Kekayaan Yang Tak Pernah Sampai

Karya: Yanto In Action  (Guru, Penulis Motivator dan Da'wah Indonesia)

 

Di tanah tandus yang tak berair mengalir,

Kekayaan hitam memancar tanpa henti;

Jalan bebas, sekolah dan sehat terjamin,

Rakyat hidup tenang, tak terbeban beban.

 

Negeri sekecil telapak tangan saja,

Gas mengalir jadi kemakmuran nyata;

Tak ada pajak membebani kehidupan,

Hasil bumi sepenuhnya milik rakyatnya.

 

Lalu bagaimana dengan negeri kita ini?

Dihiasi hutan, sawah, dan lautan luas;

Tanah subur, mata air tak pernah kering,

Kekayaan alam terhampar tak terkira.

 

Batu bara terbesar ketiga di dunia,

Gas dan minyak melimpah tak terhitung;

Nikel nomor satu di seluruh penjuru,

Seharusnya jadi kekuatan yang menjulang.

 

Teori berkata: kekayaan membawa berkat,

Membuat negeri mandiri, berdaulat penuh;

Namun kenyataan bicara lain nyatanya,

Kita justru impor apa yang kita miliki.

 

Bahan mentah dijual murah ke luar negeri,

Diolah di sana, lalu dibeli kembali;

Harganya berlipat, kantong rakyat merana,

Kekayaan berlalu, tak ada yang tersisa.

 

Inilah yang disebut kutukan sumber daya,

Bukan karena tanah tak mampu memberi;

Tapi tata kelola yang pincang dan lemah,

Membuat hasil bumi berpindah ke tangan lain.

 

Korupsi merayap bagai rayap di tiang,

Mafia menguasai jalur dan aliran;

Rantai nilai tak pernah kita pegang teguh,

Hanya jadi penambang, bukan pemilik hasil.

 

Orang bilang negeri ini masih miskin,

Padahal kekayaannya melimpah ruah;

Bukan tanahnya yang tak bisa memberi makan,

Tapi caranya dikelola yang salah arah.

 

Indonesia bukan negara yang miskin harta,

Indonesia dibikin terasa miskin saja;

Bukan rakyatnya yang tak pandai berusaha,

Tapi pintu keadilan tertutup rapat-rapat.

 

Bukan tak mampu berdiri tegak sendiri,

Bukan tak bisa mengolah milik sendiri;

Hanya saja sengaja dibuat tak berdaya,

Agar kekayaan terus mengalir ke luar.

 

Sampai kapan kita terjebak dalam lingkaran?

Hingga kapan kekayaan hanya jadi nama?

Saat dikelola dengan adil dan jujur,

Barulah tanah kaya melahirkan rakyat makmur.

Indonesia, juni 2026

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *