Mentok Pusaka: Mentok Menuju Pusat Naskah Nusantara, Didukung Penguatan Klaster Eropa

Laporan : Belva Al Akhab

Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menargetkan Mentok sebagai Pusat Naskah Nusantara berbasis arsip primer dan memori sejarah. Pembangunan Klaster Eropa di kawasan Kota Lama Mentok kini ditempatkan sebagai instrumen fisik untuk memperkuat identitas tersebut. Penegasan ini disampaikan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Bangka Barat, Fahrouk Yohansyah, S.T, Rabu (05/11/2025) dalam Festival Literasi di Perpusda Bangka Barat.

Menurut Fahrouk, Mentok tidak lagi menjadikan timah sebagai orientasi utama masa depan. Mentok memindahkan orientasi dari ekstraksi mineral ke ekstraksi memori. Karena memori kata Fahrouk adalah komoditas strategis yang tidak dapat habis oleh zaman.

“Kalau timah bisa habis, arsip tidak,” tegasnya.

Dokumen pemerintah menunjukkan pembangunan Klaster Eropa telah masuk RKPD dan proses koordinasi dengan Kementerian PUPR. Anggaran miliaran rupiah sudah masuk dalam perencanaan.

Zona Kota Lama Mentok dipilih karena kawasan ini adalah pintu awal peradaban kolonial Mentok: grid tata kota, pelabuhan timah, hingga jejak perdagangan internasional. Banyak foto Mentok abad 19 sampai awal 1900-an tersimpan di KITLV Leiden dan Nationaal Archief Belanda.

Karena itu, pembangunan Klaster Eropa bukan revitalisasi estetika, tetapi rekonstruksi infrastruktur memori.

“Kota pusaka hanya dihormati bila ia memegang dokumen primer dirinya sendiri,” kata Fahrouk.

Perpusda Menjadi Motor Memori Mentok

Di sisi lain, Perpustakaan Daerah Bangka Barat menjalankan kerja mengumpulkan bukti sejarah langsung dari sumber masyarakat.

Tiga langkah strategis dijalankan:

1. Pendataan naskah kuno dari rumah warga

2. Festival Literasi tahunan

3. Pemajangan manuskrip kepada publik

Naskah-naskah Mentok yang ditemukan menunjukkan Mentok bukan hanya lokasi kolonial, tetapi produsen pengetahuan: tulisan Arab Melayu (Jawi), catatan hukum kampung, hingga silsilah lokal.

Keberhasilan Festival Literasi tahun ini menandakan bahwa memori Mentok bukan lagi domain elit birokrasi. Ada sinergitas: pemerintah daerah, masyarakat pembaca, peneliti lokal, dan para penggiat literasi semuanya terlibat dalam ‘pemulangan memori’.

Menurut Fahrouk, ini krusial. Karena memori hanya menjadi peradaban apabila ia dimiliki publik.

“Kalau publik tidak terlibat, kota tidak punya literasi,” ujarnya.

Bila puluhan tahun orientasi pembangunan di Bangka Belitung adalah timah, Mentok memilih belokan besar: menambang arsip sebagai kapital simbolik.

Memori primer dapat ditransformasikan menjadi:

1. Tur sejarah

2. Industri pengetahuan

3. Pusat studi kawasan

4. Diplomasi kebudayaan

5. Destinasi literasi berkelanjutan

Dengan strategi arsip dan pembangunan Klaster Eropa sebagai infrastruktur pendukung, Mentok sedang membentuk dirinya sebagai “Pusat Naskah Nusantara (Pusaka)” kota yang membangun masa depan dari kekuatan memori, bukan nostalgia.

Mentok bukan mengulang masa kolonial. Mentok sedang mengendalikan narasi kolonial dan untuk pertama kalinya dalam sejarah modernnya.

Mentok berusaha memimpin bukan dari komoditas tambang, tetapi dari komoditas ingatan.

Exit mobile version