Oleh: Mei Saputri¹, Farros Dwi Yulianto², Surindah Kraoudila³, Janila⁴
¹,²,³,⁴ Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung.
Jl. Kampus Terpadu, Balunijuk, Bangka
Bekaespedia.com. Angka stunting di Indonesia masih menjadi tantangan serius, termasuk di Kota Pangkalpinang, yang mencatat persentase fluktuatif dan sempat mencapai 20,7% pada tahun 2023. Pada Kota Pangkalpinang sendiri juga memiliki jumlah Keluarga Resiko Stunting (KRS) sebesar 648 pada tahun 2024. Di balik statistik ini, tersembunyi sebuah problem sosial yang mendasar yaitu perbedaan pemaknaan stunting antara narasi ilmiah pemerintah dan realitas sehari-hari masyarakat. Mayoritas Keluarga Berisiko Stunting (KRS) di Pangkalpinang masih menganggap stunting sebatas gejala fisik anak yang kecil, kurus, atau akibat keturunan bukan sebagai dampak kekurangan gizi kronis yang menghambat perkembangan kognitif. Bahkan, sebagian masyarakat mengaitkannya dengan kepercayaan lokal, seperti “penyakit budak” yang dianggap sebagai gangguan non-medis. Konstruksi sosial yang mengendap dalam stock knowledge Keluarga Resiko Stunting menganggap stunting sebagai takdir atau penyakit guna-guna yang berasal dari non-medis menjadi hambatan kultural yang membuat upaya pencegahan berbasis kesehatan sulit berhasil. Dalam konteks inilah, Program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang diinisiasi oleh BKKBN dan dilaksanakan oleh DPC IPeKB Pangkalpinang hadir sebagai instrumen transformasi sosial yang memiliki peran penting dalam mempercepat penaggulangan stunting.
Strategi Sosial yang Menjembatani Kesenjangan Makna
Dalam kasus di Pangkalpinang ini penanganan stunting tidak cukup hanya dengan intervensi medis atau bantuan gizi. Diperlukan strategi sosial yang mampu menjembatani perbedaan pemaknaan dan mengubah pola pikir masyarakat. Strategi yang diterapkan oleh DPC IPeKB ini bersifat personal, partisipatif, dan multidimensional. Dalam hal ini pihak DPC IPeKB dalam menerapkan percepatan penurunan stunting menggunakan berbagai metode sebagai berikut:
1.Sosialisasi Langsung dan Humanis
Kader DPC IPeKB melakukan kunjungan rumah dan pertemuan untuk memberikan edukasi secara langsung. Mereka tidak hanya datang untuk menginstruksi, tetapi juga untuk mendengarkan keluhan dan pengalaman keluarga. Narasi yang digunakan disesuaikan dengan konteks lokal, misalnya, menjelaskan bahwa “anak sehat harus kuat dan rajin makan lauk yang bergizi” ketimbang istilah medis yang rumit. Pendekatan ini membuat masyarakat merasa dihargai dan lebih terbuka terhadap informasi baru.
2.Intervensi Lintas Sektor (Struktural dan Kultural)
GENTING tidak hanya memberikan bantuan nutrisi (dengan nominal Rp450.000/bulan dalam bentuk bahan pangan mentah), tetapi juga berkolaborasi dalam perbaikan kondisi lingkungan. Kolaborasi dengan pemerintah kota (Bapedda) dan mitra swasta menghasilkan pembangunan sumur bor, perbaikan rumah tidak layak huni, dan pembangunan jamban sehat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa stunting diatasi sebagai masalah multidimensi, mulai dari gizi, sanitasi, hingga edukasi. Selain intervensi gizi dan sanitasi, DPC IPeKB turut memberikan penyuluhan keluarga berencana (KB). Ini adalah langkah strategis untuk memutus rantai risiko stunting dengan membantu keluarga fokus pada pemenuhan gizi dan pengasuhan anak yang sudah ada.
Transformasi Sosial Melalui Tiga Tahap Peter L. Berger
Keberhasilan program GENTING dalam mengubah kesadaran masyarakat Pangkalpinang dapat dianalisis menggunakan Teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger (1990), yang menjelaskan perubahan realitas melalui tiga tahap. Dalam tahap Eksternalisasi, DPC IPeKB memperkenalkan wacana baru bahwa stunting bukanlah nasib atau warisan, melainkan kondisi yang dapat dicegah melalui sosialisasi, pendampingan, dan bantuan. Tahap objektivasi, masyarakat mulai menyaksikan realias sosialnya, seperti peningkatan berat badan anak, perbaikan rumah, dan pembangunan sanitasi air bersih. Realitas “anak sehat karena gizi cukup” mulai menggantikan realitas lama “anak kecil karena keturunan”. Dan pada Internalisasi, tahap ini tercapai ketika nilai-nilai baru tersebut melekat dalam kesadaran sosial. Masyarakat mulai berinisiatif sendiri untuk memberikan makanan bergizi, menjaga kebersihan, dan rutin ke posyandu, bahkan saling mengingatkan tetangga. Mereka tidak lagi percaya pada mitos dan beralih ke pola pikir rasional-preventif.
Kesimpulan
Program GENTING membuktikan bahwa intervensi stunting harus diiringi pendekatan kultural yang kuat. Keberhasilannya bukan semata pada bantuan material, melainkan pada perubahan makna sosial yang berhasil dibangun di tingkat masyarakat. Dengan mengadaptasi narasi ilmiah ke dalam bahasa kehidupan sehari-hari masyarakat lokal, DPC IPeKB berperan sebagai agen perubahan yang menggeser pandangan irasional tentang stunting menjadi pengetahuan yang rasional mengenai stunting. Dimana Keluarga Resiko Stunting memiliki stock of knowledge yang benar bahwa stunting itu merupakan penyakit kronis yang dialami anak-anak baduta dikarenakan kekurangan gizi pada anak-anak. Lalu Keluarga KRS menjadi aware tentang dampak dan bagaimana cara menangani stunting pada anak-anaknya. (BP/ KM)*












