Oleh : Faza Abdu Robbi (Siswa SDN 27 Mendobarat)
Di pesisir Pantai Tanjung Raya, di mana bau garam menyatu dengan aroma kayu yang dibakar, hiduplah seorang lelaki tua akrab yang disapa Atok Dulah. Ditengah gempuran kapal-kapal bermotor yang berbahan fiber yang mulai mendominasi pelabuhan, Atok Dulah tetap setia dengan kapak, serutan kayu, dan ketelitian tangannya untuk membuat sampan kayu tradisional. Bagi warga pesisir, sampan kayu bukan sekadar alat tranportasi, tapi jembatan antara manusia dengan laut yang telah menghidupi mereka berabad-abad.
Faza, seorang siswa sekolah dasar yang duduk di kelas lima sekaligus cucu Atok Dulah, datang berkunjung di musim liburan. Berniat mendokumentasikan pekerjaan kakeknya sebagai kenangan saat liburan. Saat melihat Atok Dulah berkutat dengan kayu meranti yang besar, Faza merasa ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada estetika bangunan.
“Mengapa Atok masih bertahan membuat sampan manual?” tanya Faza suatu pagi, saat matahari baru saja mengintip dari ufuk timur.
“Sekarang orang-orang ingin cepat. Kapal fiber lebih ringan, mesinnya lebih kuat, dan pengerjaannya jauh lebih singkat daripada memahat kayu berbulan-bulan,” tambah Atok Dulah lagi.
Atok Dulah berhenti sejenak, mengusap debu kayu di lengannya yang legam.
“Faza, sampan kayu ini punya jiwa. la tumbuh dari bumi dan kembali ke air. Kapal fiber mungkin cepat, tapi sampan kayu mengajarkan kita tentang keseimbangan, membuatnya adalah tentang menghargai pemberian alam. Kau tidak bisa terburu-buru dengan kayu, atau ia akan pecah. Kau harus mendengarkan syaratnya.
Selama dua minggu berikutnya, Faza memutuskan meletakkan kameranya dan ikut membantu. la belajar bahwa membangun sampan dimulai dari pemilihan kayu yang tepat, kayu yang harus diizinkan oleh hutan untuk diambil. Atok Dulah mengajarinya cara membakar bagian bawah lambung sampan kayu agar melengkung sempurna, sebuah teknik kuno yang mengandalkan intuisi panas api dan elastisitas serat kayu.
“Di sinilah karakter kita di uji, Za!” kata Atok Dulah sambil mengawasi Faza yang mencoba menyerut pinggiran kayu.
“Sabar itu bukan cuma menunggu, tapi bekerja dengan teliti meski tanganmu lecet. kalau kau ingin hasil yang instan, kau akan kehilangan detail. Dan di laut, detail yang hilang bisa berarti nyawa.
Faza mulai merasakan perubahan dalam dirinya. Kehidupan kota seringkali membuatnya stres dan kehilangan fokus. Namun, di pesisir ini ia menemukan ketenangan. la melihat bagaimana para nelayan tua memperlakukan sampan mereka seperti sahabat. Memandikannya, mengecatnya dengan warna-warna cerah sebagai simbol harapan dan membisikan doa sebelum melaut.
Kreativitas Faza pun terpantik. la tidak ingin seni pembuatan sampan ini mati ditelan zaman. la mulai merancang desain sampan yang tetap mempertahankan teknik tradisional Atok Dulah, dengan sedikit modifikasi pada bentuk lambung sampan untuk meningkatkan stabilitas. Serta menggunakan pewarna alami ekstrak tumbuhan pesisir agar tetap ramah lingkungan.
la juga menyadari bahwa apresiasi seni budaya bukan berarti menolak teknologi. la menggunakan media sosialnya untuk menceritakan filosofi “nyanyian kayu”. Ia menjelaskan bahwa setiap lengkungan sampan adalah ketangguhan seorang pelaut yang tidak pernah takut menghadapi badai. Sampan adalah simbol kemandirian, di buat bumi sendiri, oleh tangan sendiri, untuk memberi makan keluarga sendiri.
Puncaknya saat sampan mereka itu selesai, saat sampan itu pertama kalinya menyentuh air, ada rasa haru yang menjalar di dada Faza. la melihat atok tersenyum puas, sampan itu meluncur anggun, membelah ombak dengan ritme yang tenang.
“Sekarang, aku mengerti, Tok!” bisik Faza. “Budaya sampan ini bukan soal ketinggalan zaman. Ini soal bagaimana menjaga jati diri. Kalau kita lupa cara membuat sampan, kita juga akan kehilangan cara untuk bersabar dan menghargai alam.”
Faza pulang ke kota bukan hanya membawa letih liburan. Tetapi membawa semangat baru dan ilmu yang didapatkan. la berjanji akan terus menyuarakan budaya pesisir, di bawah langit senja Pantai Tanjung Raya, sampan-sampan itu tetap berjajar, menjadi saksi bahwa karakter bangsa yang kuat lahir dari tangan-tangan kreatif yang tidak pernah melupakan akarnya. Betapa pun jauh ombak membawa mereka pergi. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.
