Oleh : Aryn Yocelin Panggabean (Siswa SD Santa Theresia 3 Pangkalanbaru)
Ketika aku pergi jalan-jalan sekeluarga ke pantai, aku melihat banyak sampah di pasir dan laut. Saat aku ingin ke tepi pantai terlihat banyak sampah plastik mengambang. Aku ingin membersihkan tapi aku tidak tahu mau menggunakan apa. Aku bertanya kepada abangku dan dia pun menjawab,” Ambil saja menggunakan tangan!” Aku berpikir kalau aku saja pasti sangat lama. Jadi aku mengajak abangku untuk ikut mengumpulkan sampah itu.
Tetapi dia sibuk mencari kerang-kerangan. Maka aku sendiri yang membersihkan sampah di laut dan di pasir. Satu-persatu sampah telah terkumpul, dan pantai sudah lumayan bersih dari sebelumnya.
Tiba-tiba tubuhku kelelahan. Aku pun istirahat. Saat aku istirahat aku melihat ada seseorang yang juga membersihkan pantai. Karena aku terlalu lelah maka aku tertidur.
Setelah aku bangun, aku melihat pantai yang sebelumnya kotor sekarang sudah bersih. Aku berjalan di tepi pantai, lalu aku melihat ada seseorang yang membuang sampah ke laut. Aku langsung menghampiri orang itu lalu berkata, “Mengapa kamu membuang sampah sembarangan?”
Orang itu menjawab, “Memangnya ada masalah denganmu? Tidak kan!”
Aku terdiam sejenak dan berkata pada orang itu, “Kalau kamu membuang sampah sembarangan, kamu bisa merusak ekosistem lautan, bisa mengancam kematian biota laut seperti tertelan, terjerat, serta terumbu karang bisa hancur.”
Orang itu langsung mengambil sampah yang telah dia buang. Sesudah itu dia langsung mendatangiku karena ingin meminta maaf.
“Maaf ya, kalau tadi aku membuang sampah di laut aku bisa merusak ekosistem laut.”
Aku berkata, “Tidak apa-apa lain kali jangan diulangi, ya!” Orang itu pun pergi.
Sesudah itu aku melihat ada cangkang kerang yang berwarna putih, bersih, dan cerah. Aku ingin mengambilnya tetapi aku mendengar ada suara botol plastik jatuh, aku langsung menoleh. Ternyata ada seorang yang menjatuhkan sampah plastik. Aku langsung memanggil orang itu, “Hei kamu!” Tetapi dia tidak menoleh, jadi aku mendatangi orang itu, “Kamu mengapa menjatuhkan sampah plastik ini?”
Orang itu berkata, “Kalau kamu mau bersih, buang saja di tempat sampah,” dan orang itu langsung pergi begitu saja.
Aku langsung menuju ke tempat sampah, saat aku membuang sampah plastik itu. Dari kejauhan aku melihat ada seorang yang berusaha mencongkel kerang agar terbuka. Aku langsung lari dan menghampiri orang itu, “Jangan begitu!” Orang itu langsung menoleh ke arahku, dia berkata, “Mengapa?”
Aku menjawab, “Kalau kamu memaksa, kerang itu akan mati.”
Orang itu langsung melempar kerang itu dan berkata, “Lalu bagaimana cara untuk melihat isi kerang itu?”
Aku menjawab, “Caranya seperti ini.” Aku memberitahunya bagaimana cara melihat isi kerang. Sesudah aku memberitahunya ia langsung berterima kasih kepadaku.
Aku mengambil cangkang kerang yang tadi. Ketika aku sudah mengambil cangkang kerang itu aku melihat ada kepiting yang berukuran sedang. Aku melihat kepiting itu berjalan ke suatu lobang pasir, sesudah itu aku melihat ada ikan kecil berenang. Tetapi ikan kecil itu sangat banyak, aku sangat senang melihat hal-hal itu.
Aku mendengar abangku memanggilku, aku pun langsung mendatangi abangku. Aku berkata kepada abangku, “Ada apa bang memanggil aku?”
Abangku berkata, “Lihat ini, abang mendapatkan udang kecil.”
Aku menjawab, “Wow itu keren sekali!”
Aku meminta abangku untuk memberinya kepadaku. Saat aku melihat udang itu, ternyata udang itu sangat lucu. Lalu aku memberikannya kembali kepada abangku, sehabis itu abangku melepaskan udang itu kembali ke tempat semula.
Aku bertanya kepada abangku, “Abang, mengapa abang melepaskannya kembali?” Abangku menjawab, “Udang ini sama seperti kita, yaitu hidup selamanya.”
Aku berkata, “Oh begitu, ya sudah.”
Tiba-tiba ibuku memanggil aku dan abangku, karena ingin berfoto di batu yang sangat besar, tetapi batunya harus dinaiki dahulu karena ada pemandangan alam yang sangat indah.
Sesampai di batu besar itu, ibuku langsung mengatur posisi untuk berfoto. Namun aku masih melihat pemandangan laut yang sangat indah. Karena air lautnya sangat biru, ibuku memfoto aku ketika melihat laut. Setelah memfotoku, ibuku langsung memfoto keluargaku. Selesai berfoto keluargaku turun dari batu besar itu. Aku pun ikut turun dari batu itu, dan aku melanjutkan mencari kerang-kerang yang indah.
Aku menemukan terumbu karang yang berwarna putih, dan aku menemukan juga rumput laut. Aku ingin membawa pulang terumbu karang, aku izin kepada ibuku, “Ibu apakah aku bisa membawa pulang terumbu karang ini?” Dan ibuku mengizinkan aku membawa terumbu karang itu.
Tidak terasa hari sudah sore dan juga sudah mau gelap, aku melihat matahari tenggelam di tengah lautan, dan burung-burung beterbangan. Burung-burung itu pulang ke tempatnya masing-masing. Aku juga melihat kepiting membuat lubang di pasir lalu masuk ke lubang itu.
Ayah dan ibuku bergegas memasukkan barang-barang ke mobil. Aku dan abangku membantu memasukkan barang-barang juga. Sesudah itu aku kembali ke dekat pantai, karena aku lupa memasukkan terumbu karangku tadi, aku juga mau membawa kerang-kerangan yang tadi telah ku ambil.
Aku mengambil cangkang kerangnya lumayan banyak untuk ku jadikan hiasan bingkai. Aku juga mengambil setengah terumbu karang untuk menjadi hiasan juga. Jadi aku mengumpulkannya pada satu plastik. Sebelum pulang ibu dan ayahku mengajak untuk membuang sampah plastik yang berserakan di pasir. Aku melihat ada botol plastik, dan plastik makanan.
Dan tiba-tiba aku berjumpa oleh orang-orang, yang telah aku datangi dan aku tegur. Karena telah ingin merusak ekosistem lautan, salah satu orang yang aku jumpa mendatangiku. Lalu tersenyum dan pergi, aku pun masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat pulang aku memfoto pemandangan indah itu. (BP / KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita.
