Oleh: Meilanto
Seragam putih abu-abu itu masih menggantung lemari usang. Ya lemari yang sudah tidak berpintu lagi. Akibat bagian engsel daun pintu digerogoti rayap. Lemari yang lebih tua usianya dibandingkan dengan umur Adi. Baju lengan panjang itu banyak coretan tanda tangan teman satu angkatan. Lengkap dengan cat warna-warni pylok. Begitu juga dengan celana panjang abu-abu yang ia kenakan tiga tahun menuntut ilmu di sebuah SMA di kota. Adi, guru di sebuah SD daerah pesisir di Pulau Bangka. Di sampingnya toga kebesaran saat ia wisuda sarjana.
Pikirannya kembali ke masa-masa SMA, kuliah dan melimbang timah di kampung. Adi harus hijrah ke kota karena di kampungnya belum ada akses pendidikan SMA/SMK. Jadilah Adi anak kost. Makan hanya mengandalkan KKN. Kecap, Kerupuk dan Nasi. Tapi tak apalah yang penting Adi bisa sekolah untuk menggapai mimpi-mimpinya.
Hari pengumuman kelulusan yang dihadiri oleh orang tua siswa menjadi hari yang bersejarah bagi seluruh pelajar SMA sederajat di tanah air. Hari itu pengumuman kelulusan serentak. Penentuan kelulusan bukan ditentukan oleh sekolah melainkan dari hasil ujian selama satu minggu. Berjuang habis-habisan atau pulang kampung dengan membawa malu.
Maka sangat wajar jika Adi dan teman-teman satu angkatannya bahkan seluruh Indonesia merayakan kegembiraan itu dengan suka cita.
Ternyata perjuangan belum berhenti sampai disitu.
“Mak, Adi mau kuliah seperti teman-teman yang lain,” ujar Adi saat ia pulang kampung.
Kedekatan hubungan emosional Adi dengan Mak, membuat ia sering menumpahkan keluh kesahnya kepada mak. Berbeda dengan ayah yang berwatak tegas dan tidak mengenal kompromi.
“Adi, kamu tahu sendiri Nak keadaan ekonomi keluarga kita, kamu sudah bisa menyelesaikan SMA saja, mak dan ayah sudah bersyukur. Penghasilan ayah dan mak tak menentu. Ayahmu kerja serabutan. Kadang dapat kerjaan, kadang pengangguran.”
Diskusi pagi itu membuat Adi sedih. Ia harus mengubur impiannya untuk kuliah. Kubur dengan batu nisan bertuliskan Impian Adi. Sebenarnya ia sudah tahu jika orang tuanya tidak mampu membiayai kuliahnya. Selama SMA, Adi mendapat bea siswa berprestasi sehingga meringankan biaya sekolah. Selama tiga tahun, ia mendapat bea siswa karena memang Adi termasuk siswa yang cerdas. Rentetan medali dan tropi serta piagam penghargaan dari berbagai event perlombaan berjejer rapi dalam lemari yang tak berpintu itu. Begitu juga di etalase sekolah. Nama Adi bukanlah nama yang asing di sekolahnya.
“Apa ku bilang, tidak mungkin Adi bisa kuliah ke luar daerah, bisa makan saja sudah cukup!” begitu suara yang ia dengar dari teman-teman di kampungnya. Teman-teman di kampung Adi tidak ada yang melanjutkan ke SMA. Adi mengambil langkah berani untuk melanjutkan ke SMA dengan modal tekad yang kuat walaupun ia dari keluarga dengan ekonomi lemah.
“Alah, paling nanti jadi tukang kebun, nyadap getah karet atau ngelimbang timah!” kalimat-kalimat yang sering kali menyentuh gendang telinga Adi. Apa boleh buat ia harus menerima kenyataan belum bisa kuliah seperti cita-citanya sejak kecil, yaitu menjadi guru.
Hari-hari Adi diisi dengan ngelimbang timah. Dengan wadah plastik khusus untuk memisahkan pasir dan bijih timah, ia berangkat ke kolong tempat para pelaku pertambangan membuka usaha Tambang Inkonvensional yang oleh masyarakat Bangka dikenal dengan TI. Bijih-bijih timah yang berwarna hitam itu dikumpulkan sedikit demi sedikit. Hasilnya lumayan untuk membantu ekonomi keluarganya. Kulit yang sering diterpa panas matahari itu kini mulai berubah. Adi bekerja keras mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Tak lupa uang hasil ngelimbang timah ia tabung. Adi tidak lupa dengan cita-citanya menjadi guru.
Para pekerja tambang di kampungnya sedang menghasilkan timah dalam jumlah besar. Begitu juga dengan Adi. Timah-timah sisa ia kumpulkan dan jual kepada pengepul. Tidak terasa tiga tahun pekerjaan itu ia lakoni.
“Mak, uang tabungan Adi sepertinya sudah cukup untuk mendaftar kuliah, Adi mau kuliah, Mak. Adi mau membuktikan kepada orang-orang bahwa Adi bisa menggapai mimpi-mimpi Adi, Mak.”
“Adi, mak dan ayah tidak bisa berbuat banyak. Mak dan ayah hanya bisa berdoa supaya kamu berhasil menggapai mimpi-mimpimu itu.”
“Terima kasih, mak, ayah. Adi akan ke Kota untuk mendaftar kuliah.”
Tes masuk perguruan tinggi dilalui dengan lancar tanpa hambatan. Doa kedua orang tuanya menjadi pintu gerbang bagi Adi untuk menggapai mimpi-mimpinya. Berbekal doa restu kedua orang tuanya, ia memulai langkah dari hari dengan status mahasiswa.
Adi kini berstatus menjadi mahasiswa. Siang kuliah dan malam hari bekerja di sebuah warung kopi. Beruntung ia bisa tinggal di dapur warung kopi tempat ia bekerja itu. Hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Jarak warung kopi dan kampus juga tidak terlalu jauh, cukup berjalan kaki.
Tekad dan semangat Adi tidak pernah surut. Cukuplah omongan teman di kampung menjadi pemicu dan pemacu semangatnya. Keterpurukan ekonomi bukan halangan baginya untuk menggapai mimpi.
4 tahun sudah ia menempuh pendidikan. Kini ia sudah menjadi seorang sarjana. Sarjana dengan gelar S.Pd. Tangis haru dari kedua orang tuanya saat Adi berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat sebagai lulusan terbaik.
Tanpa disadari, air mata Adi menetes teringat perjuangannya menggapai impian. Diraihnya seragam putih abu-abu yang kini bersandingan dengan toga wisudanya masih dalam lemari tanpa pintu itu.
Ia pernah terpuruk. Ekonomi bukan menjadi penghalang baginya untuk menggapai mimpi. Omongan orang dijadikan motivasi diri. Kini ia sudah menikmati jerih payah kedua orang tuanya dan usaha kerasnya itu. (BP/ KM)”
Catatan: Cerpen ini telah diterbitkan dalam buku antologi oleh PT. LAN TULUNGAGUNG, Januari 2024.
