Menyalakan Asa dari Desa, PKBM dan Perjuangan Melawan Putus Sekolah

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

Bekaespedia.com, Mentok, -Pagi di Desa Air Belo, Kecamatan Mentok, berjalan lambat. Kabut tipis masih menggantung di sela pepohonan ketika satu per satu warga mulai mendatangi Perpustakaan Desa Arsita, Sabtu, 09 Mei 2026. Bangunan itu tidak besar. Dindingnya sederhana. Rak-rak bukunya tersusun rapat tanpa kemewahan fasilitas modern. Namun pagi itu, perpustakaan desa tersebut sedang menjalankan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar tempat membaca.

Ia sedang menjadi ruang kedua bagi mereka yang pernah kehilangan sekolah.

Di ruangan sederhana itu, belasan peserta didik mengikuti pembelajaran Paket B dan Paket C melalui program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Sebagian remaja yang terpaksa berhenti sekolah karena persoalan ekonomi. Sebagian lainnya orang dewasa yang bertahun-tahun meninggalkan bangku pendidikan demi bekerja membantu keluarga.

Mereka duduk berdampingan. Ada yang mencatat serius. Ada yang perlahan mengingat kembali pelajaran dasar yang pernah tertinggal. Sesekali terdengar suara tutor menjelaskan materi, diselingi tanya jawab sederhana yang justru terasa hangat dan manusiawi.

Di tengah aktivitas itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Farouk Yohansyah, hadir memantau langsung jalannya pembelajaran.

Namun yang menarik, Farouk tidak datang dengan suasana formal khas pejabat daerah. Ia lebih banyak berjalan perlahan mengamati proses belajar, berbincang dengan peserta, dan mendengarkan cerita-cerita kecil yang selama ini jarang masuk dalam laporan statistik pendidikan.

Tentang anak yang berhenti sekolah karena harus bekerja. Tentang keluarga yang tidak mampu membayar kebutuhan pendidikan. Tentang masyarakat desa yang merasa pendidikan perlahan menjauh dari kehidupan mereka.

“Perpustakaan hari ini tidak boleh hanya menjadi tempat menyimpan buku. Ia harus menjadi ruang hidup masyarakat, tempat orang-orang mendapatkan kesempatan kedua untuk bangkit,” kata Farouk.

Pernyataan itu menjelaskan arah yang sedang dibangun Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat dalam beberapa tahun terakhir untuk mengubah perpustakaan desa menjadi pusat pendidikan alternatif dan pemberdayaan masyarakat.

Program PKBM yang berjalan di Desa Arsita merupakan bagian dari gerakan tersebut. Melalui PKBM Permata Hati, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat mencoba memperluas akses pendidikan non formal hingga ke desa-desa.

Hingga kini, program itu telah berjalan di 11 desa. Pemerintah daerah menargetkan seluruh desa di Bangka Barat nantinya dapat terhubung dengan program pendidikan berbasis perpustakaan desa.

Langkah itu terlihat sederhana. Tetapi di wilayah-wilayah yang masih menghadapi persoalan putus sekolah, keterbatasan ekonomi, dan rendahnya akses pendidikan, keberadaan PKBM menjadi penting.

Data sering kali hanya mencatat angka anak tidak sekolah atau rata-rata lama sekolah masyarakat. Namun di balik angka-angka itu terdapat persoalan sosial yang jauh lebih rumit dalam kemiskinan, jarak pendidikan, hingga hilangnya rasa percaya diri masyarakat untuk kembali belajar.

Farouk Yohansyah tampaknya memahami persoalan itu. Karena itu, pendekatan yang ia bangun tidak hanya berbicara tentang fasilitas perpustakaan, melainkan tentang bagaimana perpustakaan kembali dekat dengan kehidupan masyarakat desa.

Baginya, perpustakaan harus menjadi tempat masyarakat menemukan harapan baru.

“Kalau pendidikan hadir sampai ke desa, maka harapan masyarakat juga ikut hidup. Kita tidak ingin ada orang yang merasa terlambat untuk belajar,” ujarnya.

Di Perpustakaan Desa Arsita, kalimat itu terasa nyata.

Seorang peserta Paket C tampak berkali-kali mencoba menyelesaikan soal matematika dasar di lembar kerjanya. Di sisi lain ruangan, seorang ibu rumah tangga yang telah lama meninggalkan sekolah tampak perlahan membaca ulang materi pelajaran. Tidak ada rasa malu. Yang terlihat justru ketekunan untuk memperbaiki hidup.

Bagi warga Air Belo, PKBM perlahan berubah menjadi lebih dari sekadar program pendidikan non formal. Ia menjadi ruang sosial tempat masyarakat memperoleh kesempatan kedua.

Kesempatan untuk kembali percaya bahwa pendidikan masih mungkin dijangkau.

Kesempatan untuk memperbaiki masa depan melalui ijazah yang sempat tertunda.

Kesempatan untuk membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir dari segalanya.

Di tengah berbagai tantangan pendidikan daerah, langkah yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat memang mungkin tidak langsung terlihat besar. Tidak menghadirkan gedung megah atau seremoni besar-besaran. Tetapi dari ruang kecil di Perpustakaan Desa Arsita, sebuah gagasan penting sedang tumbuh bahwa perpustakaan bisa menjadi benteng terakhir yang menjaga masyarakat kecil tetap terhubung dengan pendidikan.

Di balik gagasan itu, nama Farouk Yohansyah perlahan membentuk citra sebagai birokrat yang mencoba membawa perpustakaan keluar dari kesan sunyi dan administratif.

Ia sedang membangun perpustakaan sebagai ruang hidup tempat ilmu pengetahuan, harapan dan kesempatan kedua bertemu di tengah desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *