Pahlawan Kecil Penyelamat Bumi

Oplus_131072

Oleh : Azka Shaqil Al Kaisar (Siswa SDN 22 Mendobarat)

 

Di pagi yang cerah saya sedang berjalan-jalan di sebuah taman sembari berkeliling. Saat sedang berkeliling, saya tidak sengaja menginjak sesuatu saat melihat ke bawah, ternyata ada sampah plastik. Saya langsung mengambil sampah plastik itu dan membuangnya ke tempat sampah, lalu saya lanjut berjalan. Saat sedang berjalan Roziq berkata, “Teman-teman, mengapa sekarang taman ini ada sampah yang berserakan?”

Saya menjawab, “Iya, tadi aku baru saja menginjak sampah plastik.”

Saat sedang berbicara tiba-tiba Amar berteriak, “Hei teman-teman, lihat ada kantung sampah plastik yang berisi banyak sampah yang berair!”

Kami pun langsung berlari. “Di mana?” Amar menunjuk ke arah tanah lalu Roziq langsung mengambil sampah itu dan membuangnya ke tempat sampah ternyata di bawah itu ada banyak belatung. Alangkah terkejutnya kami. Kami teringat masa pertama kali taman itu dibuat, dulu taman itu sangat indah dan bagus. Sekarang sudah menjadi tidak bagus untuk bermain. Kami sepakat besok untuk gotong royong di taman tersebut.

Saat sedang pulang ke rumah menggunakan sepeda tiba-tiba Roziq terjatuh dari sepeda karena ada sampah plastik yang menghalangi ternyata bukan hanya taman itu saja yang kotor ternyata sekitar di luar taman juga kotor. Amar tiba-tiba berkata, “Besok kita sekalian saja membersihkan sekitar luar taman, bagaimana?”

Kami setuju lalu kami lanjut pulang ke rumah. Setibanya saya di rumah, saya berbicara dan meminta izin kepada Ibu bahwa besok pagi kami gotong royong di taman dan di luar taman. Ibu heran dan berkata, “memangnya taman itu kotor?”

“lya bu, taman itu sangat kotor.”

Lalu Ibu menyuruhku untuk tidur siang, aku pun berkata, “baik bu!”

Aku pun pergi ke kamar mandi untuk cuci kaki dan tangan lalu pergi tidur. Saat tidur aku bermimpi. Di dalam taman itu aku heran dan langsung memutari taman. Saat sedang memutari taman itu tiba-tiba aku tidak sengaja menginjak sebuah daun yang mati. Aku langsung mengambil daun tersebut. Tiba-tiba daun itu memutar tubuhnya dan tiba-tiba daun berkata, “Tolong!”

Aku pun terkejut dan melempar daun itu. Ternyata tidak hanya ada satu melainkan ada banyak tanaman berbicara. Tiba-tiba ada akar yang menjepit tubuh dengan erat, ternyata ada sebuah pohon yang sangat rapuh. Pohon berkata dengan marah, “Mengapa kau melempar daun yang malang itu?”

Awalnya aku ragu menjawab lalu aku memberanikan diri untuk menjawab, “Aku terkejut karena tiba-tiba daun itu bisa berbicara.”

Pohon itu berkata lagi, “Baiklah karena kau jujur akan kumaafkan tapi jangan ulangi lagi!”

la melepaskan aku dari akar yang menjepit. Aku langsung melepas lega, tiba-tiba aku langsung berkata, “Kenapa kalian bisa berbicara?”

Pohon itu menjawab, “Tentu saja lagi pula ini adalah dunia mimpi.”

Aku terbangun dari mimpiku. Aku langsung melihat jam ternyata sudah 17:59. Aku buru-buru mandi lalu salat magrib. Sesudah salat magrib, aku lanjutkan untuk belajar karena besok, Senin aku harus ujian.

Sesudah belajar aku menunggu azan isya berkumandang. Lalu azan berkumandang aku segera ke masjid untuk salat. Sesudah salat aku pulang ke rumah untuk segera tidur karena aku harus datang pagi. Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar dan tidur. Saat tidur aku bermimpi lagi, kali ini aku bermimpi di luar angkasa. Di sana aku melihat bumi yang sedih karena manusia telah membuat hal yang buruk seperti pembakaran hutan dan limbah di sungai. Aku menuju ke bumi dan bertanya, “Ada denganmu?”

“Aku sangat sedih karena perbuatan manusia kepadaku,” jawab bumi.

Aku ikut sedih, aku bangun dari tidurku. Aku melihat jam sekarang sudah pukul 05:00. Aku pergi ke kamar mandi setelah mandi aku pergi ke kamar untuk mengambil baju dan tas. Aku sarapan telur dan nasi. Setelah sarapan aku memakai kaos kaki dan sepatu lalu aku berpamitan kepada Ibu. Aku berangkat menggunakan sepeda motor yang diantar oleh ayahku. Setiba di sekolah aku berpamitan dengan ayah lalu pergi ke kelas. Aku duduk di bangku kelas. Setelah itu, bapak guru datang membawa kertas ujian, lalu ketua kelas memberikan salam serta siswa juga ikut mengucapkan salam. setelah itu bapak membagi lembar kertas ujian satu persatu. Aku mengerjakan soal-soal tersebut dengan teliti. Aku selesai mengerjakan soal tersebut lalu aku dipersilakan pulang.

Aku pulang dan bersalaman pada bapak guruku. Setelah salaman aku pulang. Sesampainya di rumah aku segera salaman kepada ibuku lalu aku membuka sepatu dan kaos kaki. Setelah itu aku segera mencuci kaki lalu aku makan. Setelah makan aku segera mengambil sapu lidi dan sekop. Aku memanggil Amar dan Roziq. Setelah memanggil keduanya, kami langsung pergi ke taman untuk gotong royong. Kami kekurangan 3 orang lagi untuk gotong royong di taman dan di luar taman. Tiba-tiba Iqbal, Macheal dan Ilham datang dan bertanya, “Kalian kenapa?”

Kami pun menjawab, “Kalian mau tidak ikut gotong royong, ini demi kebaikan bumi kita dan taman ini.”

Mereka setuju lalu berbagi tugas. Amar sama Roziq gotong royong di taman. Iqbal, Macheal dan Ilham di luar taman. Kami sepakat lalu kami mulai gotong royong

Kami membersihkan taman itu dengan semangat. Awalnya banyak orang yang ikut bersih-bersih di luar taman yang membantu, lama-kelamaan banyak yang ikut membantu kami. Kami sangat senang lalu pemilik taman juga ikut turun tangan dan menyuruh petugas kebersihan untuk ikut gotong royong.

Mereka langsung tersadar karena apa yang mereka lakukan. Pemilik taman langsung meminta maaf kepada seluruh warga taman/ pengunjung taman lalu mereka menyebut kami sebagai pahlawan karena tanpa kami taman tidak akan kembali menjadi indah. Begitulah seperti kata pepatah, “kekuatan kecil apabila di gabungkan akan menjadi kekuatan”, seperti itu lah cerita Pahlawan Kecil Penyelamat Bumi. (BP / KM)*

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.

Exit mobile version