Oleh : Nizam Al Rijam (Siswa SDN 21 Mendobarat)
Di sebuah desa kecil yang bernama Desa Kace yang terletak di antara Desa Seliman dan Kota Pangkalpinang, hiduplah seorang anak yang bernama Nizam. Desa itu dulunya terkenal karena keindahan alamnya. Banyak orang dari luar datang hanya untuk menikmati ketenangan dan alam itu. Nizam tumbuh dengan kenangan yang indah bermain di bawah rindangnya pohon dan berenang di sungai bersama teman-temannya.
Namun, seiring waktu Desa Kace mulai berubah. Beberapa bagian hutan ditebang untuk pembangunan, sampah mulai terlihat di mana-mana, sungai yang dulu jernih sekarang menjadi keruh, terutama setelah hujan deras membawa limbah dari pemukiman warga. Nizam merasa ada yang aneh, meskipun sebagian warga di desa menganggap perubahan sebagai hal biasa.
Suatu sore itu Nizam duduk di tepi sungai bersama neneknya. Ia memandangi air sungai yang tidak lagi sejernih dulu.
“Nek kenapa air sungai ini jadi kotor?” tanyanya pelan.
Neneknya pun tersenyum sedih, “Karena manusia mulai lupa bagaimana cara mereka menjaga bumi, mereka mengambil lebih daripada yang mereka rawat,” jawab nenek.
Ia pun memikirkan apa yang bisa ia lakukan, meskipun ia masih muda, ia tidak mau menjadi penonton dari kerusakan di lingkungan sekitarnya.
Keesokan harinya Nizam mulai dari langkah kecil. Ia mulai dari membersihkan sampah di halaman rumahnya. la juga memisahkan sampah organik dan non-organik. Ia pun mengingatkan keluarganya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Awalnya, keluarganya hanya mengangguk tanpa kurang peduli tetapi Nizam tetap konsisten.
Di sekolah Nizam menceritakan kegelisahannya kepada teman-temannya. la menceritakan tentang sungai yang tidak lagi sejernih dulu. la pun mengajak teman temannya melihat kondisi sungai sepulang sekolah. Saat mereka melihat sendiri betapa kotornya sungai itu, banyak yang terkejut.
“Dulu kita sering main di sini, ya.” kata seorang temannya.
“Ya dan sekarang kita bahkan tidak mau menyentuh airnya,” jawab Nizam.
Dari situ mereka sepakat, mereka membuat kelompok kecil yang mereka beri nama Sahabat Bumi. Setiap akhir pekan mereka berkumpul untuk membersihkan sungai dan area sekitar desa.
Awalnya, usaha mereka terlihat kecil dan tidak terlalu berdampak, bahkan ada warga yang meremehkan mereka.
“Kalian anak-anak tidak bisa mengubah apa-apa!” kata salah seorang warga.
Nizam tidak menyerah, ia tahu perubahan besar dimulai dari langkah kecil. la dan teman-temannya terus bekerja meskipun tanpa banyak dukungan. Suatu hari seorang guru dari sekolah mereka melihat kegiatan tersebut. la merasa terinspirasi dan membantu kegiatan tersebut dengan memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan kepada seluruh siswa. Ia pun mengajak pihak sekolah untuk mendukung gerakan tersebut. Dengan dukungan sekolah kegiatan Sahabat Bumi lebih terorganisir (lebih terkendali). Mereka juga membuat poster, mengadakan sosialisasi dan mengajak lebih banyak warga untuk ikut serta.
Beberapa warga mulai memperhatikan usaha mereka. Perubahan kecil mulai terlihat, warga tidak lagi membuang sampah ke sungai. Ada beberapa warga yang membawa kantong belanja sendiri untuk mengurangi sampah plastik. Bahkan ada beberapa orang tua yang ikut menanam pohon.
Puncaknya, terjadi saat kepala desa mengadakan pertemuan warga dan Nizam dan teman-temannya diundang untuk berbicara. Dengan penuh keberanian, Nizam menjelaskan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan bumi. Ia pun menjelaskan bahwa tindakan kecil membawa perubahan besar.
“Kita semua tinggal di bumi, kalau bukan kita yang menjaganya lalu siapa lagi?” kata Nizam diakhir penjelasannya. Kata-kata itu menyentuh banyak orang. Kepala desa pun memutuskan untuk mendukung penuh gerakan tersebut. Kepala desa mulai membuat aturan baru tentang pengelolaan sampah dan melaksanakan penghijauan di seluruh desa.
Dalam beberapa bulan, desa itu berubah. Perlahan sungai menjadi lebih jernih, pepohonan mulai tumbuh kembali dan lingkungan terasa lebih nyaman. Warga mulai sadar menjaga bumi dan lingkungan bukanlah beban melainkan tanggung jawab bersama. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.
