Kutukan Desa Bikang (Angkara)

Dwikki Ogi Dhaswara

Ilustrasi_Kutukan Desa Bikang

Bekaespedia.com_Di lembah rawa-rawa yang diselimuti kabut pucat, tersembunyi Desa Bikang. Desa yang berada di pedalaman itu ibarat kalung zamrud yang terlepas, hijau subur namun diliputi kesunyian yang menusuk.

Desanya terhampar anak-anak sungai yang berjubah hutan purba, mengalirlah sungai bening, nadi kehidupan di Desa Bikang. Airnya yang jernih membawa nyanyian, menyuburkan tanah, menghidupkan ikan-ikan, dan mengalirkan kearifan turun-temurun.

Salah satu pantang larang tertua, terukir dalam daun lontar kuno “Jangan Belenggu Air yang Bernyanyi.”

Konon, siapa yang berani menutup alirannya, akan mendatangkan Angkara, demam tinggi dan ruam merah seperti kelopak bunga bakung merah muda yang gugur sebelum waktunya, penyakit yang mematikan laksana campak namun terasa lebih ganas.

Sakha, pemuda pengukir kayu yang tangannya mampu menghidupkan ruh kayu nyatoh tua menjadi bentuk-bentuk mempesona. Hatinya terpaut pada seorang gadis desa bernama Gendhis.

Senyumnya adalah cahaya pertama yang menyapa Sakha di pagi hari. Namun,darah mereka mengalir dalam sungai yang berbeda, Sakha dari keturunan petani biasa, sedangkan Gendhis adalah keturunan dari ketua adat yang sakral. Cinta mereka adalah duri dalam daging bagi keluarga Gendhis.

“Pesan Ayahku, bunga tak boleh mekar di tanah yang salah, Sakha,” bisik Gendhis disuatu malam, di bawah rindangnya pohon beringin tua, suaranya gemetar menahan tangis. “Orangtuaku bilang, cinta kita akan memicu amarah mereka.”

Sakha dengan beraninya menggenggam tangan Gendhis yang dingin. “Biarlah hutan-hutan ini yang runtuh dan sungai-sungainya mengering, Gendhis. Kupahat namamu di setiap kayu yang kusentuh, kupahat dirimu di setiap nafasku. Tak ada adat yang sanggup memisahkan ruh kita yang telah menyatu.”

Beberapa hari berlalu. Keserakahan merayap seperti kabut malam. Demi memperluas area kebun mereka, beberapa orang Desa Bikang, berhasil dibujuk oleh pedagang dari Kota, mereka nekat membendung anak-anak sungai kecil yang mengalir ke sawah-sawah bagian barat.

Batu-batu besar dan tanah tebal menumpuk, memaksa air yang muruh mencari jalan lain. Sakha memprotes, suaranya tenggelam dengan janji kekayaan dari beberapa orang desa yang serakah. “Sakha, kau terlalu takut pada dongeng nenek moyang!” ucap mereka.

Tiga hari kemudian, Angkara itu benar-benar datang. Bukan seperti angin tapi seperti banjir bandang yang diam-diam menenggelamkan semuanya. Dimulai dari anak-anak yang bermain di genangan air kotor dekat bendungan liar tersebut, lalu menyebar cepat. Demam tinggi membakar tubuh, ruam merah muda seperti percikan api menyala di kulit, napas sesak bagaikan ikan yang terdampar.

Gendhis, dengan keberaniannya, terjun membantu ibunya merawat yang sakit. Ia membasuh keringat, menyuapkan jamu, dan menyanyikan lagu pengantar tidur pada anak-anak yang gelisah.

Sakha panik. “Gendhis, jangan!” pinta Sakha suatu sore, dengan memegang lengan Gendhis yang mulai terasa hangat. Matanya penuh ketakutan yang dalam. “Kau terlalu dekat dengan api penyakit ini.”

Gendhis tersenyum lemah, menyentuh pipi Sakha. “Seseorang harus meredakan demam ini. Jika bukan kita, penjaga ingatan, lalu siapa? Aku teringat pada lirik lagu ayahku! ‘Air yang terbelenggu, melahirkan air mata berbisa.’ Aku hanya mencoba mengeringkan air mata Sungai Bening yang terluka.” Napasnya sudah agak tersengal.

Kekhawatiran Sakha menjadi kenyataan yang pahit. Beberapa hari kemudian, ruam merah yang kejam muncul di kulit Gendhis yang halus.

Ayah Gendhis melihat kejadian itu dengan cepat memerintahkan penduduk desa yang belum terkena penyakit agar segera dipindahkan ke tempat yang sudah disiapkan di samping jalan utama menuju kota. Desa Bikang akan segera dipindahkan.

