Oleh : Adiba Sakila Atmarini (SDN 26 Mendobarat)
Sejak kecil, aku selalu mengira pahlawan adalah orang-orang hebat yang namanya tertulis di buku sejarah. Mereka berjuang melawan penjajah, memimpin pertempuran, dan dikenang sepanjang masa. Di kelas, aku sering melihat gambar-gambar pahlawan nasional yang gagah dan berani. Dalam pikiranku, pahlawan pasti kuat, terkenal dan dikagumi banyak orang. Namun semua itu berubah ketika aku menyadari bahwa pahlawan tidak selalu berdiri di medan perang. Namaku Adiba. Aku duduk di kelas empat SD. Aku tinggal di sebuah desa kecil yang sejuk di pagi hari dan ramai oleh suara anak-anak sepulang sekolah.
Di sekolahku, setiap bulan November selalu diadakan lomba menulis cerita tentang pahlawan.
“Tahun ini kalian boleh menulis cerita tentang pahlawan di sekitar kalian,” kata Bu Ayu, Wali kelasku suatu pagi.
“Tidak harus tokoh terkenal, bisa siapa saja yang kalian anggap berjasa.”
Aku langsung terdiam, pahlawan di sekitarku? Siapa?
Sepulang sekolah, aku berjalan bersama sahabatku Dimas.
“Kamu mau nulis tentang siapa?” tanyaku. “Aku mau nulis tentang tentara, soalnya mereka berani menjaga negara,” jawab Dimas mantap.
Aku mengangguk itu memang pilihan yang bagus, tapi entah mengapa hatiku belum merasa yakin. Sore itu aku melihat ibu sedang duduk di ruang tamu sambil memeriksa buku-buku tugas murid. Ibu adalah seorang guru di sekolah lain.
Setiap hari, ibu berangkat pagi dan sering pulang menjelang magrib.
“Ibu belum selesai?” tanyaku kepada ibu. Ibu tersenyum. “Masih ada beberapa buku lagi yang harus di periksa, besok mau dibagikan.”
Aku memperhatikan wajah Ibu yang terlihat lelah. Tetapi tetap sabar, tangannya terus bergerak sambil memberi tanda centang dan menulis komentar-komentar kecil di bawah jawaban murid-muridnya.
“Ibu gak capek?” tanyaku lagi.
“Capek itu biasa.” jawabnya sangat lembut. “Yang penting anak-anak bisa belajar dengan baik.”
Malam itu aku memandangi ibu dari kejauhan. Tiba-tiba muncul pertanyaan di dalam hatiku: apakah ibu juga seorang pahlawan?
Keesokan harinya di sekolah, hujan turun deras sejak pagi. Halaman sekolah becek dan beberapa siswa datang dengan pakaian yang basah. Saat istirahat, aku melihat Pak Rudi, sang penjaga sekolah kami sedang sibuk menyapu air yang masuk ke teras kelas. Pak Rudi sudah bekerja di sekolah itu sejak aku kelas satu. Setiap hari, Pak Rudi selalu berangkat paling pagi dan pulang paling akhir. Kadang aku melihatnya memperbaiki kursi rusak atau mengecat dinding tanpa diminta. Siang itu ketika hujan belum reda, seorang siswa kelas satu terjatuh di dekat gerbang. Pak Rudi segera berlari membantunya, mengangkatnya dengan hati-hati, dan membersihkan lukanya di ruang UKS. Pak Rudi tidak memakai seragam keren atau mendapat penghargaan di panggung. Namun ia selalu ada saat dibutuhkan. Sepulang sekolah pikiranku semakin penuh: siapa sebenarnya pahlawan itu?
Beberapa hari kemudian, aku mengalami kejadian yang membuatku semakin berpikir.
Ayahku bekerja sebagai sopir angkot. Setiap hari, ayah selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika langit mulai gelap. Suatu malam hujan turun deras mengguyur desa kami. Jalanan licin dan beberapa pohon tumbang. Aku dan ibu cemas karena ayah belum pulang. Tak lama kemudian terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah. Ayah masuk dengan pakaian yang basah kuyup.
“Ayah lama sekali!” kataku sangat khawatir. Ayah hanya tersenyum tipis.
“Tadi ada penumpang ibu-ibu yang rumahnya jauh di ujung desa, jalanannya pun banjir, jadi ayah antar sampai di dekat rumahnya.”
“Padahal hujannya turun deras,” kata ibu pelan.
Ayah hanya mengangguk. “Kalau bukan ayah yang bantu, siapa lagi?” kalimat itu langsung membuatku terdiam.
Malam itu aku duduk di meja belajar dengan kertas kosong yang ada di hadapanku. Lomba menulis cerita tinggal dua hari lagi. Aku menatap judul yang sudah ku tulis: Aku dan Pahlawanku. Tapi siapa pahlawanku? Tiba tiba aku teringat satu per satu wajah yang sudah kulihat beberapa hari ini. Ibu yang memeriksa buku hingga larut malam, Pak Rudi yang menyapu air tanpa mengeluh, ayah yang mengantar penumpang meski jalanan berbahaya. Mereka tidak terkenal, tidak ada patung atau foto mereka di buku pelajaran. Namun mereka membuat hal-hal kecil yang berarti banyak orang. Keesokan harinya bu Ayu bertanya.
“Sudah dapat ide?”
Aku mengangguk pelan, “Sudah bu.”
“Siapa pahlawanmu?” tanya beliau sambil tersenyum.
Aku menjawab dengan yakin. “Orang-orang yang selalu pulang paling akhir, Bu.”
Bu Ayu terlihat penasaran, tapi ia tidak bertanya lebih jauh.
Aku mulai menulis dengan hati yang hangat. Aku menulis tentang ibu yang sabar membimbing murid-muridnya, tentang Pak Rudi yang menjaga sekolah seperti rumahnya sendiri, dan tentang ayah yang tetap bekerja keras meski hujan dan lelah. Dalam tulisanku, aku menggambarkan bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang di masa lalu. Tetapi juga mereka yang berjuang setiap hari tanpa meminta balasan.
Hari pengumpulan pun tiba. Aku menyerahkan kertas tulisanku dengan perasaan yang campur aduk. Entah menang atau tida menang. Aku sudah menemukan jawaban yang kucari.
Seminggu kemudian, hasil lomba diumumkan di aula sekolah. Aku duduk bersama Dimas dan teman-teman yang lain. Jantungku berdebar ketika bu Ayu mulai membacakan pemenangnya.
“Juara ke satu diraih oleh Adiba dengan judul yang tertulis: Pahlawan yang Selalu Pulang Paling Akhir.”
Aku terkejut. Dimas menepuk pundakku dengan gembira. Aku ke depan untuk menerima piagam kecil dan sebuah buku tulis baru. Namun yang lebih membuatku bahagia bukanlah hadiahnya.
Saat pulang aku memperlihatkan piagam itu ke ayah dan ibu. Ibu membacanya pelan. Lalu tersenyum haru. Ayah menepuk pundakku dengan perasaan sangat bangga. Aku menggeleng.
“Bukan cuma Ibu dan Ayah, tapi masih banyak lagi pahlawan yang ada di sekitar kita, kadang kita saja yang tidak menyadarinya.”
Malam itu aku duduk di teras rumah sambil memandang langit yang dipenuhi bintang. Angin berhembus lembut dengan membawa aroma tanah setelah hujan. Sekarang aku mengerti bahwa pahlawan tidak harus dikenal banyak orang. Pahlawan adalah orang-orang yang tetap berbuat baik, meski tidak ada yang melihat. Mereka yang rela lelah demi orang lain. Mereka yang lebih memilih membantu daripada diam. Dan pahlawanku bukan hanya sosok jauh yang ada di buku sejarah. Pahlawanku ada di rumah, ada di sekolah, dan juga ada di jalan yang kulalui setiap hari. Mereka mungkin tidak memakai jubah atau medali emas. Tapi bagi orang yang mereka tolong, mereka adalah cahaya kecil yang membuat hidup mereka terasa lebih hangat. Kini setiap kali aku melihat ayah yang berangkat kerja pagi-pagi atau ibu yang memeriksa buku hingga larut malam, Aku tidak lagi menganggap itu hal biasa lagi. Karena di balik langkah sederhana mereka ada keberanian dan ketulusan yang pantas disebut sebagai kepahlawanan. Sejak hari itu, aku tidak lagi bertanya siapa pahlawanku. Aku sudah menemukannya. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.
