Oleh: Ummi Sulis
Bekaespedia.com, Seperti biasanya, hari-hari berlalu dengan beragam aktivitas rumahan dan permainan bagi anak-anak. Abang Avicenna dan Adek Alka tak terkecuali. Mereka sedang mengutak-atik kipas angin rusak. Dalam hitungan menit, semua bagian kipas angin sudah berserakan di lantai.
“Dek, kayaknya kipas ini bermasalah pada dinamonya, deh. Tengoklah, putarannya sudah lemah,” ujar Abang. Dia meletakkan dinamo pada penguji listrik untuk melihat putarannya.
“Ah, iya. Berarti harus ganti dinamo, ya?” jawab Adek.
Tiba-tiba terdengar HP Abi berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Kedua beradik itu pun memanggil abinya untuk memberikan HP.
“Dari Pakde,” ujar Abang memberikan HP itu.
Sampai 15 menit kemudian, Abi terlihat gelisah, menemui Ummi. Tampak mereka berdiskusi.
“Kenapa, Bi, kayak sedih gitu.” Adek bertanya dengan khawatir
“Kakek terjatuh, sama Nenek juga. Tapi Kakek gak bisa jalan. Abi diminta pulang.” Abi menjelaskan.
“Pulang aja, Bi, siapa tahu Kakek kenapa-napa.” Abang mengusulkan.
“Iya, Bi, Insyaa Allah Ummi sama anak-anak di sini. Kan mereka sekolah. Biar Abi mengajukan cuti.” Ummi memberikan solusi.
“Iya, tadi juga sudah diberitahukan ke Mamak, mau ngajukan cuti dulu, baru balik ke Jogja,” ujar Abi sendu.
“Semangat, Bi, semoga Kakek bisa sehat kembali.” Abang menguatkan.
Senin Abi mengurus cuti ke Dinas Pendidikan Kabupaten, Selasa berangkat ke Sungailiat karena Rabu pagi berangkat ke Jogja. Ummi tinggal bersama anak-anak. Doa keselamatan mengiringi kepergian Abi ke Jogja, semoga Abi selamat, Kakek juga baik-baik saja. Kakek dibawa ke Klaten, dirawat di Rumah Sakit Klaten. Kabar mengejutkan, Kakek dalam keadaan koma.
Abang dan Adek merasa sedih, mereka tidak seceria biasanya, bahkan enggan bermain.
“Kita doakan Kakek segera pulih, ya.” Ummi memberi penguatan.
“Iya, Mi, Kakek kan tentara hebat, bahkan sudah pernah merasakan susahnya medan perang. Masih ingat waktu Kakek cerita pernah menjaga di perbatasan Timor Timur sama Papua,” kenang Abang.
“Kakek termasuk pahlawan, ya, Mi?” tanya Adek.
“Iya, pahlawan bagi keluarga, juga bangsanya,” jawab Abang.
“Nah, betul itu. Kakek adalah pahlawan di hati kita dan pahlawan bagi negeri ini. Karena menjaga perbatasan zaman dahulu itu berat. Apalagi Kakek pernah menumpas pemberontak.” Ummi menjelaskan.
“Kapan kita ke ke Jogja lagi, Mi? Bertemu Kakek sama Nenek, main-main di sawah, juga jalan-jalan ke Malioboro,” tanya Abang.
“Insyaa Allah kalau ada rezeki lagi. Doain Ummi sama Abi banyak rezekinya, ya.”
“Iya, aamiin,” jawab Abang Adek serentak.
Tak terasa sudah 10 hari Abi di Jogja. Selama di sana Abi memberitahukan kondisi Kakek, beliau masih koma, ternyata luka kecil akibat jatuh itu membuat tetanus dan sudah menyebar ke seluruh organ tubuhnya. Adek merasa sangat sedih. Saat sedang membaca, ada cicak jatuh di atas bahunya. Adek berteriak sambil menangis. Ummi yang sedang masak jadi kaget.
“Kenapa, Dek?” tanya Ummi.
“Ummi, perasaan Adek gak enak, apa Kakek kenepa-bapa, ya? Katanya kan kalau kejatuhan cicak artinya ada yang bakal meninggal, huhuhu.” Adek menangis.
“Eh, itu mah mitos, jangan dipercaya. Kalau kita percaya dengan kejatuhan cicak akan ada yang meninggal, itu namanya syirik. Syirik artinya menyekutukan Allah karena percaya pada benda. Padahal yang membuat takdir adalah Allah,” jelas Ummi.
“Kalau beneran, gimana, Mi?” tanya Adek.
“Berarti memang sudah takdirnya. Hidup mati itu adalah takdir yang sudah ditetapkan Allah semenjak kita masih dalam kandungan,” jelas Ummi lagi.
“Iya, Mi, semoga Kakek pulih seperti sedia kala,” doa Adek.
Adek gembira karena hari ini Abi akan kembali ke Bangka. Abi tadi menelepon sudah di Bandara, posisi sudah boarding pass. Tetapi tak lama ada telepon lagi.
[Ni, Bapak udah gak ada, ini padahal sudah siap berangkat.] Abi mengabarkan.
[Innalillahi wa Inna Ilaihi rojiu’un. Batalin aja bi, biarlah hangus tiketnya. Abi balik lagi ke Karasan.] Ummi menjawab.
Telepon pun ditutup, Abang dan Adek yang mengetahui berita Kakek telah meninggal dunia, merasa sedih dan menjadi pendiam seharian. Semua berduka. Tentara yang pernah berjuang menjaga perbatasan dan menumpas pemberontakan di era awal kemerdekaan itu telah berpulang. Semoga segala amal ibadahnya diterima dan dilapangkan kuburnya, aamiin. Selamat jalan Kakek. Engkau adalah Pahlawan.












