Penulis : Oksandi Fikri, Ahmad Surya Darma, dan Windra Dewi (Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial Universitas Bangka Belitung)
Belakangan ini, jagat media sosial Indonesia dihebohkan oleh beragam narasi yang mencuat sebagai trending topic, mulai dari #Panggilan Darurat dan #IndonesiaGelap hingga yang terbaru, #KaburAjaDulu. Masing-masing tagar ini bukan sekadar lelucon atau tren sesaat; mereka merupakan cerminan dari gelombang keresahan yang melanda masyarakat, terutama generasi muda yang merasa terjebak dalam ketidakpastian. Kali ini penulis akan membahas mengenai fenomena #KaburAjaDulu yang bukan hanya sekadar ajakan belaka untuk keluar dari Indonesia. Tetapi ini menjadi suatu fenomena yang mencerminkan bagaimana kondisi sosial, ekonomi dan politik di Indonesia saat ini, sehingga muncul wacana atau narasi untuk bergegas keluar dari Indonesia oleh kalangan muda.
Akar Masalah munculnya ide kabur aja dulu?
Ada beberapa Akar Masalah Munculnya Ide “Kabur Aja Dulu”. Munculnya ide Kabur Aja Dulu tidak lepas dari sejumlah kondisi yang memicu keresahan di kalangan generasi muda Indonesia. Salah satu faktor utama adalah minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia di dalam negeri. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada tahun 2023 mencapai sekitar 5,86%, yang menunjukkan bahwa masih banyak individu, terutama lulusan baru, yang kesulitan menemukan pekerjaan. Tercatat hampir 10 juta gen z yang masih menganggur tidak sekolah dan tidak bekerja.
Di sisi lain, upah yang rendah juga menjadi masalah signifikan. Rata-rata upah minimum di berbagai daerah sering kali tidak mencukupi untuk menutupi biaya hidup yang terus meningkat. Laporan dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa banyak pekerja muda mendapatkan gaji di bawah standar kebutuhan hidup layak.
Selain itu, bonus demografi yang saat ini tengah dialami Indonesia seharusnya menjadi keuntungan, namun kenyataannya justru menjadi tantangan. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar, jika tidak diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai, potensi ini bisa berbalik menjadi beban ekonomi. Banyak anak muda merasa bahwa mereka tidak memiliki masa depan yang cerah di tanah air, mendorong mereka untuk mempertimbangkan opsi migrasi.
Fenomena Kabur Aja Dulu tidak hanya lahir dari keresahan terhadap kondisi ekonomi, tetapi juga dipicu oleh berbagai kebijakan politik yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat. Di awal tahun 2025, Indonesia diguncang oleh serangkaian kasus korupsi besar yang melibatkan pejabat tinggi dan perusahaan negara, menciptakan rasa frustrasi dan ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah.
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah korupsi tata kelola minyak mentah di Pertamina, yang diperkirakan merugikan negara hingga Rp193,7 triliun hanya dalam satu tahun. Kasus ini melibatkan sejumlah petinggi Pertamina dan kontraktor swasta, menunjukkan bagaimana pengelolaan sumber daya strategis justru menjadi ladang korupsi. Selain itu, kasus korupsi di PT Timah dengan kerugian Rp300 triliun semakin menambah daftar panjang skandal yang merugikan negara.
Contoh lainnya, kebijakan penyesuaian harga gas LPG subsidi juga menjadi sorotan. Kelangkaan LPG 3 kg beberapa waktu belakangan memicu keresahan di masyarakat, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah yang bergantung pada gas subsidi untuk kebutuhan sehari-hari. Kebijakan ini dianggap tidak transparan dan tidak memperhitungkan dampaknya terhadap masyarakat kecil, sehingga menambah tekanan ekonomi yang sudah berat.
Ketimpangan hukum juga menjadi pemicu utama munculnya narasi seperti Kabur Aja Dulu. Banyak masyarakat merasa bahwa penegakan hukum di Indonesia cenderung tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Kasus-kasus korupsi besar sering kali berakhir dengan hukuman ringan bagi pelaku utama, sementara pelanggaran kecil oleh rakyat biasa ditindak tegas. Ketidakadilan ini menciptakan rasa apatis terhadap sistem hukum dan pemerintahan.
Kombinasi antara skandal korupsi, kebijakan yang mempersulit masyarakat, dan ketimpangan hukum membuat banyak generasi muda merasa bahwa perubahan sulit terjadi di dalam negeri. Tagar Kabur Aja Dulu pun muncul sebagai bentuk pelarian dari sistem yang dianggap gagal memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.
