Misteri Akar Di Balik Tanah

Oleh : Hafiza (Siswa SDN 10 Pangkalanbaru)

 

Jam dan menit seakan menjadi detik saat aku melihat bola plastik kuning melayang melengkung di udara. Sudut tendanganku salah. Tidak mengenai target. Bola itu meluncur ke arah gawang buatan kami, melainkan melewati pagar pembatas rumah tanaman milik Pak Aan.

Detik  berikutnya, suara pecahan pot itu membuat keheningan siang itu menjadi sunyi.

“Gawat! Ziko, lari!” desis Danis sambil menarik lengan bajuku.

Kami bersembunyi di balik tembok pembatas kantin dengan rumah tanaman itu.

“Teng! Teng! Teng! Saatnya waktu pulang.”

Perasaanku tidak tenang. Kata ibu guruku bunga anggrek yang ada di pot tanah liat itu, milik Pak Aan yang sudah dirawatnya dengan sepenuh hati dan berbulan-bulan untuk pameran perpisahan kelas enam minggu depan. Kedua tangan Pak Aan seperti mempunyai sihir, lahan yang tandus bisa menjadi taman mini yang menyiratkan kesejukan dan ketenangan.

“Aman,” desis Danis sambil mengintip, nafasku terlega.

Aku berjalan lambat. Jalanku terhenti. Saat aku melihat Pak Aan sedang memunguti pecahan tajam pot tanah liat itu. Wajahnya tidak menyiratkan kemarahan, melainkan kesedihan yang amat dalam karena kesalahan yang kubuat.

Aku menarik nafas panjang. Lalu, memanggil Pak Aan.

“ Pak Aan,” panggilku pelan. Suaraku bergetar hebat.

Pak Aan mengangguk dan tersenyum kecil. Beliau  melihatku dengan mata yang teduh. Beliau mengira  aku hanya murid yang kebetulan lewat.

“Pak maafkan saya, saya … yang menendang bola itu. Saya yang mematahkan anggrek Bapak. Maafkan saya yang merepotkan Bapak karena kesalahan yang kubuat ini.

Angin siang menggerakkan dedaunan mangga di atas kami. Pak Aan sudah berdiri. Beliau menunduk agar tingginya sejajar denganku. Aku menunduk dalam-dalam bersiap mendengar bentakan. Justru yang kurasakan tepukan hangat dibahuku.

“Bapak sudah tahu, Nak Ziko.”

Aku terbelalak.

“Bapak, sudah tahu kenapa bapak tidak melaporkan saya.”

Beliau menunjuk ke arah pot yang pecah, lalu menunjuk ke arah dadaku.

“Bunga yang patah masih bisa di rawat lagi, Nak. Kejujuran yang besar tidak bisa dicari gantinya,” ujar Pak Aan.

Kata-kata pak Aan menyapu bersih ketakutanku. Aku merogoh kantong sakuku yang kusut mengambil selembar sisa uang sakuku.

“Ini Pak untuk mengganti pot yang pecah itu. Dan saya janji akan bantu bapak merawat bunga ini pas jam istirahat sampai berbunga lagi.”

Pak Aan tersenyum lebar. “Simpan uang kamu, Nak.”

Pak Aan menolak pemberian uangku untuk mengganti pot yang pecah. Melainkan menyodorkan sekop kecil bergagang kayu kepadaku. Kalau kamu benar-benar ingin menggantinya, mari kita mulai dari sekarang.

Tanah itu perlu digemburkan agar bunganya bisa bernafas Kembali.

Siang itu aku tidak pulang cepat. Tanganku kotor penuh tanah basah. Aroma khas tanah basah memenuhi rongga hidungku. Peluh membasahi seragam sekolahku, tanganku memang kotor penuh dengan tanah dan kakiku pegal. Tetapi hatiku jauh lebih tenang daripada bersembunyi di balik tembok pembatas kantin dengan rumah tanaman. Aku berjongkok di samping Pak Aan.

Aku dan Pak Aan menanam banyak jenis bunga, yang pertama yaitu anggrek, mawar dan lain sebagainya. Setiap jam istirahat aku membantu Pak Aan merawat bunga-bunga itu. Setiap istirahat aku menyiram bunga itu sampai berbunga lagi.

Pahlawan bukan hanya melakukan hal yang sangat besar, jujur dan bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri saat orang tidak melihatnya.

Aku tidak hanya menanam bunga kembali, aku juga menanam benih di dalam diriku untuk tetap jujur dan bertanggung jawab atas kesalahan yang kubuat.  Dan kita  tidak boleh berbohong dalam situasi apa pun.

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita.

Exit mobile version