Oleh : Nazila Deskla Sari (Siswa SDN 25 Mendobarat)
Siang itu, udara di desa Rukam terasa seperti panggangan roti. Matahari bersinar sangat terik, membuat debu-debu di lapangan sekolah terbang tak beraturan. Di bawah pohon ketapang yang mulai meranggas, empat sekawan kelas 5 SD-Aris, Siti, Bayu, dan Dani, sedang berkumpul. Mereka menyebut kelompok mereka sebagai Pasukan Kelekak Rukam.
“Panasnya tidak masuk akal,” keluh Bayu sambil mengibas-ngibaskan buku tulisnya. “Padahal kata kakekku, dulu Desa Rukam itu sangat sejuk, banyak pohon besar yang rindang,” tambah Bayu lagi.
Aris yang sejak tadi asyik memperhatikan sebuah peta tua coretan tangannya sendiri mengangguk pelan.
“Itu karena kelekak kita sudah habis, Bay. Pohon-pohon ditebang untuk tambang timah dan perkebunan sawit. Kita harus melakukan sesuatu sebelum desa kita benar-benar menjadi padang pasir,” tambah Aris.
“Tapi apa yang bisa dilakukan anak kelas 5 SD seperti kita?” tanya Dani ragu.
Siti yang selalu membawa botol minum berisi air rebusan madu, berdiri dengan semangat.
“Kita cari jantung hijau! Atok Sani bilang masih ada satu pohon rukam purba yang tersembunyi di bukit larangan. Itu adalah ibu dari semua pohon di desa ini. Kalau kita bisa menemukan bibitnya kita bisa memulai kembali kelekak kita sendiri.” Siti tampak bersemangat.
Mata keempat anak itu seketika berbinar, sebuah harapan untuk menghijaukan Desa Rukam kini dapat dicapai. Petualangan pun dimulai.
Keesokan harinya, tepat pukul tujuh pagi Pasukan Kelekak Rukam sudah berkumpul di depan gerbang desa. Mereka terlihat bersemangat untuk memulai petualangan mencari si jantung hijau di hutan. Tak lupa mereka membawa perlengkapan yang di butuhkan seperti ransel berisi botol minum, bekal nasi, kompas, makanan milik Dani, dan sebuah sekop kecil yang dipinjam Bayu dari ayahnya. Perjalanan awal terasa menyedihkan, mereka harus melewati “hutan kelabu”, sebutan mereka untuk hutan bekas tambang timah yang gersang. Tanah di sana pecah-pecah dan bewarna putih pucat. Tidak ada terdengar suara burung berkicau, yang ada hanya suara angin yang meniup debu.
“Lihat itu!” tunjuk Aris ke sebuah lubang galian yang sangat dalam dan berisi air warna hijau beracun.
“Dulu ini adalah hutan tempat pelanduk bermain, sekarang jangankan pelanduk rumput pun enggan tumbuh.” tambah Aris.
Dulu masih banyak pohon besar yang tinggi di kelekak tersebut_sebutan untuk hutan yang besar dan lebat. Namun, sekarang hanya tinggal tanah yang gersang dan lubang-lubang yang ditinggalkan begitu saja. Semangat mereka sempat menciut, namun Siti mengingatkan mereka tentang tujuan misi utama. Mereka terus berjalan hingga mencapai kaki bukit larangan, satu-satunya tempat yang masih terlihat hijau di kejauhan.
Memasuki bukit larangan suasana berubah drastis, udara menjadi lebih lembab dan segar. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi menghalangi cahaya matahari. Namun, jalan menuju puncak tidaklah mudah. Mereka harus melewati semak belukar yang penuh duri-duri kecil yang tajam.
“Aduh!” teriak Dani saat kakinya tersangkut tanaman menjalar.
“Hati-hati, ini yang namanya tanaman paku handam!” ujar Siti sambil membantu Dani. Di dekat sini biasanya ada sumber air.
Benar saja setelah berjuang selama dua jam mereka menemukan mata air yang sangat jernih. Di samping mata air itu berdirilah sebuah pohon besar dengan batang yang penuh duri-duri kecil dan buah bulat yang berwarna merah tua.
