Ketika Tangan-Tangan Muda Menjaga Indonesia: Solidaritas MAPALA–SISPALA Babel bagi Korban Bencana Sumatra

Laporan : Belva

Bekaespedia.com, Pangkalpinang,- Pada Minggu pagi yang masih lembab oleh sisa hujan, puluhan anggota Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) dan Siswa Pencinta Alam (SISPALA) berkumpul di halaman sebuah gedung putih sederhana di Pangkalpinang. Di tengah udara yang dingin, mereka berdiri rapat membentuk barisan panjang. Wajah-wajah muda itu basah, lelah, tetapi bersinar baru saja menuntaskan aksi penggalangan dana untuk korban banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Di tangan mereka, kotak donasi yang mulai lembap dan selebaran lusuh menjadi saksi perjalanan seharian penuh.

Mereka mengetuk kaca kendaraan, menyapa pejalan kaki, dan mengulur waktu remaja mereka untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri.

Dari aksi yang berlangsung beberapa jam itu, terkumpul Rp6.246.600, gabungan dari donasi lapangan dan sumbangan digital. “Jumlah ini bukan besarannya yang kami lihat,” kata Ridho Azhari, Koordinator PKD Mapala Babel. “Aksi peduli sosial ini lahir dari kesadaran sederhana alam tempat kami berkegiatan adalah rumah bersama. Ketika rumah itu terluka, kita tidak boleh membiarkannya sendiri.”

Hujan turun sejak pagi. Pakaian lapangan sebagian relawan tampak basah di ujungnya. Namun dalam foto dokumentasi aksi, senyum tak pernah absen.

Dari seragam krem hingga syal berwarna hijau, biru, dan oranye, warna-warna itu mewakili organisasi yang berbeda:

KOPASSAS Babel,  KOMPAS UBB,PETA ALUR, GEMPAL UNMUH Babel, GASIPA SMK 1 Mendo Barat, PASGAM SMA Muhammadiyah Toboali

Di antara mereka, ada yang masih duduk di bangku SMA, anak-anak dengan sandal gunung yang masih basah, celana lapangan yang belum kering, dan wajah yang masih tampak sangat remaja. Tetapi sikap mereka saat terjun ke jalan menunjukkan kedewasaan yang lahir bukan dari umur, tetapi dari empati.

“Setiap rupiah yang orang berikan, sekecil apa pun, selalu membawa sebuah doa,” ujar Vioni Rahmawati, perwakilan KOMPAS UBB.

Di depan mereka, dua kotak donasi ditutup plastik bening untuk menghindari air hujan. Tulisan sederhana “Peduli Bencana Aceh – Sumut – Sumbar” terlihat mulai luntur, tetapi makna upaya itu tetap utuh: menghubungkan kepedulian dari satu pulau ke pulau lain.

Seperti lazimnya bencana di Indonesia, banjir bandang di Sumatra merampas banyak: rumah, ladang, perabot, dan kenangan. Bagi sebagian keluarga, air bah bukan hanya menghanyutkan harta, tetapi juga menghapus ruang aman mereka.

Para relawan muda dari Babel memahami hal itu. Itu sebabnya dana yang mereka kumpulkan, meski tak dapat mengganti seluruh kerugian, tetap berarti:

menjadi selimut bagi seorang ibu yang kehilangan dapur,

menjadi makanan hangat bagi anak-anak yang malamnya digantikan oleh suara sungai yang mengamuk,

menjadi tenda darurat bagi keluarga yang kini tidur di halaman masjid,

menjadi napas tenang bagi mereka yang seharinya habis untuk bertahan.

Dalam aksi solidaritas semacam ini, para pecinta alam muda belajar bahwa kepedulian bukan wacana. Ia lahir dari langkah, dari tangan yang terulur, dari waktu yang dikorbankan.

Mereka belajar bahwa Indonesia sebesar apa pun wilayahnya menjadi lebih kecil ketika warganya saling memandang sebagai keluarga.

Kegiatan rombongan yang diabadikan selepas aksi memperlihatkan sesuatu yang lebih dari sekadar dokumentasi kegiatan. Ada energi yang kuat di sana.

Gedung putih yang menjadi latar terlihat seperti tempat perjumpaan gagasan-gagasan muda yang bersih dan jernih. Pohon-pohon tinggi di belakang mereka berdiri teduh, seolah menyaksikan generasi baru yang tumbuh bukan hanya mencintai alam, tetapi juga manusia yang tinggal di atasnya.

Di tengah riuh berita tentang kerusakan lingkungan, konflik sumber daya, dan bencana yang berulang, aksi MAPALA–SISPALA Babel menjadi pengingat bahwa masih ada ruang bagi manusia untuk saling menjaga.

Indonesia adalah negeri bencana, tetapi sekaligus negeri gotong royong.

Dari Bangka Belitung, tangan-tangan muda itu mengirim pesan sederhana tetapi tegas kepada saudara mereka di Sumatra:

“Kami bersama kalian.”

Dan dalam dunia yang berubah cepat, mungkin pesan seperti inilah yang membuat bangsa ini tetap bertahan bukan hanya oleh kekuatan negara, tetapi oleh kepedulian warganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *