Oleh: Syabaharza
“Kenapa seluruh badanmu licin dan bau minyak?”
Penghuni baru dalam ruangan itu bertanya kepada salah satu penghuni lama yang baru saja pulang.
“kamu penghuni baru ya?”
Penghuni lama itu menyaut sambil bertanya.
Dengan gestur mengiyakan, penghuni baru bergeser dari posisinya semula membuat jarak antara keduanya semakin rapat.
Sementara penghuni yang lain tetap bergeming dengan posisi dan kesibukannya masing-masing.
Tempat yang dihuni mereka itu sebenarnya sudah over kapasitas, namun tetap dipaksakan untuk dijejali penghuni. Mungkin yang menempatkan mereka itu menjiplak dari negeri antah-berantah, dimana negeri tersebut menempatkan banyak tahanan di tempat yang sempit. Di sana seakan sudah menjadi rahasia umum bahwa tahanan harus siap berhimpit-himpitan dalam sebuah ruangan penjara atau yang sering disebut lembaga pemasyarakatan.
Keadaan mereka juga hampir sama dengan ilustrasi penjara tadi. Mereka harus rela berdesakan demi untuk sekedar mendapatkan ruang bernafas.
Dalam hunian itu sudah sarat dengan berbagai jenis uang logam aneka nominal. Mulai dari koin Rp.100, Rp.200, Rp.500, dan Rp.1000. Di hunian itu mereka ditempatkan dengan tumpukan yang tidak beraturan, karena mereka adalah sisa-sisa dari transaksi penguasa yang sudah terpinggirkan.
*****
“aku selalu terpilih untuk melaksanakan tugas yang menjijikkan itu”
Koin bertuliskan angka Rp.1000 mulai menjelaskan kepada penghuni baru.
“tugas menjijikkan?”
Penghuni baru yang juga berbentuk bulat dengan angka Rp.500 bertanya penuh keheranan.
“dia itu selalu dipakai untuk membuat tanda di tubuh makhluk berbadan besar dan tinggi”
Koin kecil yang bertuliskan Rp.200 menyahut dengan susah payah keluar dari tumpukan. Koin Rp.200 terhimpit oleh koin-koin yang lain. Posisinya berada di dasar tempat yang mereka huni.
“tapi kenapa menjijikkan?”
Koin Rp.500 masih penasaran.
“setiap hari aku harus mengelus punggung mereka”
Koin Rp.500 mendengarkan dengan saksama. Koin-koin yang lain masih cuek, karena sebagai penghuni lama mereka sudah tahu profesi koin Rp.1000 dan mereka juga tahu ending dari ceritanya.
“terkadang aku mendapatkan punggung yang tidak pernah dicuci”
Tanpa memperdulikan ketidaksimpatian koin-koin yang lain, koin Rp.1000 kembali meneruskan ceritanya.
“jika mendapatkan hal seperti itu, maka sudah dipastikan seluruh tubuhku akan dikotori daki-daki mereka”
“Ihh…”
Koin Rp.500 dapat merasakan apa yang dirasakan oleh koin Rp.1000. Tanpa diundang rasa empatinya muncul. Ia kasihan dengan saudara beda nominalnya itu. Ia membayangkan ketika sisi-sisi saudaranya itu digerakkan di punggung manusia yang berdaki. Atau mungkin saja saudaranya itu akan mendapatkan punggung manusia yang kulitnya penuh jamur kulit. Sungguh suatu yang menjijikkan.
“itulah kenapa aku selalu berlumuran minyak dan tubuhku terlihat kusam”
Koin Rp.500 menoleh ke arah koin-koin lain yang tersusun berantakan. Sekali lagi mereka tetap mematung tanpa memberikan respons sedikitpun.
*****
“di daerah lain, jenis seperti kita ini masih dipakai”
Pagi itu perbincangan terjadi antara koin Rp.200 dan koin Rp.100. Mereka melakukan perbincangan tatkala koin Rp.1000 dan Rp.500 sedang tidak ada di tempat. Pagi itu koin Rp.1000 seperti biasa menjalankan tugas rutinnya. Sedangkan koin Rp.500 yang baru, dibawa ke suatu tempat yang tidak diketahui, tapi koin Rp.500 yang baru tidak sendiri. Ia ditemani koin Rp.500 lama yang berwarna kuning.
“di mana itu?”
Koin Rp.100 merangsek mendekati koin Rp.200 ingin tahu lebih lanjut.
“di daerah Barat, manusia masih memanfaatkan kita untuk transaksi”
“terutama anak-anak di sana sangat senang dan mencintai benda-benda seperti kita”
Koin Rp.200 bertambah semangat menceritakan selintingan berita yang pernah didengarnya. Api semangatnya semakin menyala ketika mendapat dukungan dari saudara bungsunya itu.
“kemarin aku ditolak oleh yang punya warung”
“katanya mereka tidak menerima lagi bentuk seperti ku”
Koin Rp.100 tampak sangat sedih dan kecewa. Koin Rp.200 hanya tersenyum, seolah mengiyakan.
“padahal dulu mereka sangat memerlukan kita”
Koin Rp.100 belum mau berhenti curhat kepada teman yang dianggap sebagai sohib karibnya itu.
“benar itu, mereka sekarang seolah menganggap kita anak tiri saja”
“coba lihat yang ditampilkan di media, selalu mereka yang nomimalnya besar. Untuk bukti korupsi, bukti kolusi dan bukti-bukti lainnya selalu yang besar dan baru”
“kita hanya dianggap pelengkap saja, padahal tanpa adanya kita tidak genap hitungan mereka”
Kali ini koin Rp.200 menimpali dengan semangat yang lebih berapi-api. Pernyataan koin Rp.200 itu memang tidak bisa dibantah. Karena ia melontarkan itu berdasarkan fakta. Semisal tayangan yang ditampilkan di layar kaca selalu bentuk dan nominal yang besar saja.
“bagaimana kalau kita pergi ke daerah yang bisa menerima kita tadi!”
Koin Rp.100 berusaha meyakinkan dan mengajak koin Rp.200 yang tadi memberikan informasi. Koin Rp.200 terdiam sejenak, ia berpikir ide koin Rp.100 bisa dipertimbangkan.
“tapi, bagaimana caranya”
Koin Rp.200 melontarkan pertanyaan yang membuat koin Rp.100 kembali berpikir.
“kita pindah jiwa saja”
“pindah jiwa?”
“pindah jiwa sekarang susah, terlalu banyak yang harus disiapkan berkasnya, belum lagi nanti ada tetek bengeknya” ujar koin Rp.200.
“atau kita protes saja”
Kali ini koin Rp.100 mengeluarkan ide yang sedikit berani. Mungkin ia terinspirasi dengan adanya unjuk rasa di sebuah daerah beberapa waktu yang lalu.
“tambah susah itu”
“mau unjuk rasa langsung, kita kecil. Lewat aspirasi, belum ada perkumpulan yang mewakili kita”
Koin Rp.200 masih belum tahu bagaimana caranya agar kaum seperti mereka bisa migrasi ke lokasi yang bisa menerima mereka.
Akhirnya koin Rp.100 dan koin Rp.200 terdiam seribu bahasa. Tidak ada lagi yang bisa mereka utarakan. Pikiran mereka mampet seperti saluran air di Jakarta ketika hujan lebat turun.
*****
Suasana malam itu penuh kegelisahan di tempat para koin bersemayam. Mereka lagi gundah dan juga khawatir, karena saudara mereka koin Rp.500 -baik yang warna kuning maupun silver- belum juga pulang. Padahal koin Rp.1000 sudah kembali satu jam yang lalu, tentunya dengan keadaan seperti sebelum-sebelumnya, tubuh kotor dan bau minyak.
Penghuni tempat itu mencoba menerka-nerka apa yang terjadi pada dua koin Rp.500. pikiran mereka bergerilya memunculkan angan masing-masing. Koin Rp.1000 berpikir jika koin Rp.500 sudah diculik dan tidak akan dikembalikan lagi. Koin Rp.200 berpikir mungkin koin Rp.500 belum disuruh pulang atau mungkin disuruh menginap. Sedangkan koin Rp.100 berpikir lebih ekstrem lagi, dalam pikirannya koin Rp.500 sudah dirubah bentuknya menjadi sebuah perhiasan. Karena ia pernah mendengar bahwa makhluk yang tinggi besar itu sering mempermak koin-koin menjadi sebuah cincin. Nanti cincin itu akan dipamerkan kepada kaumnya dan dibanggakan, padahal itu hanya imitasi.
Namun, khayalan mereka terganggu, ketika tiba-tiba kedua koin Rp.500 kembali ke hunian mereka.
“dari mana kalian?”
Koin Rp.1000 tampak tidak sabar untuk mendapatkan informasi.
“sungguh teragis nasib kami hari ini” ujar koin Rp.500 yang berwarna kuning.
“iya, baru sekarang aku merasakan diperbudak” koin Rp.500 warna silver menimpali.
Koin Rp.1000, Rp.200, dan Rp.100 saling pandang. Mereka masih dalam keadaan bingung.
“badan kami disatukan dengan paksa, lalu kami dijepitkan ke sebuah benda halus di dagu, kemudian kami dipaksa menarik benda tersebut sampai tercabut” kali ini kedua koin Rp.500 kompak bercerita.
