Oleh : Afza Muna (Siswa SDN 15 Mendobarat)
Aku sering berpikir bahwa pahlawan banyak di televisi yang sering kulihat. Ketika masuk sekolah pikiranku mulai berubah pahlawan itu adalah tokoh yang berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tetapi setelah dewasa aku mulai membuka mata bahwa pahlawan itu banyak di sekitar kita.
Ini ceritaku, gadis kecil kesayangan keluarga. Aku adalah anak yang lahir dari keluarga sederhana. Ayahku seorang pedagang ikan keliling di desa, sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Sebelum anggota keluarga bangun jam 03.00 WIB pagi, ayah sudah bangun terlebih dahulu. Bunyi mesin motor kesayangan ayah telah membangunkan ibu, itu tandanya ayah sudah siap mau pergi ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan).
“Bu, Ayah pergi dulu, ya. Doakan hari ini kita dapat rezeki,” kata ayah.
“Aamiin, Yah,” jawab ibu.
Setelah ayah sudah pergi, ibu sudah berada di dapur untuk memasak air dan menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, yaitu aku dan kakakku.
“Tari bangun, Nak!” kata ibu.
“Iya bu,” jawab kakak.
“Bangunkan juga adikmu itu!” kata ibu.
“Iya bu,” jawab kakak.
Setelah aku dan kakakku melakukan salat subuh, kami membantu ibu di dapur. Hari ini ibu ada panggilan pekerjaan pergi ke kebun Pak Doni untuk membantu panen kangkung miliknya.
Setelah aku pulang sekolah aku melihat ayah sudah duduk di depan rumah sambil mencuci alat jualan ikannya.
“Assalamualaikum ayah,” kataku. “Wa’alaikumussalam gadis ayah,” jawab ayah.
Kusalami tangan lelaki hebatku, tangan yang kasar selalu berjuang untuk kami keluarganya. Aku sangat senang bercerita dengan ayah, banyak hal yang aku dapatkan seperti pada siang hari ini.
“Ayah, apakah tidak lelah setiap hari bangun pagi untuk bekerja?” tanyaku.
“Kalau ayah tidak bekerja, nanti kalau Afza mau membeli jajan dari mana dapat uangnya?” tanya ayah.
“Tapi ayah pasti lelah, kan?” kataku.
“Doakan lelah ayah menjadi berkah untuk rezeki kita!” jawab ayah.
Setelah asik bercerita, ibu baru pulang dari kebun pak doni ibu membawa syur kangkung yang banyak.
“Assalamualaikum ayah dan Sari,” kata ibu.
“Wa’alaikumusalam,” jawabku dan ayah.
Ibu segera duduk menghampiri kami. Kemudian ibu bercerita kegiatan panen kangkung hari ini sangat menyenangkan. Aku mengambil segelas air untuk di berikan kepada ibuku. Sambil mendengarkan cerita yang disampaikan olehnya. Kami duduk bersama sambil berbagi cerita tentang hari ini yang disampaikan oleh kami bertiga yaitu aku, ibuku dan juga ayahku. Ibu selalu berpesan agar aku dan juga kakakku harus belajar dengan tekun untuk masa depan kami agar kami tidak seperti mereka yang hanya jadi ibu rumah tangga dan ayahku hanya berjualan ikan. Besar harapan kedua orang tuaku agar kami lebih bisa sukses dan bahagia dari mereka berdua.
Kasih sayang yang aku dapatkan berasal dari pahlawan sejati yang ada di hidupku. Ayahku seorang pahlawan yang merelakan rasa lelah di tubuhnya hanya untuk mencari rezeki untuk kami keluarganya, sedangkan ibuku hanya pahlawan yang tidak bersayap yang tulus mengurus kami dan melawan gengsi untuk kami keluarganya. Pahlawan nyata setiap hari yang aku lihat yaitu ayah dan ibu. Mereka pahlawan selamanya di hatiku dan juga kakakku.
Terima kasih ayah dan ibu, semua kasih sayangmu akan menjadi pengingatku untuk ke depannya. Terima kasih peluh lelah yang pernah dikeluarkan dalam mendidik kami anakmu. Aku bersyukur Allah menitipkanku pada kalian. Sehat sehat pahlawanku. Ayah ibu terima kasih untuk segalanya. Maaf kalau baktiku belum sebanding dengan lelah kalian. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.
