Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
Bekaespedia.com, Mentok, – di kota kecil yang menghadap Selat Bangka itu, waktu seperti berlapis. Dinding-dinding tua, jendela kayu berdaun lebar dan lorong-lorong sunyi menyimpan cerita panjang tentang perdagangan, kolonialisme, hingga denyut awal peradaban modern di pesisir barat Pulau Bangka. Kini, di tengah ingatan yang belum sepenuhnya usang, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat memulai langkah baru dalam membangun kembali Kota Tua Mentok bukan hanya sebagai ruang fisik, tetapi sebagai ruang hidup yang berkelanjutan.
Langkah itu dimulai melalui kegiatan sosialisasi yang digelar di Ruang Rapat Kecamatan Mentok, Senin (13/4/2026). Bagi pemerintah, ini bukan sekadar pertemuan administratif, melainkan titik awal dari proses panjang yang menentukan arah masa depan kawasan yang kerap disebut sebagai “cluster Eropa” di Bangka Barat.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sidarta Gautama, S.STP., M.Si, menyebut bahwa sosialisasi menjadi fondasi penting dalam tahap persiapan proyek. Di tahap ini, informasi dibuka, ruang dialog dibentuk dan masyarakat diajak untuk memahami sekaligus terlibat.
“Sosialisasi ini merupakan bagian dari tahapan awal pelaksanaan proyek. Yang paling penting adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat, instansi, dan lembaga yang terdampak langsung,” ujarnya.
Kota Tua Mentok bukan sekadar kumpulan bangunan lama. Ia adalah arsip terbuka yang merekam jejak kolonial, perdagangan timah, hingga interaksi lintas budaya yang membentuk identitas lokal hari ini. Namun, seperti banyak kota tua lainnya di Indonesia, kawasan ini menghadapi tekanan zaman dalam degradasi bangunan, perubahan fungsi ruang, hingga minimnya pengelolaan berbasis konservasi.
Di titik inilah rencana pembangunan mengambil posisi yang tidak sederhana.
Pemerintah berupaya menghadirkan wajah baru yang lebih tertata dan modern, tanpa menghapus jejak sejarah yang menjadi identitas kawasan. Dalam sosialisasi tersebut, berbagai rencana dipaparkan mulai dari penataan kawasan, penguatan infrastruktur, hingga potensi pengembangan pariwisata berbasis sejarah.
Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama bagaimana membangun tanpa menghilangkan?
Dalam forum itu, suara masyarakat menjadi elemen penting. Mereka bukan hanya penerima dampak, tetapi juga penjaga ingatan kolektif atas ruang yang akan dibangun ulang.
Pemerintah mencatat, respons yang muncul cenderung positif. Masyarakat menyampaikan berbagai masukan sebagian berupa harapan, sebagian lagi berupa kehati-hatian.
“Alhamdulillah, banyak masukan positif. Ini menunjukkan masyarakat memang mendambakan perubahan wajah Kota Mentok menjadi lebih modern, rapi dan tertata,” kata Sidarta.
Namun di balik dukungan itu, tersirat kebutuhan akan jaminan bahwa perubahan tidak akan menghapus identitas dan pembangunan tidak akan mengorbankan ruang hidup mereka.
Di sinilah pendekatan partisipatif menjadi kunci.
Pemerintah menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat tidak berhenti pada tahap sosialisasi. Mereka akan dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan penting, terutama yang berkaitan dengan perubahan ruang dan fungsi kawasan.
“Kami ingin memastikan masyarakat tetap terlibat dalam setiap proses, terutama dalam hal-hal krusial yang membutuhkan pertimbangan publik,” tegasnya.
Salah satu tantangan dalam proyek pembangunan kawasan bersejarah adalah akses informasi yang kerap terbatas. Menyadari hal ini, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menyatakan komitmennya untuk membuka kanal komunikasi seluas mungkin.
Informasi proyek tidak hanya disampaikan melalui forum tatap muka, tetapi juga akan disebarluaskan melalui:
Media sosial resmi pemerintah daerah
Portal informasi Kabupaten Bangka Barat
Kolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika
Platform digital seperti TikTok
Hingga baliho di sekitar kawasan proyek
Langkah ini menjadi upaya untuk memastikan bahwa masyarakat dapat mengikuti setiap perkembangan dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
“Hari ini adalah salah satu bentuk keterbukaan. Ke depan, kita akan pastikan masyarakat tahu secara jelas perencanaan, waktu pelaksanaan, hingga manfaatnya,” ujarnya.
Pembangunan Kota Tua Mentok pada akhirnya bukan sekadar soal fisik. ia sebagai proses negosiasi antara masa lalu dan masa depan.
Di satu sisi, ada kebutuhan untuk memperkuat ekonomi lokal melalui pariwisata dan penataan kawasan. Di sisi lain, ada tanggung jawab untuk menjaga nilai sejarah dan keberlanjutan lingkungan sosial.
Jika dikelola dengan hati-hati, kawasan ini berpotensi menjadi contoh bagaimana kota kecil dengan warisan kolonial dapat bertransformasi menjadi ruang hidup yang inklusif, produktif dan berkelanjutan.
Namun jika tidak, ia bisa kehilangan jiwanya menjadi sekadar replika modern tanpa akar.
Di Mentok, proses itu baru saja dimulai.
Di ruang rapat sederhana itu, di antara suara pejabat dan warga, satu hal perlahan mengemuka bahwa masa depan kota tidak hanya dibangun dengan rencana, tetapi juga dengan ingatan dan keberanian untuk menjaganya












