Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ وَقَالَ تَعَالَى: ﴿ وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ﴾
Jamaah Shalat Jum’at Rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena hanya dengan ketakwaan, kita akan mendapatkan kehidupan yang penuh dengan berkah.
Tidak lupa juga untuk selalu bersyukur kepada Allah, karena di siang ini, di hari Jumat yang mulia ini, Allah masih berkenan melimpahkan dua nikmat terbesar yang diberikan kepada kita, yaitu keimanan dan kesehatan. Dengan keimanan, kita bisa ringan tanpa beban menjalankan tuntunan Allah. Dengan kesehatan, kita memiliki kekuatan melaksanakan aturan Allah.
Jamaah Shalat Jum’at Rahimakumullah
Fenomenologi di tengah masyarakat Indonesia sekarang terjadi, misalnya, masalah saling bunuh antarsesama karena persoalan sepele. Kegelisahan dan kesehatan mental masyarakat dirasakan semakin memburuk sehingga sering menimbulkan konflik di tengah masyarakat.
Selain itu, lapangan pekerjaan mulai mengalami kesulitan, harga sembako merangkak naik yang tidak terkendali, pajak semakin dirasakan memberatkan rakyat akar rumput (Masyarakat kecil), kejahatan judi online dan narkoba serta maling uang rakyat secara sistemik semakin menunjukkan tren menaik.
Melakukan pelanggaran terhadap Pancasila dan UUD dianggap hal yang biasa, dan para elit bangsa dan artis yang diberi rezeki berlimpah tak mencerminkan diri mereka sebagai pemimpin bangsa dan teladan yang positif, bahkan ada kecenderungan pembusukan dari dalam terhadap NKRI. Belum lagi masalah penegakan hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah sangat menyinggung perasaan dan batin sehingga menimbulkan sikap apatis sebagian besar rakyat.
Hal-hal yang disebutkan di atas merupakan isyarat hilangnya keberkahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, Allah SWT, menutup pintu dan jalan ziyadatul khair (tambahan kebaikan) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga di mana-mana dirasakan kehidupan dan penghidupan dirasakan mengalami kesulitan secara psikis dan fisik.
Jamaah Jumat yang Disayang Allah
Adapun makna keberkahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan dengan karunia Allah yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Dalam pergaulan sehari-hari seringkali digunakan kata berkah atau barokah. Barokah atau berkah dimaknai sebagai ziyadul khair (زِيَادَةُ الْخَيْر), artinya bertambahnya kebaikan Allah terhadap hamba-Nya, yaitu dimudahkan segala urusan sehingga bertambah kebaikan dan kebermanfaatan.
Ensiklopedi al-Qur’an, Jilid I, Lentera Hati, 2007, halaman 131, disebutkan bahwa keberkahan meliputi keturunan dengan lahirnya generasi yang kuat di segala bidang dan harta benda yang melimpah ruah, makanan yang mengenyangkan, dan waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Jamaah Jumat Rokhimakumullah
Penyebab semua ini menurut pengamal tasawwuf ada 4 sehingga pintu-pintu keberkahan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara itu tertutup, yaitu:
1. Berhadas besar dan bersuci harus diperhatikan sebagaimana tuntunan Rasulullah Saw. dalam berwudu dan mandi junub. Yang dimaksud dengan berhadas besar adalah pasca jimak atau ke luar mani sengaja atau tidak sengaja wajib mandi besar. Hadas kecil adalah selalu mendawamkan wudlu anywhere anda berada. Malah, terkadang ada sebagian kecil pemeluk Islam yang habis berjimak dan berhadas kecil tidak bersuci. Sangat celaka sekali hal ini kalau dilakukan berulang-ulang dan dianggap “enteng” sebagaimana kelakuan penganut ateis dan sekuler. Ingat hadis Nabi yang mengabarkan orang disiksa kaena persoalan hadas kecil dan pipis sembarangan.
2. Bermaksiat 7 anggota tubuh. Kata maksiat dalam KBBI adalah perbuatan yang melanggar perintah Allah; perbuatan dosa (tercela, buruk). Istilah Islamnya adalah perilaku manusia yang melanggar hukum moral yang bertentangan dengan perintah Allah swt. Dalam “Kitab Bidayatul Hidayah” karya Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111 M), disebutkan bahwa ada 7 anggota tubuh yang harus dijaga dari perbuatan maksiat (immoral), yaitu mata, telinga, lidah (lisan), perut, kemaluan (farjun), kedua tangan, dan kedua kaki.
3. Sifat hatinya yang rusak, nafsu dunia (loba dan tamak), melakukan pekerjaan syaitan, jahil, berdusta, khianat (melanggar amanah), ingkar janji, panjang angan-angan, lalai kepada Allah SWT, sum’ah (ingin dipuji melakukan suatu perbuatan lawan ikhlas), riya’, hasad, dengki, iri, terpesona dengan dunia (berlebihan cinta kepada dunia dan takut mati; حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ), gaya hidup hedonis dan gaya hidup biar tekor asal kesohor.
