Laporan : Belva Al Akhab
Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat — Embun masih menggantung di ujung rumput, seperti serpihan kaca kecil yang memantulkan cahaya matahari yang belum sepenuhnya percaya diri untuk naik ke langit. Di Lapangan Parkir Timur, suara burung yang biasanya menjadi penguasa pagi hari perlahan tenggelam oleh riuh langkah manusia. Mereka datang bukan sekadar untuk olahraga, melainkan sebagai bagian dari denyut nadi baru pemerintahan yang ingin menautkan kembali hubungan yang lama renggang antara negara dan warga.
Hari itu, Jumat (05/12/2025), jalan sehat memperingati HUT Korpri ke-54 berubah menjadi lanskap yang nyaris simfoni ASN, pelajar, pedagang kecil, hingga ibu-ibu rumah tangga menyatu dalam arus kebersamaan yang jarang muncul di antara kerasnya rutinitas birokrasi.
Dalam atmosfer yang masih basah oleh sisa malam, satu sosok tidak berdiri di podium. Ia menyatu dalam barisan. Bupati Bangka Barat Markus, S.H, seperti daun yang enggan lebih tinggi dari batangnya, memilih menjadi bagian dari kerumunan.
Dari mikrofon mungil yang ia genggam, suaranya hadir tanpa formalitas kaku.
“Kebersamaan yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk Korpri, tapi untuk menjaga silaturahmi dan kesehatan jiwa kita sebagai satu keluarga besar Bangka Barat.” Jelas Markus.
Kata-katanya mengalir seperti sungai kecil yang mencari celah masuk ke hati. Di balik keheningan sesaat yang mengikuti kalimat itu, ada sesuatu yang bergerak pemerintahan yang ingin dikenang bukan karena kebijakan, tetapi karena kedekatannya.
Ketika gerakan “mulai” dilepas, massa berjalan seperti arus air yang menemukan jalur alami. Tidak ada sekat. Tidak ada garis yang membedakan pangkat.
Di sinilah terasa bahwa pagi itu bukan sekadar agenda kerja, melainkan sebuah ritual sosial.
Seorang ibu bernama Yulita, menggandeng anaknya, berkata lirih.
“Hari ini beda… Pemerintahnya terasa lebih dekat.”
Suara sederhana itu justru menjadi penanda paling kuat bahwa pembangunan bukan hanya soal angka PDRB atau grafik investasi, tetapi soal rasa diterima.
Anak-anak berlarian dengan balon bertuliskan “Korpri 54”, seolah menjadi lambang bahwa institusi negara yang dulu identik dengan kesan kaku kini membuka halaman baru yang lebih hangat.
Usai garis finish, Bupati tidak kembali ke kursi empuk atau ruang ber-AC. Ia tidak menghilang ke balik pintu kaca.
Ia justru bergerak menuju deretan lapak UMKM yang sering dipandang sebagai tempelan acara namun hari itu, justru menjadi pusat panggung.
Markus tidak hanya melihat.
Ia membeli.
Tidak hanya mengangguk.
Ia berbicara.
Setiap bungkus keripik yang ia pegang, setiap botol minuman herbal yang ia bayar, setiap kerajinan tangan yang ia borong semuanya membentuk gestur yang terasa lebih tajam dari pidato panjang.
Surianti, pedagang yang wajahnya cerah oleh kejutan, berkata dengan suara bergetar.
“Dagangan cepat habis… Ini jarang sekali. Pemerintah hari ini benar-benar memperhatikan kami.”
Dalam narasi pembangunan daerah, kegiatan kecil ini mungkin tampak sepele. Namun bagi pedagang kecil, empati adalah modal yang lebih mahal dari sekadar stimulus ekonomi.
Bupati Markus merangkum semuanya dengan kalimat yang menegaskan arah pembangunan daerah.
“UMKM adalah nadi ekonomi kita. Kalau Bangka Barat ingin kuat, UMKM harus hidup.” ungkap Markus bernada keyakinan.
Kalimat itu, bila ditarik lebih jauh, mengandung propaganda yang halus namun efektif bahwa pemerintah hadir sebagai patron ekonomi rakyat, bukan sekadar pengatur regulasi.
Ketika panitia mulai memanggil nomor undian, kerumunan berubah menjadi kebun suara riuh, gemuruh, dan sesekali tawa pecah seperti petasan kecil.
Sorakan meledak ketika Salman memenangkan sepeda.
“Saya cuma ikut jalan sehat, tiba-tiba pulang bawa sepeda. Ini rezeki Jumat!” serunya.
Dalam euforia itu, ada nilai yang jauh lebih besar keadilan kecil.
Hadiah tidak mengenal pangkat dan jabatan. Mereka datang sebagai lambang kesetaraan yang sering hilang dalam hiruk pikuk administrasi.
Ketika suasana mulai tenang, Sekda Bangka Barat Drs. Muhammad Soleh memegang mikrofon.
Suaranya bukan suara pejabat yang membaca teks. Lebih seperti suara seorang ayah yang sedang meminta sesuatu dengan hati.
“Aceh, Sumut, dan Sumbar sedang mengalami bencana. Banyak masyarakat terisolir. Mari kita ringankan beban mereka.” ungkap Drs. Muhammad Soleh.
Sorot matanya teduh, namun ada ketegasan yang menyiratkan pesan moral: bahwa solidaritas tidak bisa menunggu rapat koordinasi.
Ia menambahkan.
“Jalan sehat ini bukan sekadar kegiatan, tapi ruang untuk berbagi rasa.” tambahnya.
Kalimat itu mengubah ritme acara.
Tawa mereda.
Empati naik ke permukaan.
Pada momen itu, terasa jelas bahwa pemerintah Bangka Barat sedang mencoba membangun identitas baru pemerintahan yang bukan hanya hadir secara fisik, tetapi hadir secara nurani.
Pagi itu, di hadapan langit yang semakin cerah, tampak jelas bahwa jalan sehat ini bukan sekadar olahraga massal.
Ia adalah narasi politik yang dibungkus rapi, disampaikan lembut, dan dihidangkan dalam bentuk yang membuat rakyat merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga besar.
Narasi bahwa:
pemerintah bisa turun ke lapangan tanpa jarak,
UMKM bukan pelengkap, melainkan fondasi,
solidaritas lintas daerah adalah bagian dari identitas daerah,
dan bahwa “pemerintahan humanis” bukan sekadar jargon, tetapi praktik yang ditunjukkan melalui gestur.
Di Lapangan Parkir Timur itu,
kebersamaan tumbuh seperti matahari yang perlahan mengeringkan embun.
Masyarakat berjalan,
pemerintah menuntun,
dan Bangka Barat belajar bahwa daerah kuat bukan karena gedungnya, tetapi karena rasa saling memeluk satu sama lain.
Hari itu, Bangka Barat tidak hanya merayakan HUT Korpri ke-54.
Hari itu, Bangka Barat belajar bergerak sebagai satu tubuh.
Negeri kecil di ujung pulau ini sedang menulis bab baru.
bab tentang pemerintahan yang ingin dikenal bukan hanya karena regulasinya, tetapi karena kemanusiaannya.
