Oleh: Putri Aanisah Rizky (Siswa SDN 1 Koba)
Aku Putri, siswi SD Negeri 1 Koba. Pada hari itu, pagi menjelang siang, aku berdiri di halaman rumahku. Aku menatap langit Kota Koba tempat tinggalku, hari itu tampak berbeda. Biru yang biasanya menenangkan kini terlihat pucat, seolah memberi arti bahwa akan terjadi sesuatu. Tidak lama kemudian suara gemuruh petir ikut menggelegar tetapi matahari masih bersinar mengeluarkan cahaya lebih terik dari hari biasanya, matahari menyengat kulit tanpa ampun padahal hari belum begitu siang. Tiba-tiba aku merasakan tetesan air jatuh dari atas langit sedangkan cuaca masih panas, ternyata hujan turun dan aku bergegas berlari duduk di teras rumah.
“Kenapa panas sekali ya, Bu. Padahal hari hujan!” Tanyaku kepada Ibu yang saat itu usai mengangkat jemuran.
Ibu menghela napas Panjang. “Karena ozon semakin menipis, lapisan pelindung bumi rusak. Jadi, matahari masuk lebih banyak. Nak, bumi sedang tidak baik-baik saja.”
Aku belum sepenuhnya mengerti, tapi aku bisa merasakan perubahan itu. Aku mencium aroma bau tanah yang tersiram air hujan bagaikan bau sate kambing yang terbakar. Dulu, aku bisa bermain di luar sepanjang hari tanpa merasa terbakar, sekarang baru beberapa menit saja kulitku sudah terasa perih.
Keesokan harinya di sekolah, ketika pelajaran IPAS, Bu Guru di kelas menjelaskan tentang ozon. Ozon adalah lapisan pelindung bumi yang berada jauh di atas langit, lapisan ini seperti payung besar yang melindungi kita dari sinar matahari berbahaya. Namun, lapisan ozon bisa menipis dan berlubang akibat gas berbahaya yang ditimbulkan manusia akibat penggunaan kulkas, AC, polusi udara dari industri dan kendaraan. Apabila lapisan ozon rusak, kita bisa terkena sinar matahari yang berbahaya.
“Jika kita tidak menjaga bumi,” Kata Bu Guru dengan serius. “Maka bumi akan semakin rusak dan terus menangis.” Ozon terus menipis, sehingga bumi dan makhluk hidup jadi lebih rentan terhadap bahaya dari matahari. Dampaknya bisa serius dapat menyebabkan risiko penyakit kulit, mata bisa rusak, tanaman dan hasil pertanian terganggu, ekosistem laut ikut rusak, suhu bumi menjadi tidak stabil.
Sepulang sekolah aku berbincang dengan Ibu.
“Bu, tadi di sekolah aku belajar mengenai lapisan ozon. Apa yang dikatakan Ibu ternyata benar, sama seperti yang dijelaskan Bu Guru.” Kataku sambil meletakkan tas.
Ibu tersenyum tipis, lalu mengusap kepalaku yang masih sedikit lembap oleh keringat “Iya, Nak. Ibu tidak pernah mengarang soal itu, bumi kita memang sedang butuh di jaga.
Aku duduk di samping Ibu. “Kata Bu Guru kalau kita tidak berubah bumi akan semakin rusak.” Tapi… aku masih bingung, aku kan cuma anak kecil. Apa yang bisa aku lakukan?”
Ibu terdiam sejenak, lalu mengambil segelas air dan memberikannya kepadaku “Perubahan besar itu dimulai dari hal-hal kecil,” katanya pelan. “Kamu tidak harus langsung menyelamatkan seluruh dunia, cukup mulai dari dirimu sendiri.”
“Caranya seperti apa, Bu?”
“Seperti tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, atau bahkan mengajak serta teman-temanmu. Hal kecil itu kalau dilakukan banyak orang akan jadi besar.”
Aku melihat ke halaman rumahku. Cuaca masih panas terik seperti biasanya, aku jadi teringat kata-kata Bu Guru. Bumi akan terus menangis
“Bu…!” suaraku mengecil, “Kalau bumi benar-benar menangis apakah kita masih bisa memperbaikinya?” Ibu tersenyum, tapi matanya tampak sendu. “Selama manusia mau berubah, selalu ada harapan.”
Malam harinya aku tidak bisa langsung tidur, aku memikirkan matahari yang terasa semakin menyengat, hujan yang tak lagi sejuk, dan cerita tentang ozon yang seperti payung besar tapi mulai berlubang. Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku. Ketika mulai terlelap, aku bermimpi aneh, aku melihat bumi seperti seorang Ibu yang menangis dan begitu lelah. Wajahnya pucat, dipenuhi luka dan asap hitam, air mata mengalir dari matanya.
“Putri…Aku sakit…!” suara itu lembut namun penuh kesedihan. Bisik bumi lirih. “Mengapa kalian menyakitiku? Tolong jaga aku!”
Aku terbangun dengan napas tersengal dan hati gelisah. Dadaku terasa sesak, bukan karena panas tapi karena rasa bersalah, aku tersadar bumi sedang tidak baik-baik saja. Perkataan Bu Guru kemarin terdengar masuk akal, kita harus menjaga bumi.
Keesokan harinya aku menceritakan apa yang menjadi keresahanku kepada Ayah, Ibu, dan Bu Guru. Ayah dan Ibu memutuskan untuk membuat perubahan dengan melakukan aksi kecil yang dimulai dari rumah, mengurangi penggunaan plastik dan menanam pohon di halaman rumah sebagai bentuk menjaga lingkungan bumi.
Kagum dengan aksi yang ku lakukan di rumah, Bu Guru akhirnya mengadakan proyek “Bahagia bumiku”. Seluruh siswa-siswi kelas 5 wajib membawa satu bibit tanaman pohon bakau untuk pembelajaran IPAS selanjutnya.
Hari itupun tiba, aku dan teman-teman sangat bersemangat pada pembelajaran IPAS kali ini. Memulai aksi kecil dalam menjaga bumi, aku bersama teman sekelas yang dibimbing langsung oleh Bu Guru belajar cara menanam pohon bakau di alam terbuka yang sejuk dan asri. Di tepi muara Sungai Berok, di belakang SD Negeri 1 Koba. Tawa dan kebersamaan membuat kegiatan ini terasa begitu menyenangkan. Setelah selesai aku terdiam di depan pohon yang baru saja kami tanam, semoga apa yang aku dan teman-teman lakukan dapat membawa dampak baik bagi bumi dan menjadi awal perubahan kecil yang berarti. Aku belajar, menjaga bumi tidak harus menunggu menjadi pahlawan super, cukup dilakukan bersama-sama dengan mencintai lingkungan dapat membawa perubahan besar bagi bumi.
“Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau ada hari ini, mengapa menunggu besok?” batinku dalam hati. (BP/ KM)
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.*
