Bekaespedia.com, Dalam pandangan ahli ma‘rifat, Fir‘aun bukan sekadar simbol kezaliman dan kesombongan yang beku dalam sejarah. Ia adalah cermin ekstrem tentang bagaimana kekuasaan, ego, dan klaim ketuhanan dapat menutup cahaya hati, namun sekaligus menyimpan pelajaran terdalam tentang keluasan rahmat dan keadilan Allah.
Fir‘aun mencapai puncak dunia:
kekuasaan mutlak, kekayaan, pasukan, dan ketakutan manusia.
Namun justru di puncak itulah jatuhnya paling dalam.
Ahli ma‘rifat membaca ini sebagai rahasia besar:
siapa yang menuhankan diri, maka ia akan dihinakan oleh kebenaran.
Keajaiban Fir‘aun, dalam arti pelajaran batin, bukan pada kekuatannya,
melainkan pada bagaimana Allah menampakkan hakikat ego manusia melalui dirinya.
Fir‘aun berkata:
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi .”
Di sinilah ahli ma‘rifat bergidik.
Karena kalimat itu bukan hanya diucapkan oleh Fir‘aun,
tetapi disembunyikan oleh banyak hati, ketika manusia merasa paling benar, paling berjasa, paling berkuasa atas nasib orang lain.
Namun ada rahasia lain yang dibaca ahli ma‘rifat dengan penuh adab:
di saat Fir‘aun tenggelam dan berkata:
> آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ
“Aku beriman bahwa tiada Tuhan selain yang diimani Bani Israil.”
Secara syariat, taubat itu tidak diterima karena datang di ujung ajal.
Tetapi ahli ma‘rifat tidak berhenti pada vonis zahir.
Mereka menunduk dan berkata:
“Kami tidak menilai rahasia akhir seorang hamba di hadapan Rabbnya.”
Keajaiban Fir‘aun dalam pandangan ahli ma‘rifat adalah peringatan berlapis:
– Bahwa kekuasaan tanpa takwa melahirkan kehancuran.
– Bahwa ilmu dan teknologi tanpa kerendahan hati menjadi alat penindasan.
– Bahwa iman yang ditunda hingga nyawa di tenggorokan adalah iman yang terlambat.
Fir‘aun dijadikan Allah sebagai ayat terbesar tentang bahaya ego,
agar manusia tidak tergelincir ke jurang yang sama, meski dengan wajah yang lebih halus dan bahasa yang lebih religius.
Ahli ma‘rifat tidak mengagumi Fir‘aun,
tetapi takut menjadi seperti Fir‘aun dalam bentuk lain :
merasa paling berjasa, paling berkuasa, dan paling menentukan segalanya.
Maka mereka berdoa dengan suara lirih: “ Ya Allah, selamatkan kami dari Fir‘aun yang bersembunyi di dalam diri kami.”
Itulah “keajaiban” Fir‘aun:
bukan untuk diteladani, tetapi untuk membangunkan hati agar tidak menuhankan selain Engkau bahkan tidak menuhankan diri sendiri.