“bukan cuma satu yang harus kami cabut, tapi puluhan”
“selesai di daerah dagu, kami dibawa ke lokasi yang sangat pengap dan berbau”
Koin Rp.500 warna kuning mempertegas penderitaan mereka hari itu.
“di daerah yang baru itu kami kembali dipaksa kerja rodi” koin Rp.500 warna silver menambahkan.
Setelah itu kedua koin Rp.500 tidak berbicara apa-apa. Mereka bergegas merebahkan tubuh mereka ke peraduan. Tubuh mereka terasa sakit semua.
Koin Rp.1000 memandangi koin Rp.200 dan koin Rp.100 yang masih saling berpandangan.
“kalian tinggal menunggu giliran dieksploitasi seperti kami”
Lalu koin Rp.1000 ikut berbaring untuk mempersiapkan diri bertugas esok hari. Seperti biasa ia tidur dengan badan penuh kotoran dan bau minyak. Ia tidur dengan penuh harapan tugasnya esok hari bisa enak seperti para pejabat di negeri antah-berantah.
Koin Rp.100 dan Rp.200 memperhatikan ketiga saudaranya itu tidur pulas. Sesekali terdengar dengkuran yang sangat keras. Namun dengkuran-dengkuran itu tetap tidak terdengar oleh penguasa yang mengekploitasi mereka.
Keinginan untuk transmigrasi ke daerah yang membutuhkan mereka semakin menguat dan membumbung langit.
*****
Pagi itu semua koin sudah terbangun dari istirahatnya. Koin Rp.1000 sudah menunggu pekerjaan apa yang didapatnya hari itu. Kedua koin Rp.500 juga sudah stanby, walaupun masih merasakan sakit di sebagian badannya. Sementara koin Rp.100 dan koin Rp.200 semakin was-was, mereka masih terngingan dengan perkataan koin Rp.1000 semalam.
Dieksploitasi.
Mereka bertanya-tanya dalam hati, apakah ucapan koin Rp.1000 itu benar akan terjadi pada diri mereka.
Satu jam lebih sudah mereka menunggu namun belum juga ada tanda-tanda tugas untuk mereka.
“ada apa ya?”
Koin Rp.1000 menatap saudara-saudaranya.
Mereka diam tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Dari arah samping hunian mereka terdengar pemberitaan di sebuah televisi dengan ukuran yang sangat besar. Ada pengumuman dari penguasa negeri bahwa semua jenis uang logam tidak akan digunakan lagi dalam sistem transaksi dan perbankan mulai hari itu. Sehingga masyarakat bisa membuang atau menguburkan segala bentuk uang logam.
Warta itu disampaikan oleh stasiun televisi yang sedang bermasalah -karena sebuah acaranya-. Kabartersebut membuat kumpulan uang logam menjadi panik dan bertambah ketakutan. Suasana horor tiba-tiba langsung menyerang mereka tanpa bisa dilawan. Dalam pikiran mereka, para penguasa akan segera membumihanguskan mereka dengan keji,. Dan sudah dipastikan mereka tidak bisa melawan. seperti tentara zionis membunuh pejuang Islam di Gaza.
“tamatlah riwayat kita”
Koin Rp.1000 menatap saudara-saudaranya dengan tatapan masygul. Ia tidak bisa membayangkan bahwa persaudaraan mereka akan sirna oleh suatu kebijakan yang tidak pro kepada yang kecil.
Benar saja kekhawatiran mereka ternyata jadi kenyataan, karena beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki mendekati hunian mereka. Dan dengan sekali cengkraman tangannya meraih sebuah mug tempat koin-koin itu berdiam diri. Mug itu bergambar pasangan calon bupati suatu daerah. Kemudian koin-koin itu merasa bahwa mereka dibawa terbang pindah dari lokasi awal ke suatu lokasi baru.
*****
Suasana gelap kini menyelimuti koin-koin itu. Setelah tadi mereka merasakan tempat tinggal mereka seperti mengalami gempa bumi yang sangat dahsyat, lebih dahsyat dari gampa bumi di Aceh pada tahun 2004 silam. Setelah itu mereka merasakan terjun bebas dari posisi yang sangat tinggi.
Kini mereka sudah berpindah tempat dan mungkin sebentar lagi akan berpindah alam. Mereka tidak tahu takdir apa lagi yang akan menghampiri mereka. Mungkin dengan pergantian rezim, mereka bisa eksis kembali atau mungkin juga rezim yang baru akan lebih kejam. Mereka meratapi nasib dengan sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab. Mengapa mereka dilahirkan?.
BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan. Sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Untuk diskusi dengan penulis, silakan ke: syamsulpemulutan81@gmail.com












