Opini  

Memaknai Polemik “Guru sebagai Beban Negara”

 

Oleh Rudiyanto, S.Pd.,Gr

 

Guru Pendidikan Agama Islam SD Negeri 9 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan

No HP / WA : 085368920586

Dalam perspektif Islam, guru adalah profesi yang sangat mulia.dan memiliki kedudukan yang tinggi. Guru merupakan penerus dan pewaris para Nabi yang memiliki tugas menyampaikan ilmu dan memperbaiki moral umat manusia. Dengan demikian, guru merupakan profesi yang sangat vital dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul serta pembawa kemajuan sebuah bangsa dan negara. Tanpa Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai, sebuah bangsa dan negara tidak akan pernah maju.

Dewasa kini, berseliweran di media sosial potongan video Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia, Sri Mulyani yang seolah-olah menyatakan bahwa guru adalah sebagai beban negara. Potongan video tersebut diambil pada saat Sri Mulyani berpidato pada Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Institus Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 7 Agustus 2025 lalu. Menteri Keungan, Sri Mulyani kala itu tengah menjelaskan tentang tantangan dalam klister anggaran pendidikan khususnya terkait gaji tenaga kependidikan. Ia menyatakan “Itu belanjanya dari mulai gaji sampai dengan tunjangan kinerja tadi, banyak medsos saya selalu mengatakan oh menjadi dosen guru itu tidak dihargai karena gajinya tidak besar. Ini salah satu tantangan keungan negara, apakah ini harus semua keuangan negara atau ada partisipasi masyarakat”.

Menanggapi polemik tersebut, Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro telah memberikan klarifikasi pada pada Rabu, 20 Agustus 2025 lalu. Ia menyatakan bahwa “Potongan video yang menampilkan seolah-seolah Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan guru adalah beban negara itu hoaks. Faktanya, Menteri Keungan tidak pernah menyatakan guru adalah beban negara”.

Menurut hemat penulis, pro dan kontra dalam pidato tersebut terletak pada kalimat “tantangan keuangan negara”. Berbagai spekulasi liar mulai bermunculan pada kolom komentar warganet hingga beredarnya potongan video hoaks Menteri Keuangan tersebut. Dengan demikian, sebagai generasi intelektual dan beriman, hendaknya kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Hikmah dari polemik tersebut ialah, hendaknya kita senantiasa dapat berkata-kata yang baik, bertabayyun serta bijak dalam menggunakan media sosial sehingga tidak menjadi bahan ghibah bahkan fitnah. Segala ucapan yang keluar dari mulut kita sejatinya harus dipikirkan terlebih dahulu dampak baik buruknya. Segala perselisihan yang terjadi dalam kehidupan kita, hendaknya dapat diselesaikan dengan tabayyun atau klrifikasi. Selain itu, dalam bermedia sosial hendaknya kita dapat melakukannya dengan tetap menjunjung nilai-nilai jati luhur bangsa.

Peran guru bagi kemajuan sebuah negara sebetulnya tidak perlu diperdebatkan dan diperselisihkan. Beberapa peran guru yang sangat fundamental menurut hemat penulis antara lain adalah sebagai berikut:

 Agen Perubahan dan Pembimbing Ilmu Pengetahuan

Guru merupakan pembimbing dan fasilitator ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya. Dengan demikian, peran guru sangat fundamental dalam mencetak generasi-generasi yang memiliki ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk kehidupan nyata nya. Tanpa adanya seorang guru, maka sebuah bangsa dan negara tidak akan memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan tidak akan pernah menjadi sebuah bangsa dan negara yang maju. Sebagai agen perubahan, guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang memerangi kebodohan hingga lahir generasi penerus bangsa yang memiliki kecerdasan dan ilmu pengatahuan yang mumpuni

 Pembimbing Karakter dan Moral

Selain memberikan bimbingan ilmu pengetahuan kepada seorang murid, guru juga merupakan pembimbing karakter dan moral bagi murid-muridnya. Tanpa adanya seorang guru, maka karakter dan moral anak bangsa tidak akan terarah

 Pembimbing Keterampilan

Keterampilan seorang murid tidak akan berkembang jika tidak ada bimbingan dari seorang guru. Keterampilan seorang murid sangat diperlukan agar bangsa dan negara memiliki daya saing yang tinggi

 Suri Tauladan

Peribahasa “guru digugu dan ditiru” merupakan peribahasa yang sangat familiar dan sangat relevan dengan profesi guru. Ditengah-tengah masyarakat, guru adalah suri tauladan bagi lingkungan sekitarnya. Sehinga, guru memiliki peran sentral sebagai tolak ukur dalam bersikap dan berperilaku dilingkungan sosial masyarakat.

 

Exit mobile version