Opini  

Mahakarya Talaqqi: Mengapa Ilmu, Adab, dan Rahasia Jiwa Tak Pernah Bisa Diunduh

Karya: Yanto In Action 

 

Oleh: Yanto In Action
(Guru , Motivator Pendidikan & Da, wah Indonesia

 

Bekaespedia.com,- Di zaman digital, hampir semua pengetahuan berada dalam genggaman. Dengan beberapa sentuhan pada layar ponsel, seseorang dapat membaca kitab kuning, menyimak ribuan ceramah, mengikuti kajian para ulama, bahkan mengakses berbagai teori keilmuan dari belahan dunia mana pun.

Namun, di tengah kelimpahan informasi itu, terdapat satu pertanyaan penting: **apakah ilmu yang banyak selalu melahirkan akhlak yang baik?**

Jawabannya belum tentu.

Sebab, ilmu tidak hanya berkaitan dengan banyaknya bacaan, panjangnya catatan, atau jumlah video yang ditonton. Ilmu juga berhubungan dengan cara seseorang menghayati, mengamalkan, dan menjadikannya sebagai jalan untuk memperbaiki diri. Di sinilah letak perbedaan antara sekadar memperoleh informasi dan menjalani pendidikan jiwa.

Teknologi dapat menyampaikan pengetahuan, tetapi pendidikan karakter membutuhkan keteladanan. Media sosial dapat mempertemukan seseorang dengan gagasan, tetapi pembentukan adab membutuhkan perjumpaan, bimbingan, dan proses yang berkesinambungan.

Salah satu tradisi pendidikan Islam yang menekankan hal tersebut adalah **talaqqi**.

Talaqqi: Belajar dengan Kehadiran

Talaqqi bukan hanya aktivitas mendengarkan penjelasan guru. Talaqqi adalah proses belajar secara langsung, berhadapan antara murid dan guru, dengan perhatian, penghormatan, dan keterhubungan keilmuan.

Dalam tradisi Islam, talaqqi memiliki kedudukan penting karena ilmu tidak hanya dipahami sebagai kumpulan teori, tetapi juga sebagai amanah yang harus diterima melalui adab dan tanggung jawab. Murid tidak sekadar menerima materi, melainkan belajar menyerap sikap, keteladanan, kedisiplinan, dan cara guru mengamalkan ilmu.

Kajian mengenai metode talaqqi menjelaskan bahwa pembelajaran langsung kepada guru yang memiliki kompetensi dan sanad keilmuan bertujuan agar murid mampu memahami, mengamalkan, serta menyampaikan ilmu dengan adab Islami.[1]

Karena itu, talaqqi tidak berhenti pada hubungan antara telinga dan suara. Ia menyentuh hubungan antara hati, perilaku, dan keteladanan.

Informasi Berlimpah, Pembentukan Jiwa Terbatas

Media sosial memiliki banyak manfaat. Ia dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, penyebaran literasi, dan pembuka akses terhadap berbagai khazanah keilmuan. Seseorang yang tinggal jauh dari pusat pendidikan pun dapat memperoleh pengetahuan dari para ulama dan cendekiawan.

Akan tetapi, media sosial memiliki keterbatasan. Ia tidak dapat sepenuhnya menggantikan proses pembimbingan yang berlangsung secara langsung dan terus-menerus.

Di media sosial, seseorang dapat memilih ceramah yang sesuai dengan seleranya, melewati penjelasan yang dianggap tidak menarik, atau berpindah dari satu guru ke guru lain tanpa proses pendalaman. Akibatnya, ilmu sering kali dikonsumsi secara cepat, terpisah-pisah, dan tanpa pengawasan.

Murid dapat mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu memahami kedalaman persoalan. Ia mungkin mampu mengutip berbagai pendapat, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan untuk menempatkan pendapat itu secara tepat.

Di sinilah talaqqi memiliki peranan penting. Guru dapat melihat perkembangan murid, meluruskan kesalahan pemahaman, menegur sikap yang kurang tepat, dan mengarahkan ilmu agar tidak berubah menjadi kesombongan.

Cahaya Ilmu dan Makna Keberkahan

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak dipandang hanya sebagai data atau informasi. Ilmu harus melahirkan perubahan dalam diri. Ia semestinya membuat seseorang semakin rendah hati, semakin santun, semakin berhati-hati dalam berbicara, dan semakin takut menyalahgunakan pengetahuan.

Sebagian kalangan menyebut dimensi batin ini dengan istilah **anwar** dan **asror**, yaitu cahaya dan rahasia spiritual yang menyertai proses pendidikan. Istilah tersebut tidak semestinya dipahami sebagai sesuatu yang dapat diukur seperti data digital, melainkan sebagai gambaran tentang pengaruh batin yang lahir dari hubungan guru dan murid, keteladanan, doa, keikhlasan, serta keberlanjutan amal.

Ilmu yang disampaikan oleh guru tidak hanya hadir melalui kata-kata. Ia juga hadir melalui cara guru bersikap ketika menghadapi perbedaan, cara menahan amarah, cara menghormati orang lain, dan cara menjaga keikhlasan dalam beramal.

Hal-hal semacam itu sulit ditangkap hanya melalui rekaman video. Murid perlu menyaksikan dan mengalaminya secara langsung.

Talaqqi dan Pendidikan Akhlak

Pendidikan karakter tidak cukup disampaikan dalam bentuk definisi. Anak-anak dan para penuntut ilmu membutuhkan contoh nyata.

Guru yang berbicara tentang kesabaran, tetapi mudah marah, akan memberikan pelajaran yang berbeda dari kata-katanya. Guru yang mengajarkan keikhlasan, tetapi selalu menuntut pujian, juga sedang menyampaikan pendidikan—meskipun bukan pendidikan yang diucapkan.

Dalam talaqqi, murid belajar melalui pengamatan sehari-hari. Ia menyaksikan bagaimana guru:

– menghormati orang yang lebih tua;
– menyayangi orang yang lebih muda;
– mendengarkan sebelum menjawab;
– tidak tergesa-gesa dalam memberikan penilaian;
– mengakui keterbatasan pengetahuan;
– menjaga lisan dari celaan;
– tetap rendah hati meskipun dihormati banyak orang.

Kajian tentang adab guru dan murid menempatkan penghormatan, ketaatan terhadap arahan yang baik, kesungguhan, dan ketekunan sebagai bagian penting dalam proses pendidikan. Dengan demikian, hubungan guru dan murid bukan sekadar hubungan akademik, melainkan hubungan pendidikan yang membentuk kepribadian.

Khidmah: Belajar Melalui Pengabdian

Salah satu unsur penting dalam tradisi talaqqi adalah **khidmah**, yaitu pengabdian atau pelayanan yang dilakukan dengan niat baik.

Khidmah bukan berarti merendahkan murid. Sebaliknya, khidmah merupakan latihan untuk keluar dari pusat ego. Seseorang belajar bahwa ilmu tidak hanya digunakan untuk mendapatkan penghargaan, jabatan, atau pengakuan, tetapi juga untuk membantu, melayani, dan memberi manfaat.

Melalui khidmah, murid belajar mengerjakan hal-hal sederhana dengan sungguh-sungguh. Ia belajar datang tepat waktu, menyiapkan tempat belajar, menghormati majelis, membantu sesama, dan menjaga amanah.

Kebiasaan-kebiasaan kecil itu sering kali lebih kuat dalam membentuk karakter daripada nasihat yang panjang. Sebab, karakter tumbuh melalui pengulangan perilaku yang dilakukan secara sadar dan konsisten.

Bahaya Ilmu Tanpa Bimbingan

Salah satu tantangan belajar melalui media sosial adalah munculnya perasaan telah menguasai ilmu hanya karena sering menonton kajian atau membaca kutipan keagamaan.

Seseorang bisa merasa telah memahami persoalan hanya karena mengetahui beberapa istilah. Ia dapat mengutip dalil, menyebut nama ulama, bahkan berdebat dengan percaya diri, tetapi belum tentu memahami konteks, metode berpikir, dan batas-batas penerapan ilmu tersebut.

Keadaan ini dapat melahirkan beberapa masalah:

– mudah menyalahkan orang lain;
– tergesa-gesa memberikan fatwa atau penilaian;
– mencampuradukkan pendapat tanpa memahami dasar keilmuannya;
– menganggap perbedaan sebagai kesesatan;
– merasa lebih alim karena memiliki banyak bahan kutipan;
– sulit menerima koreksi.

Tanpa guru yang membimbing, seseorang dapat kehilangan kendali atas perkembangan dirinya. Ia mungkin bertambah banyak pengetahuan, tetapi juga bertambah besar rasa ujubnya.

Karena itu, ungkapan yang sering dinisbatkan dalam tradisi keilmuan Islam—bahwa orang yang tidak memiliki guru dapat tersesat dalam memahami ilmu—sebaiknya dipahami sebagai peringatan tentang pentingnya bimbingan, bukan sebagai alasan untuk berhenti belajar melalui buku atau media digital.

Media Digital Bukan Musuh Talaqqi

Talaqqi dan media digital tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat saling melengkapi apabila ditempatkan secara tepat.

Media digital dapat digunakan untuk:

– mencari bahan bacaan;
– mengulang pelajaran;
– menyimak penjelasan tambahan;
– mengakses kitab dan referensi;
– mengikuti kajian ketika guru tidak dapat ditemui secara langsung;
– memperluas wawasan dan mengenal berbagai perspektif.

Sementara itu, talaqqi berfungsi untuk:

– memastikan pemahaman;
– membentuk adab;
– mendapatkan koreksi;
– menyaksikan keteladanan;
– menjaga kesinambungan belajar;
– mengarahkan ilmu agar menjadi amal.

Dengan kata lain, media digital adalah **sarana**, sedangkan talaqqi merupakan **proses pembentukan**. Media sosial dapat menjadi jendela untuk melihat dunia ilmu, tetapi guru dan majelis ilmu membantu seseorang menentukan arah perjalanan.

Tazkiyatun Nafs: Mengubah Ilmu Menjadi Akhlak

Tujuan pendidikan Islam tidak berhenti pada kecerdasan intelektual. Pendidikan juga diarahkan untuk membersihkan jiwa dan membentuk perilaku yang baik.

Konsep ini dikenal dengan istilah **tazkiyatun nafs**, yaitu proses penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela dan penghiasan diri dengan akhlak terpuji. Dalam pemikiran Al-Ghazali, proses tersebut sering dijelaskan melalui tahapan *takhalli, *tahalli*, dan *tajalli*: mengosongkan diri dari keburukan, menghiasi diri dengan kebaikan, dan memancarkan kedekatan kepada Allah melalui amal.

Talaqqi membantu proses ini karena murid tidak dibiarkan berjalan sendirian. Ia memperoleh nasihat, teguran, dorongan, dan contoh nyata. Guru tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga mendampingi murid dalam proses menjadi manusia yang lebih baik.

Ilmu yang tidak mengubah akhlak perlu direnungkan kembali. Sebab, ukuran keberhasilan belajar bukan hanya seberapa banyak seseorang mampu berbicara, melainkan seberapa baik ia mampu menjaga sikap.

Belajar Rendah Hati di Hadapan Guru

Pada akhirnya, talaqqi mengajarkan sebuah sikap yang semakin sulit ditemukan di zaman digital: kerendahan hati.

Media sosial sering membuat manusia terbiasa tampil, berkomentar, memberi penilaian, dan mencari pengakuan. Talaqqi mengajarkan hal yang berbeda. Murid diajak untuk mendengarkan, menunggu, mencatat, bertanya dengan santun, menerima koreksi, dan menyadari bahwa pengetahuan dirinya masih terbatas.

Duduk di hadapan guru bukan berarti mematikan akal. Justru, talaqqi yang sehat melatih akal agar berpikir secara tertib, kritis, dan bertanggung jawab. Murid tetap boleh bertanya dan berdiskusi, tetapi semua itu dilakukan dalam bingkai adab.

Sebab, kecerdasan tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan. Sebaliknya, adab yang disertai ilmu akan melahirkan kebijaksanaan.

Penutup: Jangan Hanya Mengunduh Ilmu

Teknologi dapat mengunduh kitab, menyimpan rekaman, dan mengumpulkan jutaan informasi. Namun, ia tidak dapat mengunduh kesabaran, ketawadhuan, keikhlasan, dan keteladanan.

Karakter tidak terbentuk hanya karena seseorang membaca nasihat. Karakter tumbuh karena nasihat itu disaksikan, dipraktikkan, dibiasakan, dan dikoreksi dalam kehidupan nyata.

Karena itu, gunakanlah media digital untuk mencari ilmu, tetapi jangan tinggalkan majelis yang membentuk jiwa. Dengarkan ceramah melalui layar, tetapi carilah guru yang dapat membimbing langkah. Bacalah kitab secara mandiri, tetapi tetaplah rendah hati untuk menerima penjelasan dan koreksi.

Jika kita menginginkan ilmu yang menerangi pikiran, melembutkan hati, memperindah akhlak, dan membawa keberkahan, maka ilmu itu harus diikuti dengan adab.

Sebab, ilmu dapat ditemukan di banyak tempat, tetapi kematangan jiwa lahir dari proses pendidikan yang tulus, keteladanan yang nyata, dan hubungan guru-murid yang penuh penghormatan.

Media sosial dapat menyebarkan ilmu. Talaqqi menghidupkan ilmu.

Exit mobile version