Keberadaan Pemukiman Nyireh dalam Pusaran Perang Palembang di Pulau Bangka

Dwikki Ogi Dhaswara

Foto Drone Keberadaan Hulu Sungai Nyireh

Bekaespedia.com_Dengan bersumber pada laporan militer dan administratif kolonial Belanda, seperti Verhaal Palembangschen Oorlog van 1819-1821 dan Algemeen Verslag der Residentie Banka Over het Jaar 1850, studi ini menelusuri dinamika perlawanan yang berpusat di Nyireh pasca-gugurnya Raden Keling. Analisis menunjukkan bahwa Nyireh bukan sekadar tempat persembunyian, melainkan wilayah strategis yang menghubungkan para pemimpin perlawanan, elit lokal, dan jaringan maritim regional.

Perang Palembang dan Gugurnya Raden Keling

Perang Palembang (1819-1821) merupakan konflik berkepanjangan antara Kesultanan Palembang Darussalam melawan ekspedisi militer Kerajaan Belanda. Perlawanan tidak hanya berpusat di ibu kota kesultanan, tetapi juga menyebar ke wilayah-wilayah kekuasaannya, termasuk Pulau Bangka yang kaya akan timah. Salah satu tokoh sentral dalam perlawanan di front Bangka adalah Raden Keling, seorang bangsawan Palembang yang memimpin pasukan gabungan.

Pertempuran menentukan terjadi di Benteng Pulau Tinggi, Kepulauan Lepar, pada 10 Oktober 1820. Menurut catatan A. Meis, seorang perwira staf Belanda, dalam Verhaal Palembangschen Oorlog van 1819-1821 (halaman 149), pertempuran berlangsung sengit namun singkat, kurang lebih sepuluh menit. Dalam pertempuran ini, Raden Keling gugur sebagai syuhada bersama empat kerabat dekatnya dan sejumlah prajurit setianya. Meskipun pihak Belanda juga menderita korban luka di kalangan perwiranya, gugurnya Raden Keling merupakan pukulan telak bagi moral pasukan perlawanan.

Namun, semangat juang tidak serta-merta padam. Kepemimpinan estafet segera diambil alih oleh putranya, Raden Ali, yang berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh. Raden Ali melarikan diri ke Nyireh, sebuah pemukiman yang telah dikenal sebagai basis pertahanan dan persembunyian.

Di sana, Raden Ali bergabung dengan Batin Ganing, pemimpin masyarakat lokal yang memiliki pengaruh kuat. Setelah berita mengenai gugurnya Radeen KLING di Palembang diketahui, saudaranya, Radeen BADAR, memohon kepada Sultan agar diizinkan menggantikan kedudukan saudaranya sekaligus membalas kematiannya. Sebagaimana kemudian dilakukannya, pada akhir November ia datang ke Bangka dengan membawa lima perahu besar (prauwen) beserta sejumlah orang/pasukan.

Ia kemudian menetap di Niëri/Nyireh, tempat ia segera memanggil keponakannya, Radeen ALI, kepala Batin GANING, serta beberapa tokoh pemberontak lainnya untuk bergabung dengannya. Dengan bantuan mereka, tempat persembunyian lama tersebut kembali diperkuat dan dipersiapkan untuk pertahanan.

Sementara itu, ketika melarikan diri dari Poeloe-Tingie, Radeen ALI telah mengirim sebuah perahu menuju Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya untuk meminta bantuan dan dukungan. Permintaan tersebut kemudian dipenuhi dengan dikirimkannya tiga puluh perahu, yang sebagian besar berasal dari Temian. Sebagian besar perahu tersebut berlabuh atau berada di sungai dekat Niëri, sedangkan sisanya berada di sungai Bangka-Kotta.

Titik Balik dan Kaburnya Jejak Perlawanan

Laporan militer Belanda dalam Militaire Spectator yang mencatat ekspedisi di Bangka selama 1819-1821 memberikan gambaran tentang situasi Nyireh setelah pertempuran Pulau Tinggi.

Onlusten en expeditiën op het eiland Banka, gedurende de jaren 1819, 1820 en 1821. Daarvan bezit genomen hebbende , liet de Overste aanstonds verkenningen naar den kant van Niëri doen , waardoor hijdan ook op den 2östen October te weten kwam, dat Batin GANING, het hoofd aldaar, op de mare van Radeen KLING Swedervaren, door de meesten van zijnen aanhang verlaten en hij-zelf daardoor dermate ontmoedigd geworden was, dat hij al het geschut in het water had doen werpen en met het overschot zijner manschap, de bosschen in gevloden was ; de Palembangsche en andere vreemdelingen, die in Niëri zich opgehouden hadden, waren door Soengie-Balar naar buiten gevaren.

Setelah mengetahui hal tersebut dan mengambil alih tempat itu, Komandan segera memerintahkan pengintaian ke arah Niëri. Dari hasil pengintaian tersebut, pada tanggal 21 Oktober diketahui bahwa Batin GANING, kepala setempat di sana, setelah mendengar kabar mengenai apa yang telah menimpa Radeen KLING, telah ditinggalkan oleh sebagian besar pengikutnya. Karena keadaan tersebut, ia menjadi begitu patah semangat sehingga memerintahkan seluruh meriam/persenjataan beratnya dibuang ke dalam air, kemudian melarikan diri ke dalam hutan bersama sisa anak buahnya. Sementara itu, orang-orang Palembang dan para pendatang lainnya yang sebelumnya berada di Niëri telah berlayar keluar melalui Sungai Soengie-Balar.

