Oleh : Meilanto
Libur sekolah telah tiba. Saat itu juga sedang musim buah-buahan. Kebun milik kakek di kampung ada pohon durian, manggis, rambutan dan lain-lainnya. Saat itu durian sedang berbuah.
“Ayah, ayo kita ke kelekak!”
“Durian belum matang Dina.”
“Dina ingin melihat buah durian, Ayah.”
“Ayo kita berangkat!”
Ayah langsung menyalakan motornya. Kebun kakek berjarak 7 km dari kampung.
Dina lihat buah durian masih kecil!”
“Ayah berapa bulan lagi buahnya matang, ya? Kalau duriannya sudah matang, Ayah buatkan pondok. ya!”
“Baiklah, nanti Ayah buatkan di dekat pohon petai ini.”
Tiga bulan berlalu, durian mulai jatuh. Itu artinya durian mulai matang. Ayah dan paman membuat pondok. Pondok itu untuk menunggu durian supaya tidak dicuri. Pondok itu sangat sederhana.
“Nazmi, libur sekolah kita kumpul di Namang, ya kita menunggu durian. Ajak ayahmu dan keluarga yang lain! Ujar Ayah Dina saat Nazmi dalam suatu kegiatan.
“Asyik!” jawab Nazmi.
Sabtu pagi, cuaca cerah. Nazmi datang bersama ayah dan adiknya. Mereka langsung ke kebun.
“Dina, kami sudah di pondok durian!” Suara Nazmi saat menelepon Dina.
“Ibu, ayo kita ke kebun durian!” ajak Dina.
Tanpa basa-basi ibu langsung menyalakan motornya.
“Taza, ayo kita ke kebun durian!” Ajak Dina.
Saat tiba, Ibu memarkirkan motornya. Taza dan Nazmi mendengar suara durian jatuh. Nazmi langsung lari mencari durian. Nazmi memperoleh durian yang sangat besar. Mereka sangat senang karena mendapatkan durian yang banyak.
“Dina cepat buka duriannya!” ucap Nazmi. Saat Dina membuka durian tangan Dina luka. Taza langsung mencari daun keramunting untuk mengobati tangan Dina yang luka supaya tidak berdarah lagi. Setelah mengobati tangan Dina, Dina langsung memakan durian yang sudah dibuka.
Selesai makan durian, Nazmi mengajak Taza dan Dina mandi di sungai sambil mencari ikan untuk lauk makan di kebun. Mereka mencari udang dan ikan. Nazmi dan Taza melihat serumbong. Setelah diangkat ternyata ada ikan lele. Selesai menangkap ikan, Nazmi dan Taza mencari kayu bakar. Dina menyalakan apinya untuk menggoreng ikan. Setelah menggoreng ikan, Dina, Nazmi dan Taza mengambil nasi. Taza tertulang duri ikan. Nazmi mengambil air dan menyuruh Taza minum. Setelah makan, mereka pulang ke kampung. Ternyata durian mereka dicuri. Mereka sedih karena durian yang mereka peroleh kemarin hilang.
“Supaya duriannya tidak di curi orang, bagaimana kalau kita tidur disini!” kata Nazmi
“Iya, lebih baik kita tidur di sini saja, gimana Dina?”
“Oke kita tidur di sini saja, ajak ayah dan paman juga ya!”
Suara jangkrik membuat malam itu begitu syahdu. Ditambah lagi langit cerah, bintang gemintang bertaburan di langit.
“Krasak… Ketedup…”
“Ayah, ada durian jatuh!” teriak Dina.
Ayah, mengambil senter dan turun dari pondok mengambil durian yang jatuh. Durian itu sangat besar. Durian jatuh malam ini lumayan. Besok bisa dijual dan disedekahkan ke sanak saudara. Sambil mengasuh mata, Ayah Dina bercerita, “dulu nenek dan kakek kalian berkebun di sini, banyak hasil lada yang didapat.”
“Dari hasil lada itu kakek dan nenek bisa naik haji,” tambah ibunya.
Nazmi, Dina dan Taza diam. Rupanya mereka telah tidur pulas. Bagi mereka, ini menjadi pengalaman yang paling berharga. Bisa menikmati liburan bersama keluarga dan saudara. Kebun warisan kakek nenek menjadi pemersatu keluarga. Ayo kita jaga kebun supaya kita bisa menikmati jerih payah nenek kita. Kebun jangan diganti dengan tanaman sawit. Dengan adanya kebun, bisa menjaga cadangan air.
Pengalaman Nazmi, Dina dan Taza dengan mengisi liburan dengan kegiatan positif menjadi ciri kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Bahwa dengan kerja sama, semua bisa diatasi. (BP/ KM)*
Catatan : Cerpen ini telah dibukukan dalam kumpulan cerita anak Pagi-Pagi Sudah Hebat yang diterbitkan oleh SIP Publishing, Agustus 2025.