“Itu dia pohon rukam purba!” teriak Aris kegirangan.
Mereka berlari mendekati pohon rukam purba itu. Pohon itu tampak gagah, seolah-olah menjadi penjaga terakhir bagi kelestarian desa mereka. Di bawahnya banyak bibit yang mulai tumbuh subur.
Saat Pasukan kelekak Rukam asyik mengumpulkan bibit yang jatuh ke tanah, tiba-tiba terdengar suara deru mesin gergaji dari balik bukit. Suaranya tampak bising membuat burung-burung beterbangan ketakutan.
“Suara mesin gergaji!” Bayu langsung waspada.
Mereka mengintip dari balik semak, tampak tiga orang dewasa sedang bersiap memotong pohon besar yang tak jauh dari pohon rukam purba itu. Di samping mereka terdapat papan bertulis pengumuman bertuliskan “Pembukaan Lahan Baru”
“Mereka ingin menghancurkan tempat ini juga!” bisik Dani gemetar.
Aris mengepalkan tangannya, sebagai anak kelas 5, ia tahu mereka tidak mungkin melawan orang dewasa dengan kekuatan fisik. Tapi Aris ingat pelajaran di sekolah tentang pentingnya hutan sebagai daerah resapan air.
“Kita harus pakai otak, bukan otot!” bisik Aris. “Dani, kamu kan lari paling cepat. Lari ke desa dan panggil Pak Kades. Bilang kalau hutan lindung ini mau ditebang. Siti, dan Bayu, kita buat suara-suara gaduh untuk menakut-nakuti mereka!” perintah Aris.
Misi dimulai, Dani berlari kencang secepat kilat, sementara itu Aris, Siti, dan Bayu bersembunyi di balik pohon yang berbeda. Mereka mulai memukul-mukul batang pohon dengan batu dan berteriak mengikuti suara monyet dan macan “HOOOIGRRRRR!AWUUU!”
Mereka terus memukul-mukul pohon. Seketika penebang itu terkejut, mereka saling pandang dengan wajah pucat.
“Suara apa itu? Apa benar ada harimau di sini?” tanya salah satu penebang dengan suara gemetar.
Karena suasana hutan menjadi lebih angker mereka akhirnya mematikan mesin dan memutuskan untuk istirahat di pinggir hutan
Setelah satu jam, akhirnya Dani kembali dengan Pak kades dan beberapa warga desa. Ternyata penebangan itu memang illegal dan tidak memiliki izin. Seketika Pak Kades menghentikan kegiatan tersebut.
“Jika bukan karena kalian Pasukan Kelekak Rukam, mata air terakhir Desa Rukam pasti sudah hilang hari ini!” puji Pak Kades sambil mengusap kepala Aris.
Kawan-kawan dan Aris tersenyum bangga. Mereka pulang membawa sepuluh bibit yang paling sehat dan subur.
Keesokan harinya, mereka menanam bibit pohon di belakang sekolah, tak lupa mereka membuat papan bertuliskan “KELEKAK MINI KELAS 5”.
“Kenapa buah rukam harus dipijit dulu sebelum dimakan?” ujar Dani sambil menepuk-nepuk tanah di sekitar bibit.
“Supaya manis,” jawab teman-teman dengan serempak.
“Seperti bumi kita,” lanjut Aris dengan gaya seperti guru bijaksana. “Kita harus memberikan perhatian dan kasih sayang kepada bumi kita, nanti bumi akan memberikan udara yang segar, buah yang manis.” tambah Aris lagi.
Tahun-tahun berlalu bibit itu tumbuh menjadi pohon yang rindang. Pasukan Kelekak Rukam sudah membuktikan walaupun mereka hanya anak kelas 5, mereka telah membuktikan keberanian dan kepedulian mereka mampu menyelamatkan desa. Petualangan mereka belum selesai, selama bumi masih membutuhkan penjaga, mereka akan siap untuk melindunginya. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.