4. Tidak pandai bersyukur.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (سُوْرَة إبْرَاهِيْم: 7)
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Coba perhatikan Ummul Kitab, al-Fatihah ayat pertama dimulai dengan syukur. Syukur ini mencakup kalangan elit bangsa dan rakyat akar rumput pada umumnya. Lalu dilanjutkan dengan kata “Pengabdian” (نَعْبُدُ), diteruskan dengan “permintaan apa yang Anda butuhkan” (نَسْتَعِيْن), ditutup dengan istiqamah (konsisten): jangan sampai ada penyimpangan ke jalan yang bengkok dan rusak.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Supaya keempat tutup tadi dibuka, maka Allah memberi petunjuk dalam Kitab Suci al-Quran, Surat al-Maidah ayat 48, Surah an-Nahl ayat 125, Surah al-Jinn ayat 16, Surah Anfal ayat 17, dan Surah Shaffat ayat 56.
Firman Allah dalam Surat al-Maidah ayat 48 yang artinya: “Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Jika sekiranya Allah menghendaki niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja) akan tetapi Allah hendak menguji kalain terhadp pemberian-Nya kepada kalian, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kalian kembali semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu”.
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, karya al-Hafizh Imaduddin Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi (w. 1372 M), dijelaskan bahwa Allah Swt. menurunkan Kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s., Kitab Injil kepada Nabi Isa a.s., dan sebagai penutup menurunkan Al-Qur’an al-‘Azhim kepada Nabi Muhammad SAW.
Kitab al-Quran menjadi saksi, hakim, dan penutup dari kitab-kitab yang Allah turunkan. Jelas sekali kata Ibnu Katsir, jika ingin selamat di dunia-akhirat, jangan sekali-kali menuhankan hawa nafsu. Dan sebaliknya, yang mengikuti hawa nafsu akan celaka.
Allah SWT berfirman dalam surat al-Nahl ayat 125 yang artinya: “Ajaklah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-Mu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna hikmah ialah pelajaran-pelajaran baik yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah, berupa larangan-larangan serta berbagai kisah dan peristiwa yang disampaikan agar manusia dapat bersikap hati-hati dan waspada dalam menjalani kehidupan di dunia.
Lalu dijelaskan juga bahwa makna “dengan cara yang lebih baik dalam berdebat-berdiskusi” adalah cara yang baik, tutur kata yang santun, dan lemah lembut dengan merujuk kepada kasus Nabi Musa dan Harun ketika berdakwah kepada Fir’aun. Mengapa harus dilakukan demikian itu karena Allah sudah tahu siapa yang sengsara dan bahagia. Dan jangan bersedih atas kesesatan di antara mereka sebab hidayah itu hak Allah kepada siapa akan diberikan.
Ini artinya dilarang keras para ulama, ustaz, ustazah, kiai menyampaikan “Risalah Allah dan Rasul-Nya” dengan tutur kata yang tidak santun, berjadal (berdebat) dengan hujjah (argumen) yang sahih, dan jangan sekali-kali saling menjelekkan sesama ulama, kiai, ustaz-ustazah karena kepentingan dunia, apalagi mengklaim paling benar.
Ini adalah bermulanya diangkat keberkahan dalam diri seseorang, lalu bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Allah berfirman dalam Surat al-Anfal ayat 17 yang artinya: “Maka (yang sebenarnya) bukan kalian yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka dan bukanlah kalian yang melempar ketika kalian melempar, tetapi Allah-lah yang melempar (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keberhasilan semua hamba-Nya karena kasih sayang Allah semata. Sebab itu dalam Islam tak ada yang perlu ditakuti berjuang untuk dan atas nama Allah karena di sana ada campur tangan Allah di dalamnya. Dalam konteks inilah penegasan ayat di atas: jika kalian ingin sukses di dunia dan di Akhirat, berserah dirilah sepenuhnya mengharap Rahmat, Ridha, Barokah dan Anugerah serta Kasih Sayang Allah Swt.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt
Pertanyaannya adalah apakah personil dan strategi serta fasilitas tidak diperlukan dalam berusaha dan berjuang. Tentu diperlukan sebagai sebuah ikhtiyar syar’i (sunnatulah atau nature of law) yang wajib disiapkan. Manusia berikhtiyar (kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas) dan ketentuan terakhir Allah yang memiliki haknya.
Lalu hal itu ditegaskan Allah dalam surat al-Shaffat, ayat 56 bahwa “Jika bukan karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke-Neraka)”. Sebab itulah mengapa hambaNya harus mentauhidkan-Nya
Demikianlah Jama’ah Jum’at yang disayang Allah, ada empat pula yang harus dilakukan berhadaslah dengan baik dan benar, pelihara ketujuh anggota tubuh dari berbuat maksiat, sinarlah hati dengan Cahaya (Nur) Ilahi sehingga jauh dari kerusakan, dan terakhir jadilah hamba Allah yang pandai bersyukur.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Jumat II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ وَأشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ












