Oleh: Syamsul Bahri
(Kepala MTs Al-Hidayah Toboali)
Untuk membuktikan kualitas seseorang terkadang harus ditempah dengan berbagai kompetisi. Kompetisi yang diikuti tentunya harus yang bersifat positif dan benar-benar dapat mengembangkan potensi yang dimiliki seseorang. Sebuah kompetisi tentunya juga akan membuat semua orang menjadi lebih baik lagi, karena dengan adanya kompetisi akan melecut semangat untuk bisa berprestasi dan menunjukkan jati diri.

Banyak nilai positif yang didapat dari sebuah kompetisi. Lalu berbagai macam kompetisi bisa diikuti, baik oleh masyarakat umum maupun oleh siswa di sebuah lembaga pendidikan. Kompetisi itu terkadang bisa diikuti oleh semua instansi ataupun hanya dikhususkan untuk sebuah instansi. Misalnya ada sebuah kompetisi yang hanya boleh diikuti oleh kelompok atau golongan tertentu saja atau ada sebuah kompetisi yang boleh diikuti oleh semua kelompok atau golongan.
Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) hadir sebagai salah satu kompetisi yang diadakan untuk siswa madrasah. Di tahun 2025 ini untuk pertama kali OMI dilaksanakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. OMI menjadi wadah bagi siswa madrasah untuk mengasah kemampuan sains, riset, dan nilai-nilai keislaman dalam suasana kompetisi yang sehat.

OMI merupakan hasil penggabungan dua event besar sebelumnya yang juga dilaksanakan oleh Kementerian Agama Republik Indoensia, yaitu Kompetisi Sains Madrasah (KSM) dan Madrasah Young Researchers Supercamp (MYRES), sehingga kini keduanya diintegrasikan menjadi satu platform agar tercipta budaya belajar yang kompetitif, kolaboratif, dan inovatif, sekaligus memperkuat karakter intelektual dan spiritual generasi muda. (kamimadrasah.com).
Dalam penyelenggaraan perdananya, OMI 2025 mengusung tema “Islam dan Teknologi Digital: Inovasi Sains Untuk Generasi Indonesia Maju dan Berdaya Saing Global”. Tema ini mempunyai makna dan harapan agar seluruh potensi diri yang dimiliki para siswa dapat dijadikan inovasi dan menghasilkan prestasi melalui ruang kompetisi yang menjunjung tinggi kejujuran dan integritas sehingga mampu membawa madrasah semakin mendunia.
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Nyayu Khodijah menjelaskan bahwa OMI dilaksanakan sebagai upaya dalam menyediakan ruang kompetisi dan kolaborasi bagi siswa untuk mengembangkan potensi bakat dan minat, kecakapan dan keahlian yang dimiliki para siswa di bidang sains dan riset.
Peserta yang boleh mengikuti OMI 2025 berasal dari madrasah dan sekolah umum, dengan ketentuan MI/SD kelas 5–6, MTs/SMP kelas 8–9, MA/SMA kelas 11–12, warga negara Indonesia, siswa aktif dengan NISN aktif, dan hanya boleh mengikuti 1 bidang lomba. Selanjutnya bidang lomba yang dilaksanakan adalah MI/SD Matematika, dan IPAS, MTs/SMP Matematika, IPA Terpadu, dan IPS Terpadu, serta MA/SMA Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Ekonomi, dan Geografi.
Dikarenakan ini pelaksanaan pertama kali, dari pengamatan penulis masih perlu ada inovasi dan perbaikan tata kelola lomba, seperti perbaikan dalam jadwal
pelaksanaan yang beberapa kali mengalami perubahan, dan penggunaan aplikasi yang juga berubah, serta penentuan titik lokasi (tilok) yang hanya satu lokasi dianggap sebagian lembaga sangat merepotkan, apalagi untuk daerah terpencil, sehingga perlu kajian lebih mendalam lagi terkait penentuan titik lokasi lomba agar peserta yang mengikuti tidak terkendala biaya, waktu, akomodasi, transpostasi, dan konsumsi. Atau bisa saja disamakan seperti pelaksanaan kompetisi sebelumnya (baca: KSM) yang pelaksanaan lombanya bisa di lembaga masing-masing dengan pengawasan ketat dari pihak terkait..
Namun dibalik perlunya perbaikan-perbaikan di atas, penulis juga melihat ada poin positifnya untuk pelaksanaan OMI tahun 2025 ini. Poin tersebut adalah pelibatan sekolah umum dalam OMI ini menandakan bahwa kejuaraan ini bukan bermaksud menjadikan siswa madrasah jago dalam komunitasnya saja. Adanya sekolah umum yang terlibat diharapkan menjadi cambuk semangat bagi siswa madrasah untuk membuktikan bahwa mereka juga mampu bersaing bukan hanya dengan teman-temannya sesama siswa madrasah.
Jadi, Olimpiade Madrasah Indonesia 2025 bukan sekadar lomba akademik, melainkan ajang pembentukan karakter, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan promosi nilai-nilai keislaman di tengah kemajuan teknologi. Dengan mengikuti OMI, siswa madrasah memiliki kesempatan besar untuk mengukir prestasi di tingkat nasional dan internasional. Dengan OMI siswa madrasah juga bisa membuktikan bahwa mereka “jagoan” dalam segala bidang, bukan hanya di bidang keagamaan. Dan juga siswa madrasah bisa menunjukkan “taji” mereka untuk bersaing dan berkompetisi dengan siswa-siswa lain di luar madrasah.
Tentunya harapan kita, kompetisi ini dapat dijalankan dengan penuh sportifitas dan menjunjung tinggi nilai fair play sehingga prestasi yang didapatkan benar-benar dapat dibanggakan. Selamat berkompetisi siswa-siswa hebat.












