Oleh : Azkiya Zahira (Siswa SDN 2 Mendobarat)
Di sebuah desa yang cerah dan penuh suara riang anak-anak, yaitu Desa Pelangi Ceria, tinggallah seorang anak perempuan bernama Lala Kirana. Lala berusia 11 tahun dan duduk di kelas V SD. Ia tinggal di sebuah rumah kecil yang memiliki halaman cukup luas. Di halaman itu tumbuh pohon mangga yang rindang, beberapa tanaman milik ibu dan sebuah kolam kecil tempat ikan-ikan berenang.
Sejak kecil, ayah sering berkata bahwa bumi adalah rumah kita bersama.
“Kalau rumah kita kotor dan rusak kita sendiri yang tidak nyaman,” kata ayah suatu sore sambil menyapu halaman. Waktu itu Lala hanya mengangguk, belum benar-benar mengerti maksudnya.
Suatu hari, Lala melihat sesuatu yang membuatnya sedih. Sepulang sekolah, Lala berjalan kaki bersama sahabatnya, Mentari. Di tepi jalan dekat lapangan, mereka berdua melihat tumpukan sampah yang berserakan. Plastik, botol minuman, dan kertas bekas tertiup angin. Bau tidak sedap tercium cukup menyengat.
“Ih, jorok sekali!” kata Mentari sambil menutup hidung.
Lala memperhatikan sampah itu. Di dekatnya ada selokan kecil yang airnya hampir tak mengalir karena tersumbat plastik. Tiba-tiba Lala teringat kata-kata ayahnya tentang rumah. Bukankah bumi juga rumah kami?
Malam itu, Lala bertanya kepada ibu, “Bu, kenapa orang-orang buang sampah sembarangan?”
Ibu yang sedang melipat pakaian tersenyum lembut. “Karena kadang mereka lupa atau tidak sadar bahwa perbuatan kecil bisa berdampak besar.”
“Dampak besar seperti apa?” tanya Lala lagi.
“Kalau sampah menumpuk bisa menyebabkan banjir. Hewan-hewan bisa terluka karena plastik. Udara juga bisa tercemar kalau sampah dibakar sembarangan.”
Lala terdiam. la membayangkan ikan-ikan di kolam rumahnya berenang di antara plastik. Lala membayangkan burung-burung kesulitan mencari makan karena lingkungannya yang kotor.
Malam itu, sebelum tidur Lala berbisik pelan, “Lala mau jadi Sahabat Bumi.”
Keesokan harinya, Lala memulai langkah kecilnya. Membawa botol minum sendiri ke sekolah agar tidak membeli minuman kemasan plastik. Ibu juga menyiapkan kotak makan agar Lala tidak perlu membuang tempat bekas makanan ke tempat sampah. Di sekolah, teman-teman Lala masih membuang sampah sembarangan. Seusai jam istirahat, halaman belakang sekolah penuh dengan bungkus makanan. Di dalam pot bunga juga banyak tumpukan sampah. Teman-teman Lala membuang sampah bukan ke tempat sampah.
Lala menghela nafas, lalu mulai memungut sampah-sampah itu dan memasukkannya ke tempat sampah. Beberapa teman memperhatikannya.
“Lala sedang apa sih? Itukan bukan sampahmu!” tanya Dita.
“Kalau bukan kita siapa lagi?” jawabnya. “Kalau kita biarkan, halaman sekolah jadi kotor,” tambah Lala.
Dita mengangkat bahu lalu pergi. Namun, Mentari mendekat dan ikut membantu. “Lala, aku bantu ya,” katanya.
Hari itu, kami berdua mengumpulkan dua kantong sampah. Walau lelah, hatinya terasa ringan. Beberapa hari kemudian, Lala punya ide. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Bimo meminta murid-murid untuk membuat pidato singkat tema bebas. Lala langsung tahu apa yang ingin ia sampaikan.
Di depan kelas, dengan sedikit gugup Lala berkata, “Teman-teman, kita semua tinggal di bumi. Bumi adalah rumah kita bersama. Kalau kalian buang sampah sembarangan itu sama saja dengan kita mengotori rumah kita sendiri.”
Lala menceritakan tentang selokan yang tersumbat, hewan-hewan bisa terluka karena plastik, dan betapa indahnya lingkungan yang bersih. Lala mengajak teman-teman untuk mulai dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, membawa botol minum sendiri, dan menghemat air.
Saat Lala selesai, kelas menjadi hening sejenak. Lalu terdengar tepuk tangan, Pak Bimo tersenyum bangga. “Pidato yang sangat bagus Lala,” pujinya.