Rasa putus asa Batin Ganing dan kehilangan arah membuatnya mengambil keputusan drastis. Ia memerintahkan seluruh persenjataan berat, termasuk meriam, untuk dibuang ke dalam air di wilayah Nyireh. Tindakan ini lazim dilakukan untuk mencegah senjata jatuh ke tangan musuh. Setelah itu, ia bersama sisa-sisa pasukannya melarikan diri ke dalam hutan. Sementara itu, orang-orang Palembang dan pendatang lain yang berada di Nyireh dilaporkan telah berlayar keluar melalui Sungai Soengie-Balar, meninggalkan pemukiman tersebut.

Laporan ini menggambarkan bahwa setelah gugurnya Raden Keling dan sebelum atau bersamaan dengan kedatangan Raden Badar, Nyireh sempat mengalami kekosongan kekuasaan dan ditinggalkan. Kedatangan Raden Badar kemudian menjadi upaya untuk menghidupkan kembali basis perlawanan ini. Namun, ini adalah salah satu catatan terakhir yang menyebut Nyireh sebagai pusat aktivitas militer yang aktif.

Setelah periode ini, jejak Raden Ali dan aktivitas perlawanan di Nyireh nyaris hilang dari catatan sejarah. Keberadaan Raden Ali baru muncul kembali secara samar dalam dokumen resmi hampir tiga dekade kemudian.

Penangkapan Raden Ali dan Senyapnya Nyireh

Informasi paling akhir dan paling kelam mengenai Nyireh ditemukan dalam Algemeen Verslag der Residentie Banka Over het Jaar 1850 (Bundel Bangka No. 41). Laporan ini tidak lagi berbicara tentang pertempuran atau pertahanan, melainkan tentang penyerahan. Dokumen tersebut secara singkat menyinggung proses penangkapan Raden Ali di pemukiman Nyireh.

Yang menarik dan tragis dari laporan ini adalah peran mantan istri Raden Ali. Dinyatakan bahwa istri Demang Kurau, yang sebelumnya adalah istri Raden Ali, “dikenal memiliki keberanian pribadi yang tinggi” dan telah berjasa dalam “proses penyerahan Raden Ali kepada pemerintah, dengan menyediakan sebuah perahu.” Dari keterangan ini, dapat disimpulkan bahwa penangkapan Raden Ali oleh pemerintah kolonial diduga kuat difasilitasi oleh mantan istrinya sendiri. Sebuah akhir yang ironis bagi seorang pejuang, setelah bertahun-tahun bertahan dan melawan, ia akhirnya ditangkap bukan karena kalah dalam pertempuran, melainkan karena pengkhianatan dari orang terdekat.

Setelah penangkapan Raden Ali, Nyireh kehilangan tokoh kunci terakhirnya. Riwayat pemukiman ini sebagai pusat perlawanan pun berakhir. Seiring berjalannya waktu, nama Nyireh perlahan memudar dari peta sejarah dan ingatan kolektif.

Menuntut Kembali Warisan Sejarah yang Terlupakan

Rekonstruksi sejarah ini menunjukkan bahwa Nyireh adalah situs bersejarah, bukan sekadar “tempat persembunyian lama” (oude schuilplaats), melainkan sebuah tempat para aktor sejarah seperti Raden Keling, Raden Ali, Raden Badar, dan Batin Ganing memainkan peran mereka dalam drama besar perlawanan terhadap imperialisme. Di lokasi inilah strategi disusun, aliansi dijalin, dan harapan terakhir dipertahankan.

Google Maps Sungai Nyireh

Penemuan beberapa meriam kuno di sekitar kawasan Nyireh bukanlah hal yang mengejutkan jika merujuk pada catatan Belanda yang menyebutkan bahwa Batin Ganing memerintahkan seluruh peralatan perangnya dibuang ke dalam air. Artefak-artefak ini adalah bukti material dari kepanikan, strategi, dan perlawanan yang pernah terjadi di tempat ini.

Meriam

Selain meriam, terdapat pula makam-makam keramat yang diyakini sebagai tempat peristirahatan para pejuang atau tokoh masyarakat setempat pada masa itu. Keberadaan makam-makam ini tidak hanya memiliki nilai arkeologis, tetapi juga nilai spiritual dan kultural yang mendalam bagi masyarakat sekitar.

Makam Keramat

Temuan lainnya adalah keberadaan belanga besar periuk raksasa. Keberadaan belanga semacam ini mengindikasikan bahwa Nyireh pernah menjadi pusat logistik dan pemukiman yang padat, mendukung narasi bahwa tempat ini adalah markas pertahanan, bukan hanya tempat persembunyian sementara.

Namun, temuan yang paling dramatis adalah keberadaan bangkai kapal tenggelam di hulu Sungai Nyireh. Temuan ini berpotensi menjadi bukti fisik dari armada perang yang disebutkan dalam catatan Belanda, baik itu bagian dari tiga puluh perahu bantuan dari Lingga dan Temian, atau sisa dari armada Raden Badar yang datang dari Palembang, atau bahkan perahu yang disediakan oleh mantan istri Raden Ali dalam proses penyerahan dirinya. Setiap kemungkinan ini memiliki nilai sejarah yang luar biasa dan menunggu untuk diungkap melalui penelitian arkeologi maritim yang serius.

Keberadaan artefak-artefak ini, meriam, makam keramat, belanga besar, dan kapal tenggelam menegaskan bahwa Nyireh adalah sebuah realitas historis yang jejak fisiknya masih membekas.

Foto Penelitian Awal bersama BPK Babel, penemuan ODCB Bangka Selatan di Desa Pergam, Sungai Nyireh

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah konkret dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat: melakukan inventarisasi dan dokumentasi situs, penelitian arkeologis yang mendalam terutama terhadap kapal tenggelam di hulu sungai serta menjadikan Benteng Nyireh sebagai situs cagar budaya yang dilindungi.

Toboali, 2 September 2026

 

Exit mobile version