Keracunan MBG dan Solusinya

Oleh Rudiyanto, S.Pd.,Gr

Guru Pendidikan Agama Islam SDN 9 Airgegas

 

Dewasa kini, fenomena keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah terutama penyelenggara dan pengelola MBG di Indonesia.

Di berbagai daerah di Indonesia, terdapat beberapa kasus keracunan MBG di beberapa satuan pendidikan.

Menurut hemat penulis, beberapa penyebab keracunan MBG ialah makanan yang disajikan telah basi dan sudah tidak layak dikonsumsi, bahan baku yang tidak steril dan lemahnya pengawasan. Sehingga, jika makanan tersebut dimakan maka akan menimbulkan rasa mual atau sakit perut, diare hingga penyakit lainnya. Jika hal demikian tidak ditangani dengan benar dan serius, maka para peserta tidak akan memperoleh makanan yang sehat, bergizi dan bernutrisi.

Oleh karena itu, fenomena keracunan MBG ini perlu dilakukan tindak preventif (pencegahan) dan solusi konkret dari para stakeholder terkait.

Selain itu, beredar luas di media sosial sebuah isu yang menyatakan bahwa sebelum makanan disajikan kepada peserta didik, seorang pendidik harus mencicipinya terlebih dahulu.

Alternatif tersebut cenderung menimbulkan gejolak dan kurang tepat untuk dilakukan. Pada intinya adalah bagaimana agar program MBG ini mulai dari proses, pengolahan, penyajian hingga finishing mengikuti dan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Sehingga, siapapun yang menikmati makanan tersebut tidak akan merasa khawatir.

Menurut hemat penulis, beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk menghindari keracunan MBG antara lain adalah sebagai berikut:

1. Menyediakan bahan baku yang bersih, steril dan layak konsumsi

Beberapa kasus keracunan MBG salah satunya terjadi akibat dari makanan yang disajikan tidak layak lagi untuk dikonsumsi. Indikatornya ialah makanan tersebut terlihat tidak segar dan menimbulkan aroma yang tidak sedap. Oleh karena itu, bahan baku untuk MBG harus benar-benar bersih, steril dan layak konsumsi serta jelas asal-usulnya

2. Makanan mengandung gizi dan nutrisi tinggi

Penyelenggara dan pengelola program MBG hendaknya dapat menggandeng ahli gizi yang kompeten demi untuk dapat menjamin MBG yang akan disajikan kepada peserta didik memiliki nilai gizi yang tinggi serta nutrisi yang baik bagi tubuh. Sehingga MBG dapat berpengaruh positif terhadap tumbuh kembang peserta didik

3. Disiplin waktu pengolahan dan penyajian hingga finishing

Beberapa kasus keracunan MBG disebabkan oleh makanan yang telah basi ketika disajikan. Oleh karena itu, waktu pengolahan makanan hendaknya mengikuti prosedur yang ketat. Selain itu, waktu pengolahan dan penyajian hendaknya tidak terlalu lama. Sehingga makanan yang rentan basi seperti sayur-sayuran dan makanan berkuah akan tetap nyaman dan sehat saat dikonsumsi. Pada saat finishing, atau membersihkan tempat makan atau ompreng hendaknya dilakukan dengan mengikuti prosedur yang ketat agar tempat makan atau ompreng tersebut bersih dan higienis

4. Pengawasan yang ketat

BGN (Badan Gizi Nasional) dan stakeholder program MBG hendaknya dapat senantiasa melakukan pengawasan secara ketat dan berkala. Selain itu, segala kasus-kasus program MBG hendaknya dapat diatasi dengan responsif dan penuh tanggung jawab

5. Evaluasi berkala

Program MBG merupakan salah satu program unggulan yang termasuk dalam asta cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Program ini sangat bermanfaat untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul melalui pemenuhan gizi dan nutrisi para peserta didik. Oleh karena itu, program MBG ini perlu upaya bersama untuk meraih tujuan terbaiknya. Kekurangan-kekurangan yang terjadi hendaknya dapat diselesaikan dengan segera dan tepat sasaran. Saran dan masukan sangat perlu dilakukan agar kedepannya, program MBG ini dapat berjalan dengan lancar.

Exit mobile version