Angkara itu tak pandang bulu. Ia merenggut nyawa yang paling tulus. Gendhis pergi di tengah kelam malam, saat desa diliputi tangis dan bau jamu pahit. Wajahnya yang tenang, meski dihiasi bintik-bintik merah, masih memancarkan cahaya kesabaran.

Wajahnya yang pucat bagai bulan purnama, ia menggenggam sehelai bunga bakung merah muda yang terselip di tangannya. Desa pun berbisik “Kutukan telah memetik bunga yang salah mekar”

Sakha hancur. Dunianya remuk bagaikan kayu lapuk. Di malam-malam berikutnya, ia hanya bisa terduduk di tepi kuburan Gendhis, sebuah nisan sederhana di bawah pohon nyatoh besar yang konon menyimpan ruh para leluhur.

Suatu malam, ketika bulan sabit menggantung tipis dan angin berbisik pilu, bayangan Gendhis muncul. Wajahnya samar-samar, terbuat dari cahaya bulan dan kelopak bunga yang berterbangan.

“Gendhis?” suara Sakha serak, penuh harap dan nestapa. “Kau datang…?”

Bayangan itu tersenyum, senyum yang sama seperti dulu, namun menyimpan duka sedalam samudera. “Aku tak bisa lama, Sakha. Kutukan ini mengikatku di antara dunia.”

Air mata Sakha bercucuran, membasahi tanah tempat Gendhis terbaring. Hatinya terasa robek oleh sembilu. Ia menjulurkan tangan, menyentuh bayangan itu yang terasa dingin bagaikan angin malam.

“Tidak,” desisnya, suaranya parau namun menggelegar dalam kesunyian malam.

“Gendhis,” gumamnya, suaranya tiba-tiba menguat, penuh keyakinan yang menghujam. “Kau adalah sebentar, namun selamanya aku ingat.”

Bayangan Gendhis bergetar, seperti air yang dijatuhkan batu. Sebuah tetes cahaya, seperti air mata kaca, jatuh dari matanya yang samar dan menyentuh tanah di dekat nisan. Seketika, dari titik itu, tumbuh tunas bunga bakung baru berbeda dari yang lain. Bunganya bukan merah muda, tapi putih bersih, bercahaya lembut dalam gelap.

“Bebaskan sungai, Sakha,” bisik bayangan Gendhis, suaranya semakin jauh. “Dan jagalah bunga putih itu… ia adalah lambang cinta kita yang tak terpenjarakan oleh waktu, yang melampaui kutukan.”

Sakha hanya terdiam dan terpana melihat bayangan itu pergi dan menghilang.

Keesokan harinya, Sakha bersama para pemuda yang masih sehat. Dengan tangan kosong dan hati yang penuh tekad, mereka membongkar bendungan liar. Batu demi batu diangkat, tanah digali. Air yang terbelenggu selama berminggu-minggu akhirnya meluap bebas, membasuh kotoran dan keserakahan, mengalir deras menyapa tanah-tanah yang haus.

Beberapa orang desa yang tadinya membendung aliran sungai, kini sudah meminta maaf kepada penduduk Desa Bikang, mereka juga terkena akan imbas penyakit Angkara. Dengan rasa penuh penyesalan mereka tak henti-hentinya meminta maaf kepada satu-persatu dari penduduk desa.

Beruntunglah orang-orang yang serakah itu, dikarenakan penduduk Desa Bikang adalah pemaaf, mereka dengan ikhlas memaafkan kesalahan yang telah terjadi, walaupun harus ditukar dengan beberapa nyawa, namun keikhlasan penduduk Desa Bikang sangatlah besar dan kaya laksana alam di desa mereka sendiri.

Ajaibnya, demam mulai mereda, ruam merah muda berangsur memudar, napas yang sesak kembali lega. Angkara pun beringsut pergi. Dikalahkan oleh kebebasan aliran air dan kekuatan cinta yang abadi.

Desa Bikang perlahan sembuh, dan menurut kepercayaan adat keberadaan desa pun sudah dipindahkan dekat dengan jalan utama menuju kota, tidak lagi berada di pedalaman. Bendungan liar tak pernah dibangun lagi, mengingatkan semua orang pada harga sebuah pantang larang.

Sakha menjadi penjaga sungai dan penutur kisah. Dan setiap malam purnama, orang-orang desa kadang melihatnya duduk di dekat kuburan Gendhis, matanya memandang aliran sungai bening yang bebas, bibirnya berbisik lembut pada sang kekasih yang tinggal dalam kenangan dan aliran air yang abadi, “Sebentar, namun selamanya aku ingat…”

Sebuah pengakuan yang lebih kuat dari kutukan, lebih jernih dari air sungai, terpatri dalam jiwa Desa Bikang untuk selama-lamanya.

 

 

Toboali, 3 Juni 2025

 

Exit mobile version