Lentera di Balik Lumpur 

Oleh : Meilanto

 

Langit di atas Desa Sukatani tidak lagi biru. Selama tiga hari, warna angkasa berubah menjadi abu-abu pekat yang menakutkan, seolah-olah awan memikul beban yang tak lagi sanggup ia tahan. Hujan turun bukan sebagai berkah, melainkan seperti ribuan jarum yang menghujam bumi tanpa henti. Tanah perbukitan yang biasanya menjadi pelindung desa, kini mulai melunak, jenuh akan air, dan bersiap melepaskan amarahnya.

Pak Ibnu sedang berada di teras masjid saat mendengar suara itu sebuah geraman rendah dari perut bumi yang perlahan berubah menjadi deru mesin raksasa. “Tanah longsor! Lari ke tanah lapang! Tinggalkan semuanya!” teriaknya, suaranya parau tertelan deru angin yang menderu-deru.

Dalam hitungan menit, horor itu nyata. Lidah lumpur berwarna cokelat tua bercampur bebatuan besar meluncur dari lereng bukit, melumat rumah-rumah kayu yang telah berdiri puluhan tahun. Suara kayu yang patah dan beton yang remuk beradu dengan jerit tangis warga. Pak Ibnu hanya sempat melihat rumahnya sendiri hilang ditelan kegelapan sebelum ia menyeret warga terakhir masuk ke area masjid yang berada di posisi lebih tinggi.

Malam itu, dunia seolah kiamat bagi warga Sukatani. Listrik mati total. Di dalam ruang utama masjid yang kini menjadi tenda darurat, suasana sangat mencekam. Hanya ada cahaya dari beberapa batang lilin yang sisa, cahayanya menari-nari ditiup angin kencang yang menyelinap lewat jendela-jendela yang pecah.

Di sudut ruangan, Bu Ratih mendekap erat anaknya, Satria, yang terus menggigil ketakutan. Pakaian mereka basah kuyup dan berlumpur. Bibir Bu Ratih tak henti bergerak, melantunkan doa-doa yang tulus dengan suara yang bergetar.

“Tuhan, kami ini kecil. Kami ini lemah di hadapan kuasa-Mu,” bisiknya.

“Namun, jika Engkau sisakan nyawa kami, jangan biarkan api harapan kami padam di tengah lumpur ini. Kuatkan hati kami untuk melihat hari esok.”

Doa itu bukan sekadar rangkaian kata tanpa makna. Bagi Bu Ratih dan warga lainnya, doa adalah satu-satunya jembatan penghubung saat harta benda, ternak, dan sawah mereka telah raib. Di sekelilingnya, bisikan serupa terdengar. Berbagai doa dari berbagai keyakinan meluncur dari mulut warga yang berkumpul. Meski mereka kehilangan segala yang mereka miliki secara materi, malam itu mereka menyadari satu hal yang tak bisa dihancurkan bencana, mereka masih memiliki satu sama lain.

Saat fajar menyingsing, pemandangan memilukan tersaji dengan jelas. Desa mereka yang asri kini terkubur dalam hamparan lumpur setinggi dada manusia. Namun, di tengah keputusasaan yang merayap, sebuah keajaiban kecil mulai terjadi. Bukan keajaiban mistis, melainkan keajaiban kemanusiaan.

Pak Ibnu, meskipun kakinya terluka akibat terkena serpihan kayu, mulai berdiri. la tidak menunggu instruksi dari pusat atau bantuan yang mungkin masih tertahan longsoran di jalan utama.

“Kita tidak boleh menyerah pada keadaan,” serunya kepada para pemuda yang terduduk lesu.

“Jika kita menunggu, kita akan mati dalam kesedihan. Mari kita bergerak!”

Maka terjadilah sebuah pemandangan yang luar biasa. Dapur Umum Swadaya. Ibu-ibu, dipimpin oleh Bu Ratih, mulai mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang berhasil diselamatkan. Seorang warga membawa sekarung beras, yang lain membawa beberapa butir telur. Mereka memasak dalam kuali besar di halaman masjid, memastikan anak-anak dan lansia makan terlebih dahulu sebelum mereka sendiri menyentuh nasi.

Para pemuda bahu-membahu menyingkirkan batang pohon yang melintang menggunakan gergaji tangan dan cangkul seadanya. Mereka bekerja bukan karena dibayar, tapi karena cinta pada tanah kelahiran mereka.

Guru-guru honorer desa mengumpulkan anak-anak di bawah pohon besar yang masih tegak. Mereka mengajak anak-anak menyanyi, menggambar di atas kertas-kertas bekas, dan bercerita. Mereka berusaha memastikan bahwa memori tentang lumpur tidak menghapus senyum dari wajah masa depan desa itu.

Dua hari kemudian, suara baling-baling helikopter memecah kesunyian. Bantuan logistik mulai dijatuhkan, dan tim SAR berhasil menembus jalur darat yang sebelumnya tertutup. Namun, para relawan yang tiba dibuat tertegun.

Mereka tidak menemukan kekacauan atau warga yang saling berebut makanan dengan anarkis.

Sebaliknya, mereka menemukan sebuah masyarakat yang tertata. Mereka melihat warga yang saling menyuapi, warga yang membagi selimut terakhirnya untuk orang lain yang lebih kedinginan, dan warga yang tetap tersenyum meskipun kaki mereka berlumuran lumpur.

“Bagaimana kalian bisa tetap setenang ini?” tanya salah satu relawan kepada Pak Ibnu.

Pak Ibnu menunjuk ke arah masjid tempat mereka berkumpul setiap malam.

“Karena kami tidak membiarkan bencana ini masuk ke dalam hati kami. Rumah kami boleh hancur, tapi iman dan kebersamaan kami adalah pondasi yang tidak bisa digoyahkan oleh air bah sekalipun.”

Bencana itu memang menyisakan luka yang dalam dan ingatan yang pahit. Namun, di atas tanah yang masih basah itu, sebuah janji baru diucapkan oleh seluruh warga. Mereka akan membangun kembali Sukatani. Bukan sekadar membangun dinding semen dan atap seng, melainkan membangun sebuah komunitas yang lebih kuat, di mana doa adalah napasnya dan gotong royong adalah nadinya.

Lentera-lentera kecil mulai dinyalakan kembali di depan tenda-tenda pengungsian. Cahayanya mungkin kecil, tetapi jika dikumpulkan, sanggup menerangi kegelapan yang paling pekat sekalipun. (BP / KM)*

 

Catatan : Cerpen ini telah diterbitkan dalam antologi Bencana yang Tak Usai, Antologi Tentang Luka dan Doa untuk Indonesia bersama Alineaku Publisher, Februari 2026. 

Exit mobile version