LEGENDA GAJAH MENUNGGANG

Dwikki Ogi Dhaswara

Ilustrasi Gajah Menunggang

Bekaespedia.com_Gajah menunggang…

Besarlah alon dari gelombang…

Seperti solok pulanglah balek ke tanjung labu…

Lah kolek urang lah macing sebuah lah kolek…

Urang lah mancing sebuah kolek…

Abis lah umpan beganti daun…

Nyanyian itu terdengar sahdu tatkala disenandungkan di tepian pantai Pulau Pongok. Atuk Man yang sedang memindahkan ikan dari kapalnya didatangi oleh cucunya yang baru saja tiba.

“Syairnya aneh, Tuk, senandung apa itu?” tanya cucunya sembari mengernyitkan dahi.

Atuk Man tersenyum mendengar pertanyaannya. Lalu menjawab, “Kisahnya panjang, Junai, memangnya kau mau mendengarnya?”

Mata Junai melotot dengan rasa ingin tahu, “Kenapa bisa gajah? Kan di sini nggak ada gajah?” sahutnya penasaran.

Atuk Man kembali tertawa kecil. “Justru itu yang menarik, mau tahu nggak?”

“Mau, Tuk! Aku ingin dengar!” jawab Junai dengan semangat.

Sembari memilah ikan, Atuk Man memulai kisahnya.

“Dahulu, ada seorang pelaut hebat di Pulau Pongok. Ia pemuda dari Suku Sekak, bernama Wakdi,” ucap Atuk Man laksana seorang pendongeng.

“Naasnya, ketika melewati Selat Pongok dan Tanjung Labu, kapalnya menabrak karang, Wakdi pun jatuh ke laut, terombang-ambing di lautan, berjam-berjam, berhari-hari.”

Junai mendengarnya dengan wajah takut.

“Keluarganya sudah mencari Wakdi kemana-mana, tapi hasilnya tetap tidak ditemukan. Apalagi saat itu sedang ada badai yang mengerikan di laut,” ucap Atuk Man sambil memperagakan aksinya.

Junai kembali merasa ketakutan.

“Cukup lama ia menunggu pertolongan, tapi tak seorang pun yang datang menyelematkannya, kasihan Wakdi,” lanjut Atuk Man dengan wajah sedih.

Junai membayangkan betapa sedihnya kejadian itu. Sementara Atuk Man justru semakin bersemangat mengisahkannya. Sesekali ia mengubah wajahnya seolah-olah berada di dalam peristiwa.

“Di tengah kepasrahannya, Wakdi tiba-tiba mendengar suara aneh, bersamaan dengan suara gemuruh petir dan hujan yang tak kunjung reda. Air di sekelilingnya perlahan berputar, membentuk pusaran. Wakdi semakin takut, ia berenang menjauh, tapi apa daya tubuhnya sulit dikendalikan.”

“Jedar…Jedar… Jedar…” suara Atuk Man meniru suara petir.

Junai semakin gugup mendengarnya.

“Tolong…! Tolong…! Tolong aku, teriak Wakdi sekuat tenaga,” seru Atuk Man mengisahkannya.

Atuk Man memperagakan wajah ketakutan Wakdi dengan begitu meyakinkan. Junai pun sangat serius mendengarnya. Sampai memejamkan mata, seolah tak sanggup membayangkan betapa mengerikannya yang dialami Wakdi.

“Tiba-tiba! Dari balik pusaran itu, muncullah seekor gajah mina berukuran besar! Wakdi terkejut, ia sangka gajah itu akan menelannya hidup-hidup, tapi gajah itu justru dengan lembut mendorong tubuhnya,” ucap Atuk Man dengan nada serius.

Mata Junai pun kembali melotot mendengarnya.

“Awalnya Wakdi ragu. Namun, karena tak ada pilihan lain, akhirnya ia memberanikan diri menaiki punggung gajah mina itu. Ajaibnya, gajah mina mulai berenang dengan tenang, membawanya mengarungi dan menyeberangi selat yang terkenal angker itu,” sambung Atuk Man dengan tersenyum.

Mendengar itu, Junai yang semula tegang perlahan berubah. Ia pun tersenyum lega, membayangkan Wakdi akhirnya dapat pertolongan.

Atuk Man kembali melanjutkan kisahnya.

“Tak lama kemudian, tibalah Wakdi di tepian pantai Pongok. Dengan tubuh yang lemas, Wakdi turun dari punggung gajah mina. Ia takjub dengan makhluk ajaib itu walaupun masih merasa sedikit takut. Perlahan Wakdi mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala gajah mina, dan berkata, terima kasih… kau sudah menyelamatkanku, kata Wakdi,” cerita Atuk Man sambil tersenyum merekah.

“Lalu! Apalagi, Tuk?” tanya Junai dengan penasaran menunggu kelanjutannya.

Atuk Man pun melanjutkannya, “Lalu gajah mina itu, kembali ke dalam air dengan tenang. Wakdi pun menceritakan kejadiannya kepada orang-orang di pulau dan keluarganya. Sejak dari itu, sebagai bentuk penghormatan dari mereka, mereka menganggap gajah mina sebagai hewan ajaib,”

“Kenapa bisa jadi syair lagu?” tanya Junai kembali.

Atuk Man yang cukup lelah mengisahkannya, harus kembali menjawabnya dengan tersenyum lembut, “Kejadian itu, menjadi kisah turun-temurun di Pulau Pongok, sanak saudara Suku Sekak  yang berada di Tanjung Sangkar, Kumbung, Tanjung Labu, hingga Belitung, menjadikan kisah ini sebagai syair lagu dan bentuk gerak tari saat mengarungi lautan, supaya terus dikenang oleh cucu dan cicit mereka.”

Junai akhirnya paham. Ketegangannya sejak awal cerita telah berubah menjadi tenang. Wajahnya tersenyum lega, tak menyangka cerita yang begitu mengerikan, ternyata akhirnya indah dan mengharukan.

Atuk Man pun ikut tersenyum melihat perubahan raut wajah dari cucunya. Ia kemudian kembali melanjutkan memilah ikan dari hasil tangkapan melaut.

Sembari itu, Junai dan Atuk Man juga kembali bersenandung Gajah Menunggang, suara mereka berpadu dengan gelombang serta hembusan angin pantai yang sejuk, membuat perkerjaannya lebih bersemangat.

Peradek…

Kami lah maen…

Kami lah beradek…

Kami maen adek beradek…

Abis lah bulan beganti taon…

Gajah menunggang…

Besarlah alon dari gelombang…

Seperti solok pulanglah balek ke Tanjung Labu…

 

Toboali, 1 November 2026

 

Exit mobile version