Merawat Budaya dan Tradisi 

Oleh : Fiki Dwi Alfirza (Siswa SDN 3 Pangkalanbaru)

 

Di sebuah desa di bawah pegunungan Jawa Timur hiduplah seorang pemuda yang bernama Satria. Pegunungan itu di kelilingi pohon jati dan pohon pinus yang hijau dan rimbun sekali. Sungai yang jernih serta dikenal dengan kesenian Ludruk dan Kuda lumping yang diwariskan selama ratusan tahun lamanya.

Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, banyak pemuda desa memilih pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan atau bersekolah. Akibatnya, pengetahuan tentang budaya dan tradisi perlahan mulai terlupakan, seolah tersembunyi di balik debu sejarah.

Kakek Satria salah satu pelatih Ludruk dan Kuda lumping di desa itu, setiap sore Kakek Satria mengajak Satria duduk di teras rumah yang beranyaman dari bambu yang cukup sederhana. Kakek memperlihatkan baju-baju Ludruk dan alat- alat Kuda lumping yang sudah usang namun tetap kokoh, yang memiliki khas Jawa Timuran.

“Satria, lihatlah kain jarik ini. Benang- benang ini ditenun dengan kasih sayang dan doa. Tidak ada satupun benang yang terpasang tanpa makna. Setiap corak memiliki arti tersendiri, menceritakan tentang kehidupan, alam dan keyakinan nenek moyang kita. Ada yang melambangkan rasa syukur atas panen yang melimpah, ada juga yang menjadikan simbol harapan kedamaian.” ujar Kakek Satria dengan nada lembut sambil membelai kain jarik itu.

Namun, saat itu Satria masih kecil kurang memahami arti pentingnya warisan tersebut. Ia lebih suka bermain-main mobil kecil yang didapat dari temannya yang tinggal di kota daripada mendengarkan cerita kakek yang menurut Satria membosankan.

Suatu hari, kabar buruk datang menghampiri Satria. Kakek sakit parah dan tidak bisa bangun dari tempatnya. Sebelum meninggal, Satria dipanggil kakek untuk duduk di samping tempat tidur dengan wajah sedih. Kakek memberikan kain jarik kepada Satria agar disimpan dengan baik, serta corak tenun yang bermakna corak kain yang ditulis dengan tangannya yang sangat rapi.

“Satria rawatlah kain ini dengan baik. Jangan biarkan budaya dan tradisi kita hilang hilang ditelan zaman. Jadikan ini sebagai jembatan untuk menghubungkan masa lalu dan masa depan.” Pesan kakek terakhir kalinya, sebelum menghembuskan nafas terakhir dengan tenang.

Setelah kepergian kakek, Satria menyadari betapa pentingnya warisan yang ditinggalkan kakek. Ia menyesal dulu mengabaikan nasihat kakek. Oleh karena itu, ia bertekad bulat memenuhi janjinya. Ia belajar memainkan alat- alat Ludruk dan Kuda lumping, serta belajar tarian Kuda lumping dari ketua adat yang sudah tua yang ada di desanya.

Ia sering menghabiskan waktu berjam- jam mencoba berulang kali hingga hasilnya sempurna, meskipun sering menemui kesulitan dan kegagalan. Tidak hanya itu Satria mengajak teman-temannya ikut serta. Tapi mereka menganggap hal itu membosankan dan kuno serta tidak memiliki masa depan.

Namun, Satria tidak putus asa. Ia mencoba lagi dengan mengombinasikan corak baju Kuda lumping dengan tenun tradisional dengan gaya baju masa kini yang sedang tren, dan merekam pertunjukan Kuda lumping serta tariannya, serta mengunggahnya ke media sosial dengan deskripsi yang menarik.

Ternyata, usahanya membuahkan hasil yang luar biasa. Seni Kuda lumping dan Ludruk Satria dan teman-temannya mulai diminati orang dari luar daerah bahkan hingga luar negeri. Tokoh-tokoh seniman minat bekerja sama, wisatawan datang berkunjung untuk melihat pertunjukan tarian Kuda lumping dan tarian Ludruk yang ada di desa Satria. Ternyata, usahanya  membuahkan hasil  yang luar biasa.

Pemuda-pemuda desa yang tadinya pergi ke kota mulai kembali. Mereka ikut melestarikan budaya dan tradisi desa. Ia sadar bahwa warisan leluhur tidak hanya menjadikan kenangan masa lalu, tapi menjadikan sumber kehidupan layak dan membanggakan.

Kini Satria sadar merawat budaya dan tradisi bukan berarti menolak perubahan, melainkan menggabungkannya dengan zaman agar bisa terus lestari dan terus bersinar di tengah gempuran budaya asing. Satria berjanji menjaga obor budaya tetap menyala agar bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. (BP/ KM)*

 

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *