Khutbah Jum’at : PENUTUP PINTU REZEKI

Oleh: Saidun Derani dan Minatur Rokhim

 

Khutbah Jumat I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،

إِنَّ مِمَّا يُغْلِقُ أَبْوَابَ الرِّزْقِ: النَّوْمُ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِالتَّكَاسُلُ عَنِ الصَّلَاةِالإِسْرَافُ وَالتَّبْذِيرُالخِيَانَةُ

فَلْنَتَّقِ اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَلْنُرَاجِعْ أَنْفُسَنَا، وَلْنَتُبْ إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَفْتَحَ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِهِ وَرِزْقِهِ

Jamaah Jumat Rohimakumullah

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan teman atau keluarga dan bahkan diri sendiri mengalami terasa begitu berat dalam urusan rezeki. Dan masalah keseratan atau kesulitan rezeki ini dapat menimbulkan stress dan menyebabkan seseorang kehilangan harga diri. Timbul pertanyaan apa yang menjadi penyebab rezeki terasa berat dalam kehidupan. Dan rezeki itu apa saja termasuk di dalamnya

Makna rezeki dalam Kitab Sabil al-‘Abid ‘ala Jauhar al-Tauhid, karya KH Soleh Darat (1820-1903), Guru dari KH. Ahmad Dahlan (wa. 1923) dan KH. M. Hasyim Asy’ari (w. 1947) adalah sesuatu yang sudah diambil manfaatnya dengan perbuatan.

Sebagai contoh dikatakan bahwa jika berupa makanan berarti sudah dimakan. Kalau berupa pakaian yang sudah dipakai. Kalau ada seseorang memiliki sebidang kebun singkong akan tetapi belum dimanfaatkan maka hal itu belum bisa dikatakan rezeki karen baru berupa sesuatu yang ia miliki.

Dan rezeki ini ada yang makruh dan pula yang haram. Rezeki yang halal diperbolehkan menurut syara’, ijma’ dan qiyas. Sedangkan yang makruh adalah barang-barang syubhat menurut syara’. Korupsi, nyolong, berjualan barang haram masuk katagori rezeki yang haram.

Rezeki yang mahal adalah rezeki berupa kesehatan fisik lahir batin, dan kelapangan hati serta dimudahkan segala urusan dunia dan Akhirat.

Jamaah Jumat Rohimakumullah

Dari Imam Syafi’i (w. 820 ) ( naman lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhamad bin Idris asy-Syafi’i) dikutip dari Kitab Nashoihul ‘Ibad, karya Imam Nawawi Dimasqi (w. 1277) dari Rasulullah berkata bahwa penutup dan penghambat kelancaran rezeki itu ada empat.

1. Tidur Setelah Shalat Subuh (naum ba’das subuh)

Mengapa Rasul Allah melarang pemeluk Islam tidur setelah sholat subuh ternyata ada kaitan dengan persoalan kesehatan karena dapat mengentalkan darah. Sedangkan darah adalah ruh jiwa. Pasca solat subuh yang seharusnya jadwal kerja limpa akhirnya terganggu yang menyebabkan limpa menjadi lemah karena pelakunya tidur. Hal ini menyebabkan kelemahan jiwa maka akan terjadi gangguan emosi yang menyebabkan kesehatan menurun.

Sebagaimana diketahui bahwa limpa adalah pusat dari kekuatan darah. Sedangkan darah sebagai pengangkut nutrisi dan jika pengangkut nutrisinya bermasalah maka akan bermasalah pula semua sistem atau terjadi autoimun, demikian penjelasan seorang Terapis ketika ditanya masalah ini.

Bahwa limpa adalah organ vital dalam sistem kekebalan tubuh. Fungsinya menjaring darah, menghancurkan sel darah merah yang tua/rusak, menyimpah darah cadangan dan memproduksi sel darah putih untuk melawan infeksi. Jadi limpa adalah fungsi filter yang menjaga kualitas darah agar tetap bersih dan sehat.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا (رواه أبو داود والترمذي)

Artinya: “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka.”

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ (طه: 130)

Artinya: “Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari.”

Dari dalil ini, para ulama memahami bahwa waktu setelah Subuh adalah waktu yang penuh keberkahan, sehingga dianjurkan untuk diisi dengan dzikir, ibadah, atau aktivitas produktif—bukan dihabiskan untuk tidur kecuali ada kebutuhan.

