Oleh: Anesti Yulistira, Haliza Fiani Tastbita, Janila, Puput Dewi Haryani, dan Ola Olviolita
Universitas Bangka Belitung
Pariwisata berbasis alam semakin diminati oleh wisatawan yang ingin merasakan pengalaman unik sekaligus dekat dengan alam. Desa Kurau di Bangka Tengah, yang dikenal dengan hutan mangrove indahnya, kini melakukan revitalisasi untuk menghidupkan kembali sektor pariwisatanya. Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah glamping atau glamorous camping, sebuah konsep wisata yang menggabungkan sensasi berkemah dengan kenyamanan ala hotel. Kehadiran glamping di kawasan mangrove ini diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memperkenalkan ekosistem mangrove dengan cara yang lebih menarik.
Revitalisasi ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Bank Indonesia, serta Pemerintah Desa Kurau Barat. Pemerintah daerah berperan penting dalam pengelolaan ekowisata, baik dalam bentuk pengadaan sarana dan prasarana (Sapras) maupun legalitas kawasan wisata. Dukungan dari berbagai lembaga ini menunjukkan keseriusan dalam mengembangkan wisata yang tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.
Konsep glamping dipilih sebagai daya tarik baru wisata ini karena sejalan dengan perkembangan ekowisata. Selain memberikan pengalaman eksklusif bagi wisatawan, glamping juga bertujuan untuk membatasi jumlah pengunjung massal, sehingga dapat mengurangi produksi sampah dan dampak negatif terhadap lingkungan. Dengan jumlah pengunjung yang lebih terkontrol, kawasan mangrove tetap terjaga, namun secara ekonomi pendapatan dari sektor pariwisata dapat meningkat karena harga layanan glamping lebih tinggi dibanding wisata konvensional.
Glamping di Hutan Mangrove Kurau menawarkan pengalaman menginap yang unik. Tenda-tenda eksklusif dengan desain estetik dan fasilitas modern disediakan agar wisatawan bisa merasakan suasana berkemah tanpa mengorbankan kenyamanan. Dari dalam tenda, pengunjung bisa menikmati pemandangan hutan mangrove yang asri dan suara alam yang menenangkan. Di malam hari, mereka dapat bersantai di area terbuka sambil menikmati hidangan lokal atau berkumpul di sekitar api unggun. Selain itu, berbagai aktivitas ekowisata seperti menyusuri sungai mangrove dengan perahu, mengamati burung, hingga menanam bibit mangrove juga menjadi daya tarik tambahan bagi para pengunjung.
Sejak fasilitas ini diperkenalkan, wisatawan memberikan respons yang positif. Banyak yang tertarik dengan pengalaman glamping di area hutan mangrove, karena konsep ini tergolong baru di Bangka Belitung. Keunikan menginap di tengah ekosistem mangrove membuat wisata ini semakin diminati, terutama oleh wisatawan yang mencari pengalaman wisata alam yang berbeda dari biasanya.
Revitalisasi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Warga Desa Kurau kini memiliki lebih banyak peluang untuk terlibat dalam sektor pariwisata, mulai dari menjadi pemandu wisata, menyediakan kuliner khas, hingga mengelola fasilitas glamping. Dengan demikian, keberadaan glamping tidak hanya menciptakan destinasi wisata baru, tetapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Dengan konsep wisata yang inovatif dan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, Hutan Mangrove Kurau kini siap menjadi salah satu destinasi unggulan di Bangka Tengah. Glamping memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menikmati keindahan alam dengan cara yang lebih eksklusif, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove. Dengan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, revitalisasi ini diharapkan dapat membawa manfaat jangka panjang bagi pariwisata dan lingkungan di Desa Kurau.
Bagi pecinta alam yang ingin merasakan kemewahan di tengah hutan mangrove, glamping di Desa Kurau adalah pilihan yang tak boleh dilewatkan! (BP)*












