Foto : Kegiatan Selamatan Paket Pekerjaan Konstruksi Penataan Kawasan Kota Tua Mentok
Penulis: Belva Al Akhab, Satrio, dan Tim
Bekaespedia.com, Mentok, -Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mulai mengarahkan langkah baru dalam pembangunan Kota Mentok melalui penataan kawasan kota tua dengan konsep Kluster Eropa. Proyek yang dipusatkan di kawasan Taman Lokomobil dan Lapangan Gelora ini tidak hanya dirancang sebagai pembenahan infrastruktur, tetapi juga sebagai strategi besar untuk menggerakkan ekonomi, memperkuat identitas kota, serta menjawab harapan masyarakat yang selama ini menunggu perubahan nyata.
Didukung pendanaan penuh dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia, proyek ini menjadi momentum penting bagi Bangka Barat untuk berkembang tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Pelaksana Tugas Kepala BKPSDM Bangka Barat, Heru Warsito, menilai peluang tersebut sebagai langkah strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal.
“Ini bukan menggunakan APBD. Artinya, daerah mendapatkan kesempatan besar untuk berkembang tanpa membebani anggaran lokal. Harapannya, ini mampu menggerakkan perekonomian masyarakat dan membawa Mentok menjadi lebih maju,” ujar Heru dalam kegiatan sosialisasi.
Dalam kerangka pembangunan daerah, proyek ini ditempatkan sebagai investasi jangka panjang yang tidak hanya membangun fisik kawasan, tetapi juga membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru, khususnya melalui sektor pariwisata berbasis sejarah dan budaya.
Sekretaris Daerah Bangka Barat, Abimanyu, menambahkan bahwa pembangunan Kluster Eropa merupakan bagian dari transformasi wajah kota yang selama ini menyimpan potensi besar, namun belum tergarap secara optimal.
Ia mengenang kawasan Taman Lokomobil sebagai ruang yang dahulu sangat berbeda dari hari ini.
“Dulu ini hanya hamparan rumput. Orang-orang menggembalakan sapi dan kambing di sini. Sekarang berubah dan akan kembali berubah,” tuturnya.
Transformasi tersebut mencerminkan pergeseran fungsi ruang dari kawasan agraris tradisional menjadi kawasan urban yang diarahkan sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata.
Meski demikian, perjalanan proyek ini tidak sepenuhnya mulus. Rencana awal yang telah disusun sejak 2023 melalui Detail Engineering Design (DED) sempat mengalami penyesuaian akibat pandemi COVID-19 dan perubahan kebijakan anggaran nasional.
Nilai proyek yang sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar Rp 65 miliar mengalami pengurangan. Namun, pemerintah daerah menegaskan bahwa substansi pembangunan tetap menjadi prioritas utama.
“Tidak masalah anggarannya berkurang. Yang penting proyek ini berjalan dan bisa mengubah wajah Kota Mentok,” kata Abimanyu.
Pernyataan tersebut menegaskan pendekatan pembangunan yang lebih adaptif, dengan fokus pada realisasi program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Lebih jauh, pemerintah daerah juga menyadari bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari hasil fisik, tetapi juga dari tingkat kepercayaan publik. Selama ini, masyarakat Mentok kerap mempertanyakan lambannya perubahan dibandingkan daerah lain.
“Masyarakat sudah lama bertanya, kenapa Mentok tidak berubah-ubah. Bahkan dibandingkan daerah lain, kita dianggap tertinggal,” ungkap Abimanyu.
Dalam konteks tersebut, Kluster Eropa menjadi simbol sekaligus jawaban atas harapan masyarakat. Pemerintah daerah menempatkan proyek ini sebagai langkah konkret untuk mengubah persepsi sekaligus realitas pembangunan di Mentok.
Secara konseptual, Kluster Eropa dirancang untuk menghadirkan kawasan wisata berbasis sejarah dan arsitektur, yang diharapkan mampu mendorong berbagai dampak ekonomi, antara lain peningkatan kunjungan wisatawan, pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta penciptaan lapangan kerja baru.
Heru Warsito menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat sebagai pelaku utama dalam menghidupkan kawasan tersebut.
Sosialisasi yang dilakukan, menurutnya, bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya membangun pemahaman bersama tentang arah pembangunan daerah.
“Pembangunan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat agar manfaatnya benar-benar dirasakan bersama,” ujarnya.
Dengan demikian, Kluster Eropa tidak hanya diposisikan sebagai proyek infrastruktur, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun masa depan kota.
Kini, Mentok berada pada fase penting dalam perjalanan pembangunannya di antara warisan sejarah yang kuat dan tuntutan perubahan yang semakin mendesak.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui proyek ini berupaya menjadikan kota tua tersebut tidak sekadar bertahan sebagai simbol masa lalu, tetapi tumbuh sebagai pusat aktivitas baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Ke depan, keberhasilan Kluster Eropa akan menjadi tolok ukur sejauh mana pembangunan yang dirancang mampu memberikan dampak nyata, tidak hanya mempercantik kawasan, tetapi juga menggerakkan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.
Di tengah proses yang masih berjalan, satu hal yang mulai terlihat arah yang semakin jelas bahwa Mentok sedang dibangun kembali bukan hanya sebagai kota tua, tetapi sebagai kota yang memiliki masa depan.
