan bayangan sunyi di wajah mereka yang letih namun puas. Ayu mengambil benda antik dari dalam tasnya, yang sebelumnya ia temukan di rumah kosong Itu. Matanya menatap lekat pada permukaan benda tersebut, yang memantulkan cahaya dengan kilauan memukau.
“Apakah itu termasuk benda yang pernah dibicarakan oleh warga sekitar?” Ucap Farhan dengan nada penasaran.
“Itu hanyalah mitos belaka, mana mungkin sebuah benda antik dapat membawa petaka!” Ujar Zaki dengan nada skeptis, jelas menunjukkan bahwa ia tidak mempercayai kepercayaan tersebut.
“Sudah, sudah, jangan bertengkar. Lebih baik kita tidur sekarang.” Ucap Adit dengan nada lelah, matanya mulai berat menahan kantuk. Akhirnya, mereka berempat pun tidur di dalam tenda masing-masing. Pada tengah malam, Adit terbangun dari tidurnya karena mendengar suara aneh dari luar tendanya. la pun segera keluar untuk memeriksanya. Namun, tak ditemukan apapun di sekitar tendanya. Adit tidak sengaja melihat sosok samar di batang pohon besar, seperti seorang lelaki yang berdiri mematung di sana. Bayangan itu tampak mirip dengan Farhan, meskipun tidak jelas dalam gelapnya malam. Dengan wajah yang malas sedikit kesal, Adit memanggil bayangan tersebut.
“Oi Farhan!” Serunya dengan nada keras. Namun bayangan itu tidak menanggapi panggilan Adit. Adit yang mulai diliputi rasa kesal itu pun melangkah cepat dan menghampirinya, amarah membara di dadanya.
“Farhan, mengapa kau berada disini?” Teriaknya dengan nada tinggi, geram. Tetapi saat bayangan itu perlahan menoleh, jantung Adit berhenti sesaat. Bukan, itu bukan Farhan. Wajah yang kini menghadapnya adalah sosok yang kasat mata, asing dan mengerikan, melayang tanpa bentuk yang jelas. Tubuh Adit membeku sesaat, sebelum pada akhirnya ia menjerit panik.
“H-H-HANTUI” Teriak Adit dengan suara gemetar. Tanpa pikir panjang, Adit berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju tenda.
“Hantu! Hantu!” Pekiknya berulang kali, mengguncang keheningan malam yang mencengkam. Farhan, Ayu, dan Zaki yang mendengar teriakan Adit sontak terbangun dari tidur mereka.
“Kenapa? Apa yang terjadi, Dit? Mengapa kau berteriak?” Seru Ayu dengan nada panik.
“H-hantu!” Jawab Adit terbata-bata, suaranya bergetar dan nafasnya memburu.
“Hantu. Aku melihat hantu!” Tambahnya, nyaris berteriak. Ketiganya saling berpandangan, tubuh mereka kini dipenuhi rasa was-was yang merambat pelan. Tiba-tiba, bayangan samar muncul di salah satu tenda mereka, tenda milik Ayu. Bayangan itu duduk mematung, seolah-olah mengawasi sesuatu. Di tangannya, tergenggam sebuah benda, benda yang tampak asing namun familiar.
“I-itu seperti benda antik yang ditemukan Ayu siang tadi!” Seru Farhan dengan nada gemetar penuh ketakutan. Ketegangan semakin memuncak. Adit, meski tubuhnya gemetar, dia mengumpulkan keberanian untuk berbicara kepada bayangan itu.
“H-hei!” Panggilnya dengan suara gemetar.
“Mengapa kau membongkar barang-barang kami?” Namun, bayangan tersebut tidak menjawab, la hanya terdiam, dan perlahan menoleh, menunjukkan bahwa dia bukanlah manusia seperti mereka. Zaki melangkah maju dengan wajah tegang, amarah bercampur ketakutan menyelimuti dirinya. Suara gemetar, namun tekadnya tak surut.
“Hei. Kami tidak pernah mengganggumu, jadi lebih baik pergi dari sini!” Serunya lantang, meskipun nada gemetarnya tak bisa ia sembunyikan.
“Ini, milikku.” Ucap bayangan tersebut dalam bahasa asing, sembari menatap benda yang sebelumnya ditemukan Ayu. Ayu yang menyaksikan kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri pun sontak tertegun.
“A-aku, aku akan mengembalikan barangmu, tapi tolong jangan ganggu kami lagi!” Ucap Ayu dengan lirih, penuh kepasrahan dan kejujuran. Bayangan itu terdiam, dan tanpa peringatan bayangan itu menghilang, seakan ditelan gelapnya malam.
“Besok kita akan mengembalikan barang antik ini. Lalu setelah itu kita pulang!” Ucap Adit sambil menenangkan sepupu-sepupunya yang masih kelihatan panik. Perlahan ketegangan itu mereda, mereka akhirnya kembali ke tenda masing-masing. Meskipun kejadian semalam masih terbenak di dalam pikiran mereka, mereka mencoba menenangkan diri dan dengan perlahan mereka tertidur.
Pagi itu datang, mereka membereskan barang-barang dengan tenang. Sesuai janji, mereka mengembalikan barang antik tersebut ke dalam rumah kosong itu.
Sesampainya di rumah kosong itu, rumah kosong itu tampak lebih sunyi dari pertama kali mereka datang. Ayu masuk ke rumah tersebut dan menaruh barang antik sesuai di mana ia mengambilnya, seakan-akan barang tersebut bukanlah milik mereka. Tanpa banyak kata, mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk keluar dari hutan tersebut. Meskipun banyak kejadian ganjil yang mereka alami, itu akan menjadi bagian dari hidup mereka. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kabupaten Bangka Tengah cabang menulis cerpen.