#KaburAjaDulu Bukan Hal Baru
Fenomena migrasi generasi muda Indonesia untuk mencari peluang di luar negeri, baik dalam bentuk pekerjaan maupun pendidikan, bukanlah sesuatu yang baru dan tidak perlu dibesar-besarkan. Sejak zaman dahulu, perjalanan ke luar negeri telah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Banyak tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri untuk memperluas wawasan, meningkatkan pengetahuan, atau mencari dukungan bagi perjuangan kemerdekaan. Sebagai contoh, Soekarno dan Mohammad Hatta, dua pendiri bangsa, pernah menempuh pendidikan di Belanda dan Jepang. Pengalaman mereka di luar negeri tidak hanya memperkaya perspektif mereka, tetapi juga memberikan kontribusi besar terhadap pemikiran dan strategi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka memahami pentingnya belajar dari negara lain untuk membawa perubahan positif bagi tanah air.
Selain itu, banyak generasi muda Indonesia yang telah lama mencari kesempatan di luar negeri. Pada tahun 1970-an dan 1980-an, banyak pelajar Indonesia yang melanjutkan studi di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Eropa untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Mereka kembali dengan pengetahuan dan keterampilan yang berharga, berkontribusi pada pembangunan bangsa setelah menyelesaikan studi mereka.
Kondisi ini menunjukkan bahwa migrasi bukanlah fenomena baru; ini adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam mencari pengetahuan dan pengalaman. Dalam konteks saat ini, ketika tagar Kabur Aja Dulu muncul sebagai ungkapan kekecewaan terhadap keadaan di dalam negeri, penting untuk diingat bahwa pencarian peluang di luar negeri sudah menjadi tradisi yang mengakar dalam budaya kita.
Meskipun tagar Kabur Aja Dulu mencerminkan keinginan banyak generasi muda untuk mencari peluang di luar negeri, penting untuk diingat bahwa keputusan untuk “kabur” atau berkarier di luar tidak semudah yang dibayangkan. Narasi ini tidak menyasar semua kalangan, dan ada berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil langkah tersebut.
Pertama, kualifikasi dan keterampilan menjadi syarat utama untuk dapat bersaing di pasar kerja internasional. Banyak negara memiliki standar tinggi dalam hal pendidikan dan keterampilan profesional. Oleh karena itu, individu yang ingin bekerja di luar negeri harus memiliki latar belakang pendidikan yang memadai serta keterampilan yang relevan dengan bidang pekerjaan yang diminati. Tanpa kualifikasi yang tepat, peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak akan sangat terbatas.
Eksploitasi dalam Narasi “Kabur Aja Dulu”
Meskipun tagar Kabur Aja Dulu mencerminkan harapan untuk mencari peluang yang lebih baik di luar negeri, kita harus tetap waspada terhadap potensi eksploitasi yang dapat terjadi akibat narasi ini. Banyak individu yang terjebak dalam situasi di mana mereka dipekerjakan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Kasus-kasus seperti ini sering kali terjadi, di mana pekerja migran Indonesia menjadi korban penipuan dan eksploitasi.
Salah satu contohnya adalah banyak pekerja yang berangkat tanpa mengikuti prosedur resmi, yang membuat mereka rentan terhadap berbagai bentuk penyalahgunaan. Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat bahwa keberangkatan nonprosedural sering kali berujung pada eksploitasi fisik dan ketenagakerjaan. Data menunjukkan bahwa dari 1.022 pengaduan yang diterima BP2MI pada tahun 2024, sebagian besar berasal dari pekerja yang tidak berangkat sesuai prosedur, dengan keluhan seperti gaji tidak dibayar dan kondisi kerja yang buruk.
Lebih parah lagi, ada laporan tentang pekerja migran yang dipaksa menjadi operator judi online tanpa dibayar. Mereka dijanjikan pekerjaan yang layak, tetapi kemudian terjebak dalam situasi ilegal dan berisiko tinggi. Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya bagi calon pekerja untuk melakukan riset dan memastikan bahwa mereka berangkat melalui jalur resmi untuk menghindari penipuan semacam ini.
Kasus perdagangan manusia juga menjadi isu serius dalam konteks migrasi. Banyak individu yang tertipu oleh iming-iming pekerjaan di luar negeri, hanya untuk menemukan diri mereka terjebak dalam jaringan perdagangan orang. Laporan menunjukkan bahwa sejumlah pekerja migran Indonesia telah disekap di negara-negara seperti Myanmar setelah dijanjikan pekerjaan yang tidak pernah ada. Situasi ini menyoroti perlunya kesadaran akan risiko-risiko tersebut sebelum mengambil keputusan untuk “kabur.” Dengan demikian, penting bagi generasi muda untuk memahami bahwa meskipun mencari peluang di luar negeri bisa menjadi langkah positif, mereka harus tetap hati-hati dan kritis terhadap informasi yang diterima. Mengedukasi diri tentang prosedur resmi dan potensi risiko adalah langkah awal yang krusial untuk melindungi diri dari eksploitasi dan penipuan. (BP)*












