Karya: Cinta Cintya (Siswa SDN 7 Pangkalanbaru)
Namaku Rani aku adalah seorang siswa kelas 2 dan hampir naik kelas 3. Aku sekolah di SDN 7 Pangkalanbaru. Setiap hari aku pergi ke sekolah diantar ibu kadang ketika ibu tidak sempat aku berjalan kaki.
Suatu hari saat di sekolah ada temanku bertanya, “Rani kamu selalu terlihat bahagia,” kata sahabatku Lila, dia adalah teman baikku.
Aku menjawabnya dengan hanya tersenyum. Sebenarnya ada seseorang yang selalu mendukungku, merawatku, dan menjagaku. Orang itu adalah ibuku. Bagiku ibuku adalah pahlawan terbaikku.
“Jadi itu yang membuatmu selalu bahagia,” kata Lila.
Aku menjawab, “ya” sambil tersenyum. Ketika sepulang sekolah aku pun pulang ke rumah. Sesampainya aku di rumah aku mengganti baju dan menuju meja makan untuk makan siang.
Aku melihat ibu sedang menyiapkan makanan, sambil menunggu ibu aku pun membantu ibu menyiapkan makanan. Menu makan siang hari ini sop makanan kesukaanku. Aku dan ibu makan. Setelah makan aku menuju ke kamar untuk mengerjakan tugas sekolah.
Aku merasa kesulitan mengerjakan soal tersebut. Ibu melihat aku yang sedang merasa kesulitan. Ibu masuk ke kamar dan berkata, “Kamu kenapa Rani?” Tanya ibu. “Ibu, aku tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan oleh guru,” kataku sambil bersedih.
“Coba lagi pelan-pelan, ibu yakin kamu pasti bisa!”
Aku mencoba lagi dan lagi, akhirnya aku bisa mengerjakan soal itu. Aku menoleh ke ibu dan berkata, “Terima kasih ibu!” Ucapku sambil tersenyum.
Ibu membalas senyumku dengan senyum hangat, “Senyummu adalah kebahagian ibu!”
Keesokan harinya seperti biasa ibu sudah bangun sebelum matahari terbit, ibu menyiapkan sarapan untuk keluarga kami.
Kadang aku masih merasa mengantuk ketika ibu memanggilku.
“Rani, bangun sayang!” kata ibu dengan suara lembut.
Aku membuka mata perlahan dan melihat ibu tersenyum, senyum ibu selalu membuatku merasa hangat.
Setelah menyiapkan sarapan, ibu membantuku menyiapkan seragam sekolahku. Ia menyisir rambutku dengan rapi, dan menyiapkan bekal makan siang.
“Belajarlah dengan rajin ya!” pesan ibu setiap hari.
Setelah aku berangkat ke sekolah ibu tidak langsung beristirahat ia masih harus bekerja. Ibu bekerja dekat pasar tidak jauh dari rumah. Ibu menjual sayur dan buah untuk membantu kebutuhan keluarga.
Pekerjaan ibu tidak mudah, ia harus berdiri lama, melayani pembeli, dan mengangkat barang-barang yang cukup berat. Namun ibu melakukannya dengan sabar.
Sepulang sekolah aku pergi ke pasar untuk menjemput ibu. Aku melihat ibu sedang melayani pembeli dengan ramah.
“Dipilih bu sayurnya masih segar!” kata ibu sambil tersenyum.
Melihat ibu bekerja keras membuatku merasa terharu, walaupun lelah ibu tetap tersenyum kepada semua orang.
Ketika kami berjalan pulang aku bertanya, “ibu, apakah ibu tidak lelah bekerja setiap hari?” Ibu tersenyum dan mengusap kepalaku.
“Tentu ibu lelah Rani tapi ibu senang bisa bekerja agar kamu bisa bersekolah dengan baik,” ucap ibu.
Aku terdiam sejenak, setelah dari itu aku menyadari bahwa sangat besar pengorbanan seorang ibu.
Aku pun tidur karena besok sekolah. Keesokan harinya seperti biasa aku harus pergi ke sekolah. Aku pergi ke sekolah diantar ibu. Setelah sampai di sekolah aku pergi ke kelas dan aku membaca buku sambil menunggu lonceng berbunyi.
Tidak lama kemudian lonceng pun berbunyi. Semua siswa di luar harus masuk ke kelas karena jam pelajaran sudah dimulai. Tidak lama kemudian guru kami datang. Guru kami berkata, “sebelum kita memulai pelajaran hari ini ada baiknya kita berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai!”
Kami berdoa sesuai kepercayaan masing-masing.
Setelah kami berdoa guru kami bertanya, “siapa pahlawan dalam hidup kalian?”
Teman-temanku menjawab nama pahlawan terkenal, ada yang menyebut nama pahlawan kemerdekaan dan ada juga yang menyebut nama tokoh besar.
Sekarang giliranku menjawab, aku menjawab pahlawan dalam hidupku adalah ibuku. Teman-temanku terlihat penasaran, aku menceritakan tentang ibuku yang selalu mendukungku, merawat, dan menjagaku.
Guruku tersenyum bangga, “Rani benar, pahlawan tidak selalu mendapatkan penghargaan. Orang tua yang berjuang untuk keluarganya pun pahlawan.”
Tidak lama kemudian bel pulang berbunyi. Aku pulang dan mengganti bajuku.
Setelah aku mengganti baju aku menuju pasar untuk membantu ibu bekerja. Aku membantu ibu mengangkat barang-barang dan melayani pembeli.
Ketika hampir sore kami segera pulang. Sesampainya kami di rumah aku berkata kepada ibu, “ibu, malam ini aku mau tidur bersama ibu.”
Ibu menjawab, “ya malam ini kita akan tidur bersama!”
Tidak lama kemudian sudah malam aku dan ibu tidur bersama. Aku berkata kepada ibu. “Ibu aku ingin ibu membacakan dongeng untukku!”
“Baiklah ibu akan membacakan dongeng untuk Rani.”
Tidak lama kemudian aku tidur setelah mendengar ibu bercerita.
Keesokan harinya di hari Minggu aku membantu ibu berkerja. Ketika sudah sore kami beres-beres karena sebentar lagi sudah malam. Aku berkata kepada ibu, “ibu adalah pahlawan terbaikku, aku sangat menyayangi ibu.”
Ibu berkata Rani adalah pahlawan kecil ibu dan ibu sangat menyayangi pahlawan kecil ibu.
“Ibu, aku sangat senang memiliki pahlawan sekaligus ibu terbaik”. Bagi ibu, Rani adalah anak terbaik.”
Aku sangat sayang ibu dan ibu sangat sayang Rani. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru Tahun 2026 Cabang Menulis Cerita.
