Oleh: Rudiyanto, S.Pd.,Gr. (Guru Pendidikan Agama Islam SD Negeri 9 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan)
Sebentar lagi umat Muslim akan segera menyambut bulan Muharram Tahun 1447 Hijriah, yang mana didalamnya terdapat banyak sekali keutamaan-keutamaan. Sebagai umat Muslim yang beriman, hendaknya kita senantiasa berupaya meningkatkan kualitas iman dan amal ibadah kita terutama pada bulan-bulan yang memiliki banyak keistimewaan seperti salah satunya pada momentum bulan Muharram ini. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 1017 Tahun 2024, Nomor 2 Tahun 2024, dan Nomor 2 Tahun 2024 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025, Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H atau Tahun Baru Islam 2025 jatuh pada hari Jum’at Tanggal 27 Juni 2025.
Beberapa kemuliaan bulan Muharram antara lain adalah sebagai berikut:
- Merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyah
Dalam kalender Hijriah, Muharram adalah bulan yang pertama kali dan merupakan sebuah peristiwa penting yang menandai hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Umat Muslim dewasa kini cenderung lupa bahwa bulan Muharram pada hakikatnya adalah Tahun barunya umat Muslim. Dengan demikian, hendaknya yang disemarakkan dan disyiarkan adalah Tahun baru Muharram ini. Berbagai upaya untuk menyemarakkan bulan Muharram ini antara lain adalah dengan menyelenggarakan kajian atau pengajian, melakukan ritual ibadah tertentu dan lain sebagainya
- Termasuk kedalam 4 bulan haram
Di dalam kalender Hijriah, ada 4 bulan haram yang sangat dikenal oleh umat Muslim, antara lain adalah bulan Muharram, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan bulan Rajab. Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimulaiakan (Asy-hurul hurum). Hal ini sesuai firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah SWT dua belas bulan, dalam ketetapan Allah SWT diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram”. (QS. At.Taubah:36). Kemudian dalam Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasullah SAW bersabda yang artinya: “ Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: 3 bulan berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Tsaniah dan Syakban”. (HR. Bukhari dan Muslim).
- Momentum penghapusan dosa
Dalam bulan Muharram ini, terdapat puasa sunnah yang dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu. Puasa sunnah tersebut adalah puasa sunnah Asyura. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi Muhammd SAW, Rasullah SAW pernah ditanya tentang keutamaan puasa Asyura, lalu beliau menjawab, “Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat”. (H.R. Muslim).
- Dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah
Terdapat dua puasa sunnah pada bulan Muharram ini, yakni puasa sunnah Tasua (9 Muharram) dan puasa sunnah Asyura (10 Muharram). Puasa sunnah pada bulan Muharram, terutama puasa sunnah Asyura disebutkan sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah SWT (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim).
Jika puasa Asyura sebagai penggugur dosa umat Muslim setahun yang lalu, maka puasa Tasua disebutkan sebagai pembeda umat Muslim dengan Yahudi, yang mana mereka hanya melakukan puasa sunnah di hari Asyura.
- Dilipatgandakan pahala
Amal ibadah yang dilakukan oleh umat Muslim pada bulan Muharram ini, akan dilipatgandakan oleh Allah SWT pahalanya. Oleh karena itu, mari pada kesempatan bulan Muharram ini kita isi dengan amalan-amalan seperti puasa sunnah, sedekah, dzikir, membaca Al-Qur’an, shalat sunnah, menjaga silaturrahami, menjauhi maksiat dan amal ibadah lainnya. (BP)*












