Oleh: Khansa Azkadina Humairah (Siswa SDIT Sahabat Qur’an, Koba)
Saat Pagi tiba, gemercik suara air jatuh di sekitar dedaunan, dengan udara yang bersih harum. Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki mak yang ingin menuju ke arah Bujang.
“Bujang, ayo ke pasar! Katanya mau membeli bahan untuk nganggung,” panggil mak.
“Iya mak,” jawab Bujang.
Saat hendak membeli bahan makanan, dari kejauhan terlihat dua orang yang ingin menghampiri Bujang ternyata itu Amir dan Rahman. “Hai Amir, hai Rahman,” panggil Bujang.
Amir dan Rahman adalah teman Bujang, tetapi mereka jarang bertemu karena Amir dari Jawa sedangkan Rahman dari Jakarta, Mereka ke Bangka karena ingin mempelajari tradisi di Bangka Belitung. “Bujang dan mak mau beli apa?” tanya Rahman.
“Kami mau membeli bahan makanan untuk nganggung,” jawab Bujang.
“Nganggung itu apa?” Tanya Amir dan Rahman.
“Nganggung itu adalah tradisi dari Bangka, tradisi ini biasanya dilaksanakan saat ada acara besar misalnya, ruwahan, lebaran dan acara besar lainnya, nganggung biasanya diisi dengan ceramah, pembacaan doa, dan diakhiri makan bersama,” jelas Bujang. Amir dan Rahman mengangguk paham.
“Kalau begitu boleh tidak kami ikut nganggung, soalnya kami belum pernah ikut nganggung?” kata Amir dan Rahman serentak.
“Boleh, kalau begitu kita cari makanannya bersama saja!” ajak Bujang.
“Oke,” jawab Amir dan Rahman.
“Bujang, mak sudah membeli bahannya separuh, sekarang ayo kita beli buah di toko seberang sana!” ajak mak.
“Baik mak,” kata Bujang.
Mereka pun membeli buah di toko. Tidak lama kemudian Bujang, mak dan teman-teman sudah selesai membeli buah. “Teman-taman ayo kita pulang ini sudah siang, nanti sebelum isya kita berkumpul di rumahku kita berangkatnya bersama saja!” ajak Bujang.
“Siap bos,” kata Amir dan Rahman serentak.
Mereka pun pulang. Sesampainya di rumah, Bujang membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, Bujang membantu mak membuat makanan untuk nganggung. Bujang dan mak membuat lempah kuning. Lempah kuning adalah makanan khas daerah Bangka. Kemudian Bujang sarapan, setelah sarapan Bujang beristirahat atau tidur siang. Tidak lama setelah Bujang beristirahat azan asar dikumandangkan. Bujang mengambil air wudu lalu Bujang melaksanakan ibadah. Bujang telah selesai melaksanakan salat asar. Bujang membantu mak menyiapkan makanan untuk nganggung. Makanannya ada lauk pauk, minuman, buah-buahan, dan jangan lupa lempah kuning. Makanan dialas menggunakan dulang dan ditutup menggunakan tudung saji. Kemudian Bujang mandi, setelah mandi Bujang makan. Bujang membantu mak mencuci piring. Tidak lama terdengar suara azan magrib berkumandang, Bujang melaksanakan salat dan dilanjutkan mengaji. Saat Bujang mengaji terdengar ucapan salam dan ketukan pintu, ternyata itu Amir dan Rahman.
“Assalamu’alaikum” salam Amir dan Rahman.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Bujang.
“Oh Amir dan Rahman, ayo masuk, aku mau ganti baju dulu!” kata Bujang.
“Iya, baik Bujang,” jawab Amir dan Rahman.
Setelah mengenakan baju, Bujang memanggil bak untuk membawa dulang. “Bak, ini ya dulangnya?” kata Bujang. “Bujang, kenapa kamu memanggil ayah dengan kata bak?” tanya Amir.
“Karena dalam bahasa Bangka, bak itu artinya ayah,” jelas Bujang.
“Bujang apa yang kamu pakai di atas kepalamu itu?” tanya Rahman.
“Oh, ini namanya sungkok resam, sungkok ini juga khas Bangka,” jelas Bujang.
“Jang, boleh tidak kami memakai sungkoknya juga?” kata Amir dan Rahman. “Boleh, aku masih punya simpanan sungkok,” jawab Bujang.
“Nih, untuk kalian saja sungkoknya, aku masih punya simpanan sungkok,” kata Bujang.
“Wah yang benar terima kasih, Jang!” Ucap Amir dan Rahman.
“Sama-sama,” jawab Bujang.
“Ya udah, ayo kita berangkat!” ajak bak. “Ayo,” jawab mereka serentak. Bak membawa dulang.
Tidak lama kemudian mereka sampai. “Wah besar sekali masjidnya!” Kata Amir. “Teman-teman ayo kita masuk!” ajak Bujang.
“Ayo!” Jawab Amir dan Rahman.
Mereka pun masuk, lalu mereka menyusun makanan dengan rapi. Setelah menyusun makanan, sudah banyak orang yang datang. Azan isya pun dikumandangkan, semua orang salat berjamaah. Setelah salat mereka mendengarkan ceramah oleh tokoh agama. Kemudian dilanjutkan pembacaan doa yang dipimpin oleh tokoh agama. Setelah berdoa, diakhiri makan bersama. Saat makan bersama, mereka saling berbagi dan saling mencicipi.
“Jang, kenapa tidak ada perempuan di sini?” Tanya Amir.
“Karena nganggung hanya dianjurkan untuk laki-laki saja,” jelas Bujang.
“Ouh!” kata Amir.
Mereka sudah selesai nganggung, tetapi mereka tidak pulang dulu. Mereka membantu membersihkan masjid. Setelah membersihkan masjid mereka pulang. “Jang kami pamit pulang dulu ya,” pamit Amir dan Rahman.
“Iya,” kata Bujang.
Mereka pulang, begitu juga Bujang dan bak. Bujang merasa senang karena bisa memperkenalkan tradisi nganggung kepada teman-teman. Bujang berharap tradisi ini tidak akan hilang sampai anak cucunya. Selain mempererat tali silaturahmi, nganggung juga membuat kita suka berbagi. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.