“Bagaimana kalau kita membuat program kecil untuk menjaga lingkungan sekolah?” Mata teman-temannya berbinar. Dita yang dulu mengejeknya mengangkat tangan. “Pak, kita bisa bikin jadwal piket lebih teratur.”
“Aku mau bikin poster tentang menjaga lingkungan,” seru Serli.
Sejak hari itu kami membentuk kelompok bernama “Sahabat Bumi”. Kami membuat poster warna-warni yang bertuliskan “Buang Sampah, Pada Tempatnya,” dan “Kurangi Plastik, Sayangi Bumi.”
Setiap hari Jumat, kami melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah. Awalnya hanya beberapa anak yang ikut tapi lama-kelamaan hampir seluruh kelas bergabung. Suatu sore, hujan turun sangat deras. Air mengalir deras di selokan dekat rumahnya. Lala langsung teringat pada tumpukan sampah yang sempat ia lihat sebelumnya. Lala langsung berlari keluar membawa sarung tangan kecil miliknya.
Benar saja, ada beberapa plastik yang menyumbat aliran air. Lala langsung memungut sampah-sampah itu dan memasukannya ke tempat sampah. Dita yang kebetulan lewat ikut membantu. “Kalau tersumbat begini bisa banjir,” kata Lala.
Mereka bekerja dalam guyuran hujan, tertawa meski pakaian basah kuyup. Setelah sampah dibersihkan air kembali mengalir lancar.
Beberapa tetangga memperhatikannya. Pak Hasan, ketua RT mendekat.
“Kalian anak-anak hebat sekali, peduli lingkungan sejak kecil,” pujinya.
“Kami cuma tidak mau banjir, Pak,” jawabnya.
Pak Hasan tertawa, “Mulai minggu depan kita adakan kerja bakti rutin untuk seluruh warga, kalian jadi contoh yang baik,” kata Pak Hasan.
Hatinya berbunga-bunga, ternyata langkah kecil bisa menginspirasi orang lain.
Suatu hari, ayah mengajaknya menanam pohon di halaman rumah.
“Setiap pohon yang kita tanam membantu menghasilkan oksigen yang kita hirup,” jelas ayah.
Kami menanam pohon jambu kecil di sudut halaman. Lala menyiraminya setiap pagi, dan memberi nama pohon itu “Harapan” karena Lala berharap suatu hari nanti pohon itu tumbuh besar dan memberi manfaat.
Di sekolah, kelompok Sahabat Bumi juga punya proyek baru, membuat taman kecil. Mereka memanfaatkan lahan kosong di belakang perpustakaan. Mereka menanam bunga. Pak Bimo membantu menyediakan bibitnya. Bunga-bunga sudah mulai bermekaran. Mekarnya bunga berwarna-warni membuat suasana sekolah tampak asri dan memesona.
“Lala, bila melihat bunga mekar seperti ini bagaimana perasaanmu?” tanya Dita.
“Tentu saja senang, Dita,” jawab Lala singkat.
“Bunga apa yang paling kau senangi, La?” tanya Dita kembali.
“Kalau aku bunga mawar. Sebab bunga itu indah dan tidak mudah layu,” jawab Lala mantap.
“Kalau aku lebih senang bunga melati, karena warnanya yang putih dan baunya yang harum sehingga ada pepatah seharum melati,” jawab Dita.
Mendengar kata Dita, Lala tersenyum dan mengangguk pelan. Mereka berdua kemudian berdiri lagi untuk melanjutkan pekerjaannya menyirami bunga-bunga.
Lala dan teman-temannya menyirami bunga-bunga menjadi beberapa kelompok. Lala dan Dita menyirami bunga di taman kelas 5. Sedangkan Mentari dan teman-teman yang menyirami bunga di taman kelas 4 dan 6. Mereka bekerja dengan penuh semangat dan penuh tanggung jawab.
“Bunga-bunga bisa mekar seperti ini karena kita rawat dan jaga dengan penuh kasih sayang setiap hari.” kata Lala sambil menyelesaikan menyirami bunga mawar. Pohon-pohon ini kita sirami, kita beri pupuk, daun-daun kering segera kita potong dan daun-daun yang busuk segera kita buang!” lanjut Lala.
Suatu hari, sekolah mereka terpilih mengikuti lomba sekolah sehat tingkat kecamatan, semua siswa bekerja keras. Kekalahan tahun kemarin mereka jadikan pelajaran untuk tahun ini.
“Teman-teman, pada lomba sekolah sehat tahun kemarin kita kalah. Kekalahan itu karena kita kecolongan,” ucap Lala ketika sedang beristirahat.
“Kecolongan?” kata Dita bernada tanya.