2. Malas Shalat (al-takasul ‘an al-shalat)

Malas shalat adalah kondisi di mana seseorang merasa berat (terpaksa), menunda-nunda atau meremehkan kewajiban shalat lima waktu walaupun dia meyakini bahwa shalat itu wajib. Islam mengganggap sikap ini indikasi kurangnya iman, jauh dari Allah Swt, atau pengaruh hawa nafsu dunia.

Indikasi malas shalat tidak bersegera memenuhi panggilan azan, sering mengerjakan shalat di akhir waktu, tak khusyu’, atau bahkan meningalkan shalat karena merasa lelah atau sibuk dengan urusan duniawi.

Ulama menyebutkan bahwa penyebabnya karena tak paham makna shalat (bukan sekedar kewajiban tetapi kebutuhan), tak paham arti bacaan shalat, lemahnya motivasi spiritual, pengaruh lingkungan dan godaan hawa nafsu.

Dalam konteks ini, malas dalam melaksanakan shalat menunjukkan sikap yang menyerupai sifat orang munafik. Sikap tersebut dapat menjauhkan seseorang dari rahmat Allah dan termasuk bentuk kelalaian yang telah diperingatkan dalam Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ma’un ayat 4 dan 5 berikut:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.”

Jamaah Jumat Rohimukumullah

3. Gaya hidup konsumtif (al-irsaf wa al-tabzir)

Salah satu penyebab tertutupnya pintu rezeki adalah gaya hidup konsumtif, yaitu kebiasaan berlebihan dalam menggunakan harta tanpa pertimbangan yang bijak. gaya hidup ini mendorong seseorang untuk terus mengikuti keinginan, bukan kebutuhan, sehingga sering kali terjadi apa yang disebut “besar pasak daripada tiang.”

Islam tidak melarang kita menikmati rezeki, namun melarang sikap berlebih-lebihan dan pemborosan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 31:

وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: “dan janganlah kamu berlebih-lebihan. sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Gaya hidup konsumtif yang berorientasi pada kesenangan sesaat dapat menyeret seseorang pada kesulitan hidup, seperti lilitan utang, kegelisahan, dan hilangnya keberkahan rezeki.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat bernama abu umamah yang sedang gelisah karena terlilit utang. lalu rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ(رواه أبو داود)

Artinya: “Ya allah, aku berlindung kepada-mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.”

Dari sini kita memahami bahwa pengelolaan harta yang tidak bijak, termasuk gaya hidup konsumtif, dapat membawa seseorang pada kesulitan hidup. oleh karena itu, marilah kita hidup sederhana, mengutamakan kebutuhan daripada keinginan, agar rezeki yang kita miliki menjadi berkah dan membawa ketenangan.

4. Khianat (khianat)

Khianat adalah perbuatan tidak jujur, seperti menipu, berbuat curang, atau melanggar janji dan amanah yang telah dipercayakan. Sikap ini menunjukkan ketidaksetiaan terhadap tanggung jawab dan merupakan perbuatan tercela dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam surat al-Anfal ayat 27:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.”

Rasulullah SAW juga bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ (متفق عليه)

Artinya: “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.”

Ma’asyiral muslimin,

Perbuatan khianat tidak hanya merusak hubungan sosial dan menghancurkan kepercayaan, tetapi juga dapat menghilangkan keberkahan dalam hidup. Seseorang yang terbiasa berkhianat akan sulit dipercaya, sehingga peluang dalam pekerjaan, usaha, dan pergaulan menjadi semakin sempit.

Oleh karena itu, marilah kita menjaga amanah dengan sebaik-baiknya, berlaku jujur dalam setiap urusan, agar Allah ﷻ melimpahkan keberkahan dan meluaskan rezeki kita.

Jamaah Jumat yang dimulyakan Allah

Pertanyaan di awal khutbah mengapa dalam kehidupan sehari-hari rezeki kita mengalami keseretan/kesulitan dan Rasulullah memberi solusi dengan mengatakan bahwa ada empat hal yang menjadi penyebanya, yaitu tidur pasca shalat subuh, lalai shalat, malas atau gaya hidup hedon/konsumtif, dan terakhir berkhianat.

Dari atas mimbar khotib mengajak mari keempat perilaku di atas untuk segera dibuang dan diganti Jamaah Jumat dengan sebaliknya yaitu biasakan gaya hidup sehat, melaksanakan perintah Allah sebagai sebuah kebutuhan, buang kebiasaan tidur pasca shalat subuh, dan kubur dalam-dalam karakter berkhianat (pembohong dan ingkar janji). InsyaAllah rezeki akan lancar seperti air mengalir di pematang sawah.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

 

Khutbah Jumat II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ وَأشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version