Oleh: Rafandra Aqram
Pak Bambang menanam dua jenis salak di kebunnya, yaitu salak pondoh dan salak sepet Bangka. Saat panen, salak itu dijual dengan harga yang berbeda.
Jumat pagi, Pak Bambang membawa hasil panennya ke pasar. Harga salak di pasar lumayan bagus.
“Ayo, dibeli salak pondoh dan salak sepet asli Bangka!” tawar Pak Bambang pada pembeli di pasar.
Sudah beberapa waktu dia menawarkan salak-salak itu, tetapi belum ada yang tertarik untuk membeli. Tiba-tiba ….
“Pak, salak sepet sama salak pondohnya berapa sekilo?” tanya pembeli pada Pak Bambang.
“Kalau salak sepet sekilonya 20k, sedangkan salak pondok ini 12k saja,” jawab Pak Bambang.
“Oh, kalau begitu, saya mau salak sepetnya dua kilo dan salak pondohnya dua kilo,” pinta pembeli kepada Pak Bambang.
“Siap, Mas, saya timbang dulu salaknya,” jawab Pak Bambang.
“Iya, Pak, saya tunggu,” jawab pembeli.
“Monggo, Mas, total semuanya 64 ribu.” Pak Bambang memberikan salaknya kepada pembeli.
“Oh, iya, Pak, ini uangnya. Kembaliannya ambil saja.” Pembeli membayar uang salaknya.
“Makasih, ya, Mas, semoga murah rezekinya,” jawab Pak Bambang.
“Sama-sama.” Pembeli itu pun berlalu.
“Alhamdulillah, akhirnya ada yang membeli, walaupun cuma seorang saja. Sudahlah, saya pulang saja, sudah siang. Soalnya mau salat Jumat,” gumam Pak Bambang sambil mengemasi barang dagangannya.
Pak Bambang pulang ke kebunnya dengan tersenyum bahagia walaupun hanya membawa pulang uang 64 ribu. (BP / KM)*
Fajar Indah, 01 Agustus 2026
————————————
Penulis adalah murid kelas 5 SDN 3 Pulau Besar yang ikut kelas menulis.