“Iya, kecolongan karena kita lengah dalam menjaga kebersihan sekolah,” ucap Lala.
“Kita lengah dan lalai dalam menjaga kebersihan kelas dan lingkungan lainnya. Tahun ini kita harus punya target, kita harus menang dalam lomba sekolah sehat tahun ini,” lanjut Lala.
“Setujuuu,” sorak teman-teman serentak.
“Sekarang mari kita susun langkah selanjutnya untuk meraih juara lomba sekolah sehat. Kita harus selalu menjaga kebersihan, keindahan dan keamanan sekolah kita. Oleh karena itu, kita harus kerja bakti lagi!” lanjut Lala lagi.
“Baiklah, aku setuju. Kalau bisa nanti sore kita mulai,” sambung Mentari dan teman-temannya serentak.
“Baiklah, nanti sore kita mulai kerja baktinya,” lanjut Lala lagi.
“Beres, kami pun siap!” ucap teman-teman yang lain serentak.
Bersamaan dengan itu lonceng sekolah berbunyi. Lala dan teman-temannya segera masuk ke kelas untuk melanjutkan pekerjaan.
Waktu pun terus bergulir, tidak terasa hari sudah sore. Lala dan teman-temannya sudah siap untuk kerja bakti. Lala dan teman-temannya membentuk kelompok bersama dengan kelas lainnya. Kelompok pertama membersihkan kelas, kelompok kedua membersihkan luar kelas, dan kelompok ketiga merawat taman.
Kelompok pertama adalah tugas kelas 4. Mereka membersihkan kelas, kelas disapu dan dipel, ada juga yang bertugas membersihkan dinding dari debu-debu, dan ada juga yang tugasnya mengelap kaca. Kelompok kedua adalah tugas kelas 5. Mereka membersihkan lingkungan luar kelas, selain menyapu halaman sekolah, mereka juga membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di halaman, dan mereka juga membetulkan susunan batu bata merah pembatas selokan yang berserakan.
Sedangkan kelompok ketiga adalah tugas kelas 6. Mereka menata rumput yang benar-benar dibutuhkan, dan memupuk tanaman menggunakan pupuk kompos dan pupuk kandang. Selain itu, mereka juga menyirami tanaman. Mereka bekerja dengan semangat dan bersungguh sungguh.
Hari pengumuman tiba, kepala sekolah berdiri di lapangan dengan wajah ceria. “Anak-anak, sekolah kita meraih juara satu lomba sekolah sehat tingkat kecamatan tahun ini,” sorak-sorai menggema.
Lala menatap teman-teman Sahabat Bumi, mereka saling tersenyum bangga. Bukan karena piala semata, tetapi karena usaha mereka membuahkan hasil.
Malam itu, Lala duduk di bawah pohon mangga di halaman rumah.
“Ayah,” kata Lala pelan.
“Lala senang bisa jadi Sahabat Bumi,” kata Lala
“Menjadi sahabat bumi artinya menjaga dan merawat bumi seperti kita menjaga dan merawat teman kita sendiri,” kata ayah.
“Mudah ya, Yah cukup mulai dari hal kecil.” “Betul,” jawab ayah.
“Kalau semua orang melakukan hal kecil yang baik, maka hasilnya akan sangat besar,” kata ayah.
“Coba Lala jawab pertanyaan Ayah, apa manfaat yang kamu rasakan nantinya jika kita rajin menanam dan merawat pohon?”
“Aku tahu apa jawabnya, Ayah,” jawab Lala penuh semangat.
“Ya, bagaimana jawabmu, La.”
“Manfaat tidak langsung adalah bahwa pohon-pohon mampu mencegah erosi saat musim penghujan. Dan pohon-pohon itu juga mampu menyimpan air hujan menjadi air tanah sehingga air tanah cadangan air tanah tetap terpenuhi,” jawab Lala.
“Benar jawabanmu La,” puji Ayah.
Lala terus memandangi pohon jambu kecil yang baru mereka tanam. Lala berjanji bahwa akan terus menjaga dan merawatnya.
Sejak hari itu, Lala sadar bahwa menjadi sahabat bumi bukanlah tugas sehari atau dua hari. Ini adalah tugas yang harus di lakukan terus-menerus. Menjadi sahabat bumi cukup mulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, membawa botol minum sendiri dan menghemat air. Lala memang hanya seorang anak biasa tetapi Lala punya dua tangan untuk memungut sampah, dua kaki untuk melangkah menuju kebaikan dan satu hati yang peduli. Selama Lala masih bisa bernapas dan tersenyum dibawah langit biru, Lala akan selalu berkata dengan bangga:
“Lala Sahabat Bumi.” (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.
