Oleh : Selvia Rosalinda (Siswa SDN 4 Namang)
Pada tahun 2024 hiduplah pemuda yang bernama Dika dan Zaki. Mereka hidup selayaknya orang biasa, mereka hidup di desa yang tidak jauh dari hutan belantara. Bersama kakak laki-lakinya, mereka hidup dengan penuh tekanan karena mereka tidak punya siapa-siapa di desa ini. Untuk mencari makanpun mereka berburu di hutan belantara.
Pada suatu hari Dika dan Zaki duduk termenung di salah satu kursi yang ada di rumah mereka. Tidak ada yang memulai percakapan hanya terdengar suara merdu kicauan burung dari arah hutan.
Suatu ketika Dika beranjak dari kursi dan menoleh ke arah Zaki.
“Sampai kapan kita akan hidup seperti ini terus? Apakah kamu tidak mau hidup layak kayak orang lain?” tanya Dika emosi.
“Menurutmu siapa yang tidak mau hidup layak kayak orang lain? Kita tidak punya pilihan selain hidup di desa yang jauh dari kota jawab,” jawab Zaki dengan nada tinggi.
“Terserahmu, mulai hari ini aku akan pergi ke kota dan memulai kehidupan baru dan tidak akan kembali ke desa terpencil ini lagi!” jawab Dika.
“Terserahmu tapi aku akan hidup di desa ini sampai kapanpun.”
Mulai hari itu perpisahan kedua saudara di mulai. Keesokan harinya Zaki berburu seperti biasa. Tanpa disadari, Zaki melangkah semakin jauh ke dalam hutan. Zaki menemukan sebuah gua tua yang di tutupi dengan tanaman liar. Karena rasa penasaran, Zaki masuk ke gua itu tanpa rasa takut di mana ujung gua itu. Setelah berjalan cukup lama Zaki menemukan sebuah cahaya dari arah ujung gua itu. Zaki pun berlari ke arah cahaya itu ternyata Zaki menemukan sebuah negeri. Zaki terpaku melihat betapa indahnya negeriku itu. Ternyata itu adalah negeri para kurcaci yang penuh dengan keajaiban. Batu-batu menjulang tinggi seperti kubah raksasa. Setiap ujung batu dipenuhi dengan kristal warna emas, ungu, hijau, dan biru yang bergabung menjadi satu yang menghasilkan warna-warna yang indah. Di bawah ada rumah kayu dan batu yang tersusun rapi, ada juga jembatan yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain.
Dari jauh terdengar suara ting… ting.. seperti orang sedang bekerja. Ternyata mereka sedang membuat benda dari logam. Ternyata ada beberapa kurcaci menghampiri. Mereka tidak menyerang.
“Siapa namamu?” tanya salah satu kurcaci
“Ohhh, namaku Zaki.”
Setelah itu Zaki melihat tempat kerja, rumah-rumah dan sungai. Setelah itu Zaki dan para kurcaci berhenti di salah satu tempat istirahat dan berbincang.
“Zaki, apakah kamu mau tinggal di negeri ini bersama kami semua?” tanya salah satu kurcaci.
“Ya, aku mau tinggal di negeri yang sangat indah ini bersama kalian semua,” jawab Zaki.
Setelah hari demi hari berlalu Zaki sudah merasa nyaman tinggal di negeri para kurcaci. Para kurcaci pun sudah menganggap Zaki seperti keluarga mereka sendiri. Di sana Zaki belajar tentang membuat benda dari logam dan menjaga alam dengan baik.
Dulu Zaki yang biasanya kesepian karena sering bertengkar dengan kakak laki-lakinya, kini dia tidak merasakan itu lagi karena Zaki sudah merasa bahagia tinggal di negeri para kurcaci. Zaki pun memutuskan untuk menetap tinggal di negeri para kurcaci. Setiap hari Zaki merasa bahagia karena Zaki tidak merasa kesepian lagi dan Zaki memutuskan untuk menetap di negeri para kurcaci yang penuh dengan kebahagian, kehangatan dan kasih sayang. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026.
