Menghidupkan Kembali Sumpah Luhur Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026

Karya: Yanto In Action 

Oleh: Yanto, M.Pd.

Guru, Motivator Pendidikan & Penggerak Nilai Kebangsaan

 

Pancasila bukan sekadar lambang di dinding, bukan sekadar bunyi pidato di atas panggung, dan bukan sekadar hafalan pelajaran sekolah. Pancasila adalah sumpah luhur yang diucapkan para pendiri bangsa janji tulus untuk membangun tanah air di atas kebenaran, keadilan, persatuan, kemanusiaan, dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Namun hari ini, di tengah gemuruh kemajuan dan perubahan zaman, kita bertanya: Apakah sumpah itu masih hidup di dada kita?

 

Kesaktian Pancasila tidak terlihat dari upacara yang megah, melainkan dari sikap kita sehari-hari. Ia terlihat ketika kita menghormati perbedaan, ketika kita tidak menindas yang lemah, ketika keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, ketika kekayaan bangsa dinikmati secara merata, bukan hanya oleh segelintir orang.

 

Pancasila menjadi lemah bukan karena musuh dari luar, melainkan karena kita sendiri yang melupakannya. Ketika kepentingan pribadi diutamakan di atas kepentingan bersama. Ketika kebencian disebarkan lebih cepat daripada kasih sayang. Ketika sesama anak bangsa saling mencurigai, padahal di atas tanah ini kita semua sama sama-sama putra-putri Indonesia.

 

Menghidupkan kembali sumpah luhur berarti kembali pada makna sejatinya:

-Pertama, mengakui bahwa Tuhan adalah dasar segala kebenaran.

-Kedua, memperlakukan sesama dengan martabat dan kasih sayang.

-Ketiga, menjaga persatuan di atas segala perbedaan suku, agama, dan pandangan.

-Keempat, mengutamakan musyawarah daripada kekerasan.

-Kelima, mewujudkan keadilan yang nyata bagi seluruh rakyat, bukan sekadar janji di atas kertas.

 

Kesaktian Pancasila terletak pada ketaatan kita mengamalkannya. Ia tetap tegak kokoh selama kita bersedia menjadi penyangganya. Ia akan runtuh jika kita diam melihat ketidakadilan, diam melihat perpecahan, diam melihat nilai-nilai luhur diinjak-injak.

 

Maka pada 1 Oktober 2026 ini, mari kita berjanji kembali:

Tidak lagi sekadar mengenang, melainkan mengamalkan.

Tidak lagi sekadar mengaku bangsa Indonesia, melainkan menjadi Indonesia yang sesungguhnya yang adil, beradab, bersatu, dan bertakwa.

 

Pancasila tidak butuh pujian, ia butuh pelaku.

Bangsa ini tidak butuh pengikut yang diam, melainkan pejuang yang berbuat.

 

Semoga sumpah luhur ini kembali menyala di setiap dada, dari Sabang sampai Merauke, dari anak-anak sekolah hingga para pemimpin negeri. Agar Indonesia tetap berdiri tegak, kokoh di atas kebenaran, dan diberkahi Allah SWT selamanya.

 

 

Exit mobile version