Karya untuk Bumi 

Oleh : Mufida Farzana (Siswa SDN 14 Mendobarat)

 

Pagi itu mentari bersinar cukup terik di kota kecil tempat saya tinggal. Saya seorang gadis kecil yang sangat ingin tahu yang besar, terus saya berjalan-jalan ke taman untuk menggambar bunga-bunga yang sedang bermekaran. Saya membawa buku gambar dan pensil. Senyum saya memudar karena saya melihat bunga yang saya gambar tadi bagus.

Alih-alih saya disambut oleh hamparan rumput hijau, terus saya istirahat dulu sebentar di taman itu karena saya lelah habis menggambar. Setelah istirahat, mata saya justru tertuju pada botol plastik dan saya memungut sampah itu yang dibuang oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Sore itu saya ke taman lagi. Saya duduk di bangku taman itu dan melihat ada sampah yang disisipkan di semak-semak. Saya tidak bisa tinggal diam, saya memungut sampah itu satu per satu dan membuangnya di tempat sampah.

Keesokan harinya saya pergi lagi ke taman. Saya melihat ada beberapa komponen ektronik. Saya mengambilnya. Komponen itu berasal dari mainan mobil-mobilan tua, terus saya merakitnya menjadi penghalang pohon. Dan ada sisa terus saya merakitnya menjadi robot pembersih dan saya menamainya “Si Pembersih kecil”, serta meletakkannya di taman.

Keesokan harinya saya pergi ke taman lagi untuk melihat “Si Pembersih kecil”. Orang-orang yang lewat pun berhenti sejenak untuk melihat “Si Pembersih kecil” yang dibuat dari komponen elektronik dan kerja keras saya.

“Ini adalah contoh cinta kepada bumi.”

Lalu saya ke taman dan melihat ada ibu guru. Ibu guru bercerita dengan saya, dan merasa takjub karena bisa membuat “Si Pembersih kecil”. Ibu guru juga bangga karena anak muridnya sangat kreatif sekali.

Keesokan harinya, saya ke sekolah dan membawa robot itu ke depan kelas. Ibu guru yang lainnya juga bangga terhadap muridnya karena bisa membuat robot itu. Teman-teman lainnya berdatangan untuk melihat “Si Pembersih kecil”. Bukan karena ingin pamer dan ingin dipuji, karena saya membuatnya dengan kerja keras.

Setelah sampai di rumah, saya duduk di kursi rumah, mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang tua saya. Setelah itu hal yang pertama yang saya lalukan adalah mencuci tangan, terus makan siang dan setelah itu tidak lupa untuk mencuci piring hingga bersih.

Setelah mencuci piring saya, bersantai di teras rumah, saya mendengar suara teriakan riang, “Mira. Mira. Ayo main!” Rupanya itu adalah suara Revi sahabat saya. Setelah itu kami pergi ke taman yang kini sudah bersih. Kami berlari-lari di atas rumput hijau. Hal yang kita lakukan dengan hati pasti akan selalu senang dan hati juga selalu riang juga.

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.

Exit mobile version