Kebebasan Pada 4.500 Square Tiles

Keterangan Gambar: sketsa kerangkeng tempat pengasingan pemimpin Republik selama 17 hari dari 27 Desember 1948-12 Januari 1949, sumber foto: Buku Yogyakarta-Bangka Menegakkan Kedaulatan Negara 1948-1949, penulis: Akhmad Elvian & Ali Usman, editor: Sri Margana

 

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Setelah Lima hari berada di Pengasingan Gunung Menumbing, pada Tanggal 27 Desember 1948 Belanda mulai membatasi ruang gerak pemimpin Republik Indonesia, Drs. Muhammad Hatta (Wakil Presiden), Suryadarma (Komodor Udara), AG. Pringgodigdo (Sekretaris Negara) dan Mr. Assaat (Ketua BP KNIP), dengan membangun kerangkeng di dalam dan luar rumah. Pada Tanggal 31 Desember 1948, menyusul diasingkan ke Menumbing, Moehammad Roem dan Alisastroamidjoyo. Pada hari Senin, 10 Januari, Pesanggrahan Menumbing kedatangan pejabat tinggi Belanda, yakni Dr. Brouwer, Komisaris Mahkota untuk Sumatra Timur dan Dr. C. Lion Cachet Residen Bangka Belitung. Sambil membawa beberapa buku dari perpustakaan Pangkalpinang, mereka mengunjungi dan berbicara dengan para pemimpin yang dikurung di salah satu ruangan Pesanggrahan Menumbing. Dr. Brouwer mengatakan keputusan Dr L.J.M. Beel, Perwakilan Tinggi Mahkota di Hindia Belanda bahwa pemerintah Belanda tidak lagi mengakui Republik Indonesia sebagai negara, wilayah dan pemerintahannya.

Pengunjung berikutnya ke tempat pengasingan adalah, sebuah delegasi dari Komite Jasa-jasa Baik PBB (the United Nations Good Offices Committe) atau Komisi Tiga Negara (KTN), Sabtu tanggal 15 Januari 1949 dan mendapatkan mereka di tempat yang amat sederhana dikelilingi kawat berduri, Delegasi meminta atas nama PBB agar tawanan diberikan kebebasan bergerak (Heidhues, 2008:203). Anggota delegasi KTN, Critchley dari Australia terkejut ketika melihat kerangkeng dipasang. Padahal wakil Belanda, Van Roijen di United Nations mengatakan kepada Critchley, bahwa para tawanan itu bebas bergerak (pada wilayah seluas 4.500 square miles), melihat kenyataan seperti itu (kondisi di kerangkeng pada wilayah seluas 4.500 square tiles) Critchley akan melakukan protes keras. Berikut kutipan penyataan Van Roijen terkait pembebasan para tokoh Republik Indonesia : Four other leaders, namely Mr. Soekarno, Mr. Drs. Muhammad Hatta, Mr. Sjahrir and Mr. Agus Salim, have likewise been released from their enforced residence. Since it was considered that for the moment it might still endanger public security if they were allowed entire freedom of movement throughout the whole of Indonesia, that freedom has for the time being been limited to the island of Bangka. They enjoy complete liberty throughtout the entire island, which has an area of over 4.500 square miles. Pernyataan ini banyak dimuat media koran antara lain Nieuwe courant, Leeuwarder courant : hoofdblad van Friesland, Het nieuwsblad voor Sumatra dan De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad pada tanggal 8-10 Januari 1949. “Mendengar keterangan Van Roijen itu kami menjadi geli sekali,“ kenang Ali Sastroadmidjojo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang ikut ditawan bersama Drs. Muhammad Hatta. Salah seorang di antara “para tawanan” dengan senda gurau mengatakan, Van Roijen waktu itu mungkin “keseleo lidah” ketika menyatakan bahwa tawanan di Bangka dapat bergerak bebas di daerah seluas 4.500 square miles. Van Roijen jadi gagap menyampaikan maksud yang sebenarnya, yaitu square tiles (berarti “ubin”) (Sastroadmidjojo, 1974:250). Salah seorang wartawan, kalau tidak salah dari majalah Inggris Picture Post, menulis bahwa apa yang dinyatakan Belanda tentang perlakuan baik terhadap pemimpin-pemimpin Republik Indonesia itu tidaklah benar. Belanda telah mengatakan bahwa ruang gerak mereka ada seluas beberapa square miles (mil persegi), padahal hanyalah beberapa square tiles (ubin persegi) (Bakar, 1993:25, 27).

Protes Critchley tersebut dikabulkan dan pada tanggal 18 Januari kawat-kawat yang memagari rumah dibongkar, sehingga Bung Hatta dan pemimpin republik yang diasingkan lebih leluasa berada di pengasingan bisa berjalan-jalan di luar rumah dan mulai menerima tamu. Efek kunjungan KTN ini luar biasa bagi para pemimpin Republik di Menumbing, setelah 27 hari mengalami tekanan dan penderitaan terkurung di ruangan sempit, minim fasilitas dan terputus dari dunia luar.

 

Exit mobile